
Natuna, mandalapos.co.id – Pukul 06.15 WIB, David Supriyanto sudah berdiri di dermaga Pelabuhan Tanjung Payung Penagi, Kabupaten Natuna, 5 Agustus 2026.
Sesekali ia menarik napas panjang. Wajahnya masih pucat. Tubuhnya pun belum sepenuhnya pulih setelah seminggu beristirahat di rumah karena tifus.
Namun pagi itu, David tetap mengenakan seragam loreng hijaunya, merapikan baret biru beremblem Swa Bhuwana Paksa, lalu melangkah menuju KMP Bahtera Nusantara 01 yang akan bertolak menuju Tanjung Uban, Kabupaten Bintan.
Belum lama David berdiri di geladak kapal, suara sirene ambulans RSUD Natuna terdengar dari arah gerbang pelabuhan.
“Mohon maaf, Bapak… Ibu… tolong beri jalan dulu untuk ambulans,” serunya.
Kerumunan penumpang perlahan membuka jalan. Ambulans bergerak naik melalui pintu rampa kapal.
Ketika pintu belakang ambulans dibuka, seorang pria lanjut usia tampak terbaring lemah di atas tandu. Umar (71), warga Desa Limau Manis, harus dirujuk ke rumah sakit di Tanjungpinang setelah mengalami gangguan prostat yang membuatnya tak lagi dapat buang air kecil tanpa bantuan kateter.
Tanpa diminta, David segera mengambil posisi di bagian belakang tandu. Bersama petugas ambulans dan seorang anggota Polri, ia mengangkat tandu itu perlahan menaiki 16 anak tangga menuju ruang medis kapal.
Tangga besi itu cukup curam. Beban tandu terasa berat. Napas David mulai memburu, jauh lebih berat dibanding tiga orang lain yang mengangkat bersama. Kondisinya yang baru sembuh membuat tenaga belum sepenuhnya kembali.
Namun sesampainya di depan ruang medis, ia justru tersenyum.
Begitu memastikan Umar mendapat penanganan dari perawat pendamping, David segera turun kembali ke geladak. Penumpang lain sudah menunggu untuk naik ke kapal. Sebagian merupakan lansia yang membutuhkan bantuan, sebagian lagi ibu yang membawa anak kecil, sementara beberapa lainnya memikul barang bawaan yang cukup berat.

Sekilas, tak ada yang tampak istimewa dari sosok pria berseragam loreng hijau itu. Sebagian penumpang bahkan mengira ia anggota TNI Angkatan Darat yang sedang membantu pengamanan pelabuhan.
Padahal, pria berpangkat Sersan Kepala itu adalah Bintara Pembina Teritorial Angkatan Udara (Babinter AU) Pangkalan TNI Angkatan Udara Raden Sadjad.
Kesalahpahaman semacam itu sudah biasa ia alami.
“Kadang ada yang tanya, ‘Kok TNI AU ada di pelabuhan?'” kata David sambil tertawa kecil.
Pertanyaan itu sesungguhnya menggambarkan sisi TNI Angkatan Udara yang belum banyak diketahui masyarakat.
Selama ini, TNI AU lebih sering dipersepsikan identik dengan pesawat tempur, landasan pacu, hanggar, atau operasi udara. Padahal, di wilayah perbatasan seperti Natuna, sebagian prajuritnya justru hadir di tengah masyarakat melalui pembinaan teritorial.
David adalah salah satunya.
Sejak dipercaya menjadi Babinter AU pada 2021, hampir setiap kapal penumpang yang datang maupun berangkat dari Pelabuhan Tanjung Payung Penagi selalu ia sambut. Sekitar satu jam sebelum kapal sandar, ia sudah berada di lokasi.
Hal pertama yang dilakukan adalah berkomunikasi dengan petugas Unit Penyelenggara Pelabuhan, Karantina, TNI-Polri, kru kapal, hingga buruh pelabuhan. Mereka saling bertukar informasi mengenai situasi pelabuhan, kondisi pelayaran, maupun berbagai hal yang perlu diantisipasi sebelum kapal tiba.
Di luar jadwal kapal penumpang, David tetap datang ke pelabuhan.
Ia menyapa nelayan yang baru pulang melaut, berbincang dengan buruh bongkar muat kapal barang, sesekali menikmati kopi bersama para petugas pelabuhan. Percakapan-percakapan sederhana itu menjadi bagian penting dari tugas yang diembannya.
“Tugas Babinter tidak hanya menolong orang naik turun kapal, tetapi juga melakukan pendeteksian dini terhadap keselamatan pelayaran, menggali informasi, dan membangun jejaring dengan aparat lainnya,” ujarnya.
Pelabuhan Tanjung Payung Penagi bukan hanya tempat kapal RoRo bersandar. Pelabuhan ini merupakan pintu utama distribusi logistik Tol Laut di Natuna sekaligus jalur mobilitas masyarakat antarpulau di wilayah perbatasan utara Indonesia.
Bagi Lanud Raden Sadjad, kawasan tersebut juga termasuk dalam Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP). Karena itu, kehadiran Babinter AU di pelabuhan bukanlah pekerjaan tambahan, melainkan bagian dari pembinaan teritorial yang mendukung tugas pertahanan TNI Angkatan Udara.
Hubungan yang terjalin setiap hari dengan masyarakat menjadi modal penting dalam membangun sistem deteksi dini.
Semakin dekat seorang Babinter dengan masyarakat, semakin cepat pula berbagai informasi di wilayah binaannya dapat diperoleh, mulai dari kondisi sosial, aktivitas pelayaran, hingga hal-hal yang berpotensi mengganggu keamanan wilayah.
Selama hampir lima tahun menjalankan tugas sebagai Babinter AU, David tak pernah menghitung berapa banyak orang yang telah ia bantu.
Baginya, membantu masyarakat bukanlah sesuatu yang pantas dihitung sebagai prestasi.
“Saya mah kalau ada orang butuh bantuan ya dibantu saja. Nggak usah dianggap budi, apalagi mesti diingat,” katanya.
Kalimat itu meluncur ringan, seolah tak ada yang istimewa dari apa yang ia lakukan setiap hari.
Padahal, tak jarang pekerjaannya menuntut tenaga dan kesabaran lebih.
Ketika hujan turun dan kapal tetap harus bersandar, David tetap berdiri di dermaga. Seragam loreng yang dikenakannya kerap basah kuyup diguyur hujan. Pintu rampa kapal RoRo yang licin membuat lebih banyak penumpang membutuhkan bantuan, terutama lansia, ibu yang membawa anak kecil, maupun pasien yang harus dirujuk menggunakan transportasi laut.
Dalam situasi seperti itu, David tak pernah memilih siapa yang akan dibantu.
Ia berpindah dari satu penumpang ke penumpang lain, mengangkat barang, menopang tubuh lansia yang kesulitan berjalan, hingga membantu mendorong kursi roda atau tandu pasien menuju ruang medis kapal.
Latar belakangnya di bidang kesehatan, membuatnya cukup memahami cara menangani pasien yang harus dipindahkan dari ambulans ke kapal ataupun sebaliknya.
Karena itu, ketika ada warga dari pulau-pulau di Natuna yang harus dirujuk ke Ranai maupun ke luar daerah, David kerap diminta membantu proses evakuasi.
“Capek ya pasti capek. Tapi membantu orang lain itu memberi kepuasan tersendiri,” ujarnya.

Kepuasan itulah yang membuatnya tetap datang ke pelabuhan, bahkan ketika tubuhnya sendiri belum benar-benar pulih akibat sakit.
Di balik sapaan hangat kepada nelayan, obrolan ringan dengan buruh pelabuhan, atau bantuan kepada penumpang, terdapat tugas lain yang tak kalah penting, yaitu membangun kepercayaan masyarakat.
Kepercayaan itu menjadi pintu masuk bagi Babinter untuk memahami dinamika wilayah binaannya.
Melalui komunikasi yang terjalin setiap hari, masyarakat tidak lagi canggung menyampaikan berbagai informasi yang mereka temui, mulai dari kondisi pelayaran, aktivitas kapal di perairan sekitar Natuna, hingga berbagai kejadian yang dianggap tidak biasa.
Pendekatan inilah yang menjadi ruh pembinaan teritorial TNI Angkatan Udara.
Berbeda dengan tugas operasi militer yang identik dengan alutsista dan kemampuan tempur, pembinaan teritorial bertumpu pada komunikasi, kedekatan, serta kepercayaan masyarakat.
Di Natuna, pendekatan itu memiliki arti yang jauh lebih strategis.
Sebagai wilayah terdepan Indonesia yang berbatasan dengan sejumlah negara di Laut Natuna Utara, setiap informasi dari masyarakat memiliki nilai penting dalam mendukung sistem deteksi dini.
Komandan Lanud Raden Sadjad, Marsekal Pertama TNI Onesmus Gede Rai Aryadi, mengatakan hubungan yang dibangun Babinter AU dengan masyarakat merupakan bagian penting dari sistem pertahanan negara, terutama di wilayah perbatasan seperti Natuna.
Menurutnya, menjaga kedaulatan negara tidak dapat dilakukan TNI Angkatan Udara seorang diri. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa agar sistem pertahanan berjalan efektif.
“Pertahanan itu tidak bisa dilakukan oleh TNI AU sendiri, tetapi juga semua lini antar-lembaga,” ujarnya, Selasa, 4 Agustus 2026.
Di wilayah perbatasan, masyarakat menjadi bagian dari sistem deteksi dini. Nelayan yang melaporkan keberadaan kapal asing, warga yang menyampaikan informasi ketika melihat aktivitas udara yang tidak biasa, hingga aparat pemerintah yang berbagi informasi kepada TNI merupakan bentuk partisipasi nyata dalam menjaga kedaulatan negara.
“Mereka mungkin tidak memegang senjata, tetapi dapat mendukung tugas yang dilaksanakan Lanud Raden Sadjad,” kata Onesmus, Selasa, 4 Agustus 2026.
Pandangan itu tak lepas dari posisi Natuna sebagai salah satu wilayah paling strategis di Indonesia. Berada di Laut Natuna Utara dan berbatasan dengan sejumlah negara, kawasan ini menjadi beranda terdepan Indonesia sekaligus memiliki nilai penting dalam sistem pertahanan udara nasional.
Di balik kekuatan itu, terdapat kerja-kerja yang nyaris tak terlihat. Ada prajurit yang setiap hari hadir di tengah masyarakat, membangun komunikasi, menyerap informasi, dan menumbuhkan kepercayaan. Melalui pendekatan itulah pembinaan teritorial menjadi salah satu fondasi yang memperkuat sistem pertahanan negara.
Pada Peringatan ke-79 Hari Bakti TNI Angkatan Udara, Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI M. Tonny Harjono menegaskan bahwa kekuatan udara tidak hanya dibangun melalui kemampuan operasi, tetapi juga bertumpu pada nilai-nilai pengabdian yang diwariskan dari generasi ke generasi. Semangat itu diwujudkan melalui profesionalisme, kedekatan dengan rakyat, serta pengabdian yang hadir di setiap ruang kehidupan masyarakat.
PENULIS: ALFIANA


















