
NATUNA, mandalapos.co.id – Pesawat tempur, langit Natuna, dan perjalanan panjang di dunia penerbangan menjadi bagian dari pengalaman Komandan Lanud Raden Sadjad (RSA) Natuna, Marsekal Pertama TNI Onesmus Gede Rai Aryadi.
Alumni Akademi Angkatan Udara (AAU) 1997 itu pernah menerbangkan pesawat Hawk MK-53 TNI AU dan tergabung dalam tim aerobatik TNI AU. Pengalaman tersebut ia bagikan ketika menjadi narasumber Dialog Interaktif di Luar Studio RRI Ranai di Pantai Piwang, Kabupaten Natuna, Kamis (13/8/2026).
Dialog bertema “Kolaborasi Merah Putih: Ekspresi Kemerdekaan di Perbatasan Utara NKRI” tersebut dipandu Yusfianti dan Erik. Hadir sebagai narasumber lainnya Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Natuna Helmi Wahyuda, S.E., serta Kepala Kantor SAR Natuna Abdul Rahman, S.E.
Di hadapan peserta dialog, Onesmus tidak hanya berbicara mengenai tugas pertahanan dan semangat kebangsaan. Ia juga menyampaikan pesan kepada generasi muda Natuna agar tidak minder dengan kondisi daerah maupun latar belakang mereka.
Menurutnya, kesempatan untuk berkembang terbuka bagi siapa saja selama dibarengi usaha, disiplin, kemauan belajar, dan keberanian untuk mencoba.
“Usaha tidak akan mengkhianati hasil,” ujar Onesmus.
Pesan tersebut disampaikannya berdasarkan perjalanan yang telah dilalui. Sebagai alumni AAU 1997 dan penerbang tempur, Onesmus menjalani proses panjang sebelum dipercaya memimpin Lanud RSA di Natuna.
Ia mendorong anak-anak muda di daerah perbatasan untuk tidak melihat keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.
“Generasi muda harus terus belajar, disiplin dan berani berkarya. Teknologi harus dimanfaatkan untuk berkembang dan memberi manfaat,” katanya.
Bagi Onesmus, kemajuan teknologi harus diikuti dengan kemampuan generasi muda dalam menggunakannya secara produktif. Teknologi tidak semestinya hanya menjadi sarana hiburan, tetapi dapat digunakan untuk belajar, berkarya, membangun jejaring, dan membuka peluang baru.
Dalam dialog tersebut, semangat generasi muda juga dikaitkan dengan posisi Natuna sebagai wilayah perbatasan dan salah satu kawasan terdepan Indonesia.
Menurut Onesmus, rasa cinta tanah air tidak hanya ditunjukkan melalui kegiatan seremonial. Semangat tersebut perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap disiplin, kepedulian terhadap lingkungan sekitar, serta kontribusi positif bagi daerah dan bangsa.
Ia mencontohkan pengibaran Bendera Merah Putih di sejumlah titik di Natuna, seperti Batu Datar, Teluk Depeh, Gunung Ranai, dan Pulau Sahi, yang dilakukan dalam rangka menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia.
Kegiatan tersebut, menurutnya, menjadi gambaran bagaimana masyarakat di wilayah perbatasan mengekspresikan kecintaan terhadap Indonesia.
“Semangat kemerdekaan harus terus hidup, bukan hanya pada Agustus, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Pesan itu menjadi semakin relevan bagi generasi muda Natuna yang tumbuh di wilayah perbatasan. Mereka tidak hanya menjadi bagian dari masyarakat daerah kepulauan, tetapi juga memiliki peran dalam menjaga semangat kebangsaan di salah satu wilayah terdepan Indonesia.
Dari pengalaman seorang penerbang tempur, pesan yang disampaikan Onesmus sederhana: cita-cita tidak mengenal batas geografis. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai, kemauan untuk belajar, disiplin dalam menjalani proses, dan konsistensi untuk terus berusaha.


















