Di Hadapan Menteri Kehutanan, Kasmarni Tegaskan Komitmen Bengkalis Jaga Gambut dan Perkuat Restorasi

Bupati Bengkalis Kasmarni bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan jajaran saat kunjungan kerja ke Rumah Runding Restorasi di Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, Rabu (30/9/2026)

Bengkalis, mandalapos.co.id – Pemerintah Kabupaten Bengkalis menegaskan komitmennya untuk memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus menjaga dan memulihkan ekosistem gambut secara berkelanjutan.

Bupati Bengkalis Kasmarni mengatakan penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Upaya tersebut harus menyentuh persoalan yang lebih mendasar, mulai dari menjaga tata air gambut, memperkuat peran masyarakat, memperbaiki tata kelola lahan hingga memastikan kelestarian ekosistem.

Hal itu disampaikan Kasmarni saat menerima kunjungan kerja Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni bersama Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, Pangdam XIX/Tuanku Tambusai, Kapolda Riau, Danlanud Roesmin Nurjaddin, jajaran Forkopimda Riau serta Rektor Universitas Riau di Rumah Runding Restorasi, Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, Rabu (30/9/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Kasmarni memaparkan kondisi karhutla sekaligus langkah yang telah dilakukan Pemkab Bengkalis. Berdasarkan ground check per 22 September 2026, karhutla di Bengkalis tercatat mencapai 946 hektare dengan 87 titik api.

Sementara berdasarkan pemantauan citra satelit per 28 September 2026, luas indikatif karhutla mencapai 8.573,25 hektare dengan 73 titik api.

“Angka ini menjadi pengingat bagi kita bahwa karhutla tidak boleh dilihat hanya sebagai persoalan api. Ada persoalan gambut, tata air, akses, aktivitas masyarakat, hingga koordinasi dan kewenangan yang harus kita tangani secara bersama-sama,” tegas Kasmarni.

Menghadapi kondisi tersebut, Pemkab Bengkalis telah menetapkan status Siaga Darurat Karhutla, membentuk Satgas Operasi Bersama yang melibatkan TNI dan Polri, menetapkan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (RPPEG), memperkuat sarana pemadaman serta meningkatkan patroli dan koordinasi di wilayah rawan.

Pemkab Bengkalis juga memperoleh dukungan anggaran penanganan karhutla sebesar Rp15 miliar dari Pemerintah Pusat. Namun, Kasmarni menegaskan dukungan anggaran dan kekuatan pemadaman harus berjalan beriringan dengan pencegahan serta restorasi.

Menurutnya, pendekatan berbasis masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga gambut. Salah satunya melalui program Transfer Anggaran Berbasis Ekologi (TAKE) serta dukungan kepada masyarakat agar dapat membuka dan mengelola lahan dengan cara yang aman tanpa membakar.

“Gambut dapat tetap aman apabila airnya terjaga, masyarakatnya kuat, datanya tersedia, dan semua kita bekerja dalam satu arah,” ujar Kasmarni.

Rumah Runding Jadi Pusat Kolaborasi

Kasmarni juga menempatkan Rumah Runding Restorasi Tanjung Leban sebagai contoh kolaborasi dalam menjaga ekosistem gambut. Kawasan tersebut dikembangkan sebagai ruang konsolidasi, riset, edukasi dan pembelajaran restorasi, termasuk pengelolaan tata air pada lanskap sekitar 2.400 hektare.

“Rumah Runding ini harus kita rawat sebagai ruang bersama. Di sini Pemerintah, masyarakat dan akademisi dapat bertemu, berdiskusi, melakukan riset dan mencari solusi nyata untuk menjaga gambut,” jelasnya.

Menurut Kasmarni, keberhasilan restorasi tidak hanya diukur dari luas lahan yang berhasil dipulihkan, tetapi juga dari kemampuan kawasan tersebut dalam memberikan pengetahuan, membangun kesadaran dan memperkuat kapasitas masyarakat untuk menjaga lingkungan.

Pemkab Bengkalis juga berencana menjadikan dua pohon yang berada di kawasan Rumah Runding Restorasi sebagai simbol pelestarian lingkungan melalui pembangunan ikon, tugu atau spot foto.

“Kita ingin ada tanda bahwa di tempat ini kita berkomitmen bersama menjaga lingkungan. Dua pohon ini nantinya kita jadikan ikon atau spot foto sebagai simbol komitmen Pemerintah Kabupaten Bengkalis untuk terus menjaga dan melestarikan hutan mangrove,” ungkap Kasmarni.

Sejumlah pengembangan kawasan juga disiapkan, di antaranya pembangunan Tugu Bintangor di Bengkalis, gerbang masuk melalui dukungan CSR PT BBHA, jaringan listrik PLN serta peningkatan akses jalan yang akan didukung Pemerintah Provinsi Riau.

Pengembangan tersebut diharapkan memperkuat aksesibilitas dan fasilitas kawasan sekaligus menjadikan Rumah Runding Restorasi sebagai pusat edukasi, kolaborasi dan pembelajaran lingkungan.

Perkuat Sinergi

Dalam kesempatan tersebut, Kasmarni menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas dukungan dalam penanganan karhutla di Kabupaten Bengkalis, termasuk dukungan anggaran melalui BPBD Kabupaten Bengkalis.

Apresiasi juga disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Riau, TNI-Polri, Badan Restorasi Gambut, tim ahli dan akademisi, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, Masyarakat Peduli Gambut, pihak swasta serta seluruh unsur yang selama ini terlibat dalam pencegahan dan penanganan karhutla.

“Kebersamaan dan komunikasi yang baik ini menjadi kekuatan kita dalam menjaga hutan, lahan dan lingkungan di Kabupaten Bengkalis,” kata Kasmarni.

Di hadapan Menteri Kehutanan, Kasmarni memastikan Pemkab Bengkalis siap memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Riau, TNI-Polri, akademisi, dunia usaha dan masyarakat.

Menurutnya, menjaga hutan dan lahan bukan pekerjaan sesaat yang hanya dilakukan ketika api muncul, melainkan membutuhkan gerakan bersama yang konsisten dan berkelanjutan.

“Kami siap berkolaborasi, siap bergerak, dan siap memastikan bahwa upaya menjaga hutan dan lahan bukan sekadar program, tetapi menjadi gerakan bersama demi keselamatan lingkungan dan masa depan masyarakat,” pungkas Kasmarni.*

*ALHAFISH

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini