
Natuna, mandalapos.co.id – Lima tahun lalu ketika usianya masih 12 tahun, Wynnie Khallifa Chusnnaawyath berdiri di antara para penyelam di bawah laut Natuna, untuk mengikuti upacara bendera memperingati HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kini di usianya yang telah 17 tahun, Wynnie kembali berdiri bersama Merah Putih. Bukan lagi di bawah permukaan laut, melainkan di lapangan upacara Pantai Piwang, Ranai, Kabupaten Natuna.
Kali ini, ia mengenakan seragam Paskibraka dan dipercaya membawa baki bendera pada upacara penurunan bendera HUT ke-81 RI tingkat Kabupaten Natuna, Senin (17/8/2026),
Wynnie lahir di Purworejo, Jawa Tengah. Ia merupakan putri pasangan Cherman dan Widiya Ningsih dan kini duduk di kelas XI SMA Negeri 001 Bunguran Timur.
Sejak kecil, Wynnie sudah akrab dengan dunia bawah laut. Ia beberapa kali mengikuti kegiatan pengibaran bendera di bawah laut bersama komunitas selam, TNI, Polri, Bakamla hingga Basarnas di perairan Natuna.
Ketika berusia 12 tahun pada 2022, ia ikut dalam pengibaran bendera bawah laut yang menjadi bagian dari pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Pengalaman itu menjadi salah satu bagian penting dalam masa kecil Wynnie. Laut bukan hanya tempat ia belajar menyelam, tetapi juga ruang tempat ia belajar mengenal keberanian, kebersamaan dan tanggung jawab.
Lima tahun berselang, tanggung jawab itu hadir dalam bentuk yang berbeda. Sebagai anggota Paskibraka Kabupaten Natuna, Wynnie dipercaya membawa baki bendera pada upacara penurunan bendera HUT ke-81 RI.
Ia mengaku tidak menyangka mendapatkan kepercayaan tersebut. Menurut Wynnie, keberhasilannya menjalankan tugas tidak lepas dari doa orang tua. Ia bersyukur seluruh rangkaian tugas sebagai Paskibraka dapat dilaksanakan dengan lancar.
Namun, pengalaman paling berkesan baginya justru bukan hanya saat berada di lapangan upacara.

Selama menjalani pemusatan pendidikan dan pelatihan, Wynnie bertemu dengan siswa dan siswi dari berbagai sekolah serta wilayah di Kabupaten Natuna. Mereka menjalani hari-hari bersama dalam suasana yang menuntut kedisiplinan dan kekompakan.
Ada pula pengalaman sederhana yang sampai sekarang masih ia ingat, termasuk ketika ia mendapat tugas membangunkan teman-temannya yang masih tidur.
Tugas yang terlihat sepele itu ternyata menjadi bagian dari proses pembentukan sikap selama menjalani pendidikan Paskibraka.
“Kami diajarkan sikap disiplin dan tanggung jawab. Ini pengalaman yang sangat berharga bagi saya,” ujar Wynnie.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Natuna, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), para pelatih dan senior yang telah membimbing mereka selama proses pendidikan dan pelatihan.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada guru dan pihak sekolah yang memberikan dukungan, serta kedua orang tuanya yang terus memberikan doa.
Bagi Cherman, melihat putrinya sukses menjalankan tugas sebagai pembawa baki menjadi kebanggaan tersendiri.
“Turut bangga, Wynnie dan rekannya sukses melaksanakan tugas. Turut bangga,” kata Cherman.
Ia mengatakan, sejak kecil Wynnie memang sudah terbiasa berada di lingkungan komunitas selam. Karena sering mengikuti kegiatan penyelaman, putrinya pun tidak canggung berinteraksi dengan orang-orang yang lebih dewasa.
“Banyak temannya justru orang dewasa, terutama Marinir, karena sering ikut kegiatan menyelam sejak SD. Mungkin itu juga cita-cita dia ingin jadi TNI AL,” ujarnya.
Cita-cita tersebut, kata Cherman, kini menjadi salah satu harapan yang ingin diwujudkan Wynnie. Ia berharap putrinya terus belajar dan berkembang hingga kelak mampu meraih apa yang diimpikannya.
“Setidaknya, ia sukses dan apa yang dicita-citakan terwujud,” kata Cherman.*
*ALFIAN




















