Tasikmalaya, mandalapos.co.id – Di lereng hijau Kampung Puncak Suji, Desa Pusparaja, Kecamatan Cigalontang, lahir sebuah gagasan yang ingin mengubah cara generasi muda belajar. Bupati Tasikmalaya H. Cecep Nurul Yakin meresmikan Institut Alam Rimba Puncak Suji pada Rabu, 1 Juli 2026, sebagai pusat pendidikan berbasis alam yang memadukan pembentukan karakter, konservasi lingkungan, riset terapan, dan pemberdayaan masyarakat desa dalam satu ekosistem pembelajaran.
Peresmian itu berlangsung dalam rangkaian Festival Edukasi Alam Desa yang mempertemukan pemerintah daerah, akademisi, komunitas, pelajar, organisasi masyarakat, pegiat lingkungan, hingga dunia usaha. Di tengah tantangan perubahan iklim dan berkurangnya ruang belajar yang membangun karakter, kehadiran institut tersebut menjadi awal gerakan yang mengajak masyarakat kembali menjadikan alam sebagai ruang belajar sekaligus sumber nilai kehidupan.
Kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin Almukarom Ustaz Ajad Sudrajad. Setelah itu, peserta mengikuti Festival Edukasi Alam Desa, pameran produk unggulan desa, media gathering, aksi peduli lingkungan, dan forum kolaborasi lintas sektor. Setiap agenda dirancang untuk memperkuat kesadaran ekologis sekaligus mendorong lahirnya inovasi yang berangkat dari potensi desa.
Di tengah laju modernisasi, Institut Alam Rimba Puncak Suji menawarkan pendekatan yang menempatkan alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan laboratorium kehidupan. Melalui pendekatan tersebut, peserta didik diharapkan mampu membangun kepemimpinan, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Salah satu agenda utama ialah Sarasehan Pendidikan Alam bertema Membangun Generasi Berkarakter melalui Pembelajaran Berbasis Alam. Forum ini menghadirkan Ketua Fraksi PKS DPRD Provinsi Jawa Barat Drs. KH. Tetep Abdulatif, M.Ag., Dewan Pembina Institut Alam Rimba Irman Hirdasah atau Abah Irdas, serta Kepala Dinas DPUPRLH Kabupaten Tasikmalaya Deden Ramdhan Nugraha, S.T., M.M.
Diskusi dipandu Randika sebagai moderator. Pembahasan berfokus pada masa depan pendidikan berbasis lingkungan, konservasi, pembangunan desa, dan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Para narasumber menilai pendidikan berbasis alam telah menjadi kebutuhan untuk membentuk generasi yang memiliki karakter kuat, kemampuan berpikir kritis, serta kesiapan menghadapi tantangan pembangunan.
Direktur Institut Alam Rimba Puncak Suji, Resta Syada, S.Pd., mengatakan lembaga yang dipimpinnya dibangun sebagai ruang kolaborasi yang menghubungkan pendidikan, konservasi, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat.
“Institut Alam Rimba Puncak Suji hadir sebagai ruang belajar yang mengajak masyarakat kembali mencintai alam, membangun karakter generasi muda, sekaligus mendorong kemandirian desa melalui pendidikan berbasis lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan proses pendidikan tidak cukup berhenti pada penguasaan teori di ruang kelas. Menurutnya, pengalaman langsung di alam mampu membentuk kepedulian sosial, tanggung jawab, serta kesadaran menjaga keseimbangan ekosistem.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Tasikmalaya menyerahkan penghargaan kepada sejumlah tokoh dan komunitas yang dinilai berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Penghargaan diberikan kepada Agus Sudarsono, S.T. sebagai pengembang inovasi Eco-Paving Block, Jelby Zahir sebagai Duta Lingkungan, Bank Sampah Batik Resik Desa Salopa, dan Bank Sampah Salimah Desa Kamulyan.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari berbagai lembaga, di antaranya Persatuan Wartawan Republik Indonesia, Bank Galunggung, BPR Artha Sukapura, Bank Indonesia, bank bjb, Program Adiwiyata, serta sejumlah mitra lain yang memiliki komitmen terhadap pendidikan dan pelestarian lingkungan.
Institut Alam Rimba Puncak Suji turut memperkenalkan struktur organisasinya sebagai dasar pengelolaan lembaga. Pembinaan dilakukan oleh Khifayati Nursetiana, S.Pd. dan Irman Hirdasah. Adapun Resta Syada dipercaya sebagai direktur bersama sembilan divisi strategis. *
*ARIS





















