Trilogi Hubungan Tuhan, Manusia dan Alam dalam Perspektif Pendidikan Islam

1
37316
Oleh: Lizawati
202110290211055
Mahasiswi Prodi  PAI Pasca Sarjana, Universitas Muhammadiyah Malang

Akhir-akhir ini, nilai pendidikan keislaman telah memudar tergerus kemajuan zaman. Buktinya dapat dilihat dari eksploitasi berlebihan terhadap alam hingga memicu bencana dan kerusakan di muka bumi. Lebih jauh lagi, memudarnya nilai-nilai keislaman ini berdampak terhadap pola hubungan manusia dengan Tuhan (habluminallah). Untuk itu, diperlukan komitmen bersama untuk merekonstruksi nilai-nilai keislaman ini karena konsep Pendidikan Islam menawarkan banyak keutamaan. Keutamaan itu meliputi antara lain karena bersumber dari kebenaran ilmiah, mencakup segenap aspek kehidupan manusia, berlaku universal, tidak terbatas hanya untuk bangsa tertentu saja, berlaku sepanjang masa, bahkan menyiapkan pengembangan naluri-naluri kemanusiaan hingga tercapai kehidupan yang hakiki.

Menurut Imam Al-Gazali, tujuan utama dari pendidikan Islam adalah kesempurnaan manusia di dunia dan akhirat. Manusia dapat mencapai kesempurnaan melalui ilmu untuk memberi kebahagiaan di dunia dan sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itu, dalam konsep pendidikan Islam terdapat hubungan yang erat antara Tuhan, manusia dan alam semesta. Hubungan tersebut dinamakan trilogi hubungan yang terpola tiga arah, yaitu hubungan dengan Tuhan sebagai makhluk ciptaannya, hubungan dengan manusia sebagai makhluk sosial, dan hubungan dengan alam semesta sebagai mahkluk Allah yang mengatur, memanfaatkan kekayaan alam yang terdapat di atas.

Pertama hubungan dengan Tuhan sebagai makhluk ciptaannya. Kecenderungan untuk percaya kepada Tuhan merupakan fitrah manusia sejak asal kejadiannya, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Rum ayat 30 dan Al-A‟raf ayat 172. Fitrah ini dimiliki setiap manusia yang dibawa olehnya sejak kelahiran. Sedangkan Tuhan yang dimaksud dalam Islam adalah Allah.

Keyakinan kaum muslim kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Maha mengetahui, Maha Bijaksana, dan Maha lainnya merupakan aqidah Islamiyah tentang ketuhanan. Aqidah ini menjelaskan bahwa Allah adalah pencipta yang tidak memiliki awal dan akhir. Allah adalah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Alam ini adalah ciptaan-Nya, yang diciptakan dari tidak ada menjadi ada.

Kedua, hubungan dengan manusia sebagai makhluk sosial. Manusia dalam pengertian insan menunjukan makhluk yang berakal, yang berperan sebagai subjek kebudayaan. Dapat juga dikatakan bahwa manusia sebagai insan menunjukan manusia sebagai makhluk psikis yang mempunyai potensi rohani, seperti fitrah, kalbu, akal. Potensi inilah yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang tertinggi martabatnya dibandingkan makhluk-makhluk lainnya.

Kembali mengenai konsep pendidikan Islam, Al-Quran sendiri sebenarnya telah memberikan pedoman akan tujuan manusia hidup. Ada tiga misi yang bersifat given yang diemban manusia, yaitu misi utama untuk beribadah (az-Zariyat:56). Misi fungsional sebagai khalifah dan misi oprasional untuk memakmurkan bumi (Hud:61). Allah menyatakan akan menjadikan khalifah di muka bumi, secara harfiah kata khalifah berarti wakil/pengganti dengan demikian misi utama manusia di muka bumi ini adalah sebagai wakil Allah. Jika Allah sang pencipta seluruh jagat raya ini, maka manusia sebagai khalifah-Nya berkewajiban untuk memakmurkan jagat raya utamanya bumi dan seluruh isinya, serta menjaganya dari kerusakan.

Tujuan inilah yang menjadi kualifikasi teleologis dari produk pendidikan dalam Islam, sehingga mencari ilmu bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup atau tujuan komoditas sosial dan ekonomi saja. Sebagai khalifah seorang hamba dituntut tidak hanya mementingkan urusan dan kesejahteraan pribadi atau orang yang dikenalnya saja, bahkan perannya dalam kehidupan tidak hanya untuk kebaikan manusia, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan alam beserta ekosistem yang ada di dalamnya.

Ketiga, hubungan dengan alam semesta sebagai mahkluk Allah yang mengatur, memanfaatkan kekayaan alam yang terdapat di atas. Dalam metafisika Islam realitas dan alam semenjak awal dipandang mempunyai nilai instrinsik yang merupakan manifestasi dari aspek ketuhanan. Karena itu, untuk memahaminya secara utuh dan bukan sepihak manusia tidak bisa semena-mena bersandar pada persepsi indera dan akalnya saja. Di dalam alam semesta ini manusia tidak dapat hidup “mandiri” dengan sesungguhnya. Karena antara manusia dan alam semesta saling membutuhkan dan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Alam semesta membutuhkan manusia untuk merawat dan memeliharanya sedangkan manusia butuh alam semesta sebagai sarana berinteraksi dengan manusia lainnya.

Sebagai asas pendidikan Islam, setiap muslim diarahkan supaya punya pandangan yang jelas tentang hakikat alam semesta baik alam benda maupun alam selain seperti alam sosial. Hakikat alam atau makrokosmos adalah selain Tuhan, manusia, alam dan kehidupan adalah bagian (mikrokosmos) dari alam  makrokosmos. Islam memandang bahwa alam ini diciptakan Allah, yang mempunyai keteraturan dan diciptakan dengan tujuan tertentu dan mulia.

Dari penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara Tuhan, manusia, dan alam. Hubungan ini terpola tiga arah dan saling mempengaruhi. Untuk mewujudkan trilogi hubungan ini dengan baik, diperlukan rekonstruksi pendidikan Islam dalam kehidupan sehari-hari sehingga tujuan diciptakannya manusia dapat tercapai.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini