
Natuna, mandalapos.co.id –
“Kita harus mencari sendiri darahnya. Takutnya di rumah sakit stoknya tidak ada.”
Kalimat itu masih diingat Ika Triana ketika dokter kandungan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Natuna memintanya bersiap menghadapi proses persalinan anak keduanya pada 2024 silam.
Saat usia kehamilan memasuki tujuh bulan, hasil pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan plasenta bayinya diduga mengalami plasenta akreta, kondisi ketika ari-ari menempel terlalu dalam pada dinding rahim sehingga berisiko menimbulkan perdarahan hebat saat persalinan. Dokter memastikan proses kelahiran harus dilakukan melalui operasi sesar.
Namun sebelum hari operasi tiba, ada satu pekerjaan lain yang harus diselesaikan keluarganya. Mencari pendonor darah.
“Waktu itu dokter bilang kami harus cari pendonor sendiri untuk berjaga-jaga kalau nanti terjadi pendarahan,” kata Ika, Kamis, 23 Juli 2026.
Bagi sebagian masyarakat di kota besar, mencari beberapa kantong darah mungkin hanya membutuhkan beberapa panggilan telepon. Di Natuna, sebuah kabupaten kepulauan di ujung utara Indonesia, persoalannya tidak sesederhana itu.
Persediaan darah di Unit Transfusi Darah RSUD Natuna belum selalu mampu memenuhi kebutuhan seluruh pasien. Setiap bulan rumah sakit membutuhkan sekitar 150 kantong darah untuk melayani operasi, persalinan, pasien kecelakaan, hingga penderita penyakit kronis yang memerlukan transfusi rutin.
Akibatnya, tidak sedikit keluarga pasien yang harus mencari sendiri calon pendonor sebelum tindakan medis dilakukan.
Ika pun mengalami hal itu. Selama hampir dua bulan sebelum jadwal operasi, ia bersama keluarga menghubungi kerabat, teman, hingga rekan kerja suaminya satu per satu, berharap ada yang memiliki golongan darah O sesuai kebutuhannya.
“Kami minta tolong ke keluarga dan teman-teman. Yang penting kalau nanti dibutuhkan darahnya sudah siap,” ujarnya.
Cerita seperti itu bukan sesuatu yang asing bagi tenaga kesehatan di Natuna. Keterbatasan jumlah pendonor aktif membuat setiap kantong darah memiliki arti yang jauh lebih besar dibanding angka dalam laporan pelayanan kesehatan.
Di daerah kepulauan, darah bukan hanya kebutuhan medis. Ia adalah harapan.
Pagi itu, Rabu, 22 Juli 2026, suasana berbeda terlihat di Gedung Graha Serasan Lanud Raden Sadjad Natuna.
Ruangan yang biasanya digunakan untuk menyambut tamu resmi berubah menjadi lokasi donor darah dalam rangka Hari Bakti TNI Angkatan Udara ke-79.
Di salah satu tempat tidur donor, Serda Akbar membaringkan tubuhnya dengan tenang. Petugas Palang Merah Indonesia memasang jarum pada lengan kanannya. Perlahan, darah mengalir melalui selang bening menuju kantong steril yang tergantung di samping tempat tidur.
Sebanyak 94 orang mendaftarkan diri sebagai peserta donor darah. Setelah melalui pemeriksaan kesehatan, 72 orang dinyatakan memenuhi syarat sehingga berhasil menyumbangkan darah. Dari kegiatan itu terkumpul 72 kantong darah yang terdiri atas 18 kantong golongan A, 16 kantong golongan B, 4 kantong golongan AB, dan 34 kantong golongan O.
Bagi daerah lain, jumlah itu mungkin terlihat biasa. Namun bagi Natuna, puluhan kantong darah tersebut dapat menjadi penyelamat bagi puluhan pasien yang sewaktu-waktu membutuhkan transfusi.
“Setetes darah yang kita sumbangkan hari ini mungkin akan menjadi penyelamat nyawa bagi saudara kita,” kata Komandan Lanud Raden Sadjad, Marsekal Pertama TNI Onesmus Gede Rai Aryadi.
Menurutnya, donor darah merupakan bagian dari pengabdian TNI AU kepada masyarakat, sekaligus wujud kepedulian terhadap sesama.
Di Natuna, pengabdian itu terkadang hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Yaitu melalui sekantong darah.
Karena di wilayah kepulauan, tantangan menjaga kehidupan masyarakat tidak hanya datang dari ancaman terhadap kedaulatan negara, tetapi juga dari keterbatasan pelayanan dasar yang harus dihadapi setiap hari.
Ketika seorang ibu hamil membutuhkan transfusi saat operasi, ketika korban kecelakaan harus segera mendapatkan darah, atau ketika pasien penyakit kronis datang untuk menjalani pengobatan rutin, keberadaan stok darah menjadi penentu antara harapan dan keterlambatan.
Melalui kegiatan donor darah yang rutin diselenggarakan, Lanud Raden Sadjad berupaya menjadi bagian dari solusi atas kebutuhan tersebut.
Semangat yang sama juga diwujudkan melalui rangkaian Hari Bakti TNI AU ke-79 lainnya, seperti pengobatan massal bagi 137 warga dan khitanan massal yang diikuti 20 anak.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna, Hikmat Aliansyah, mengapresiasi konsistensi Lanud Raden Sadjad dalam menghadirkan berbagai kegiatan sosial yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Kegiatan seperti ini sangat membantu masyarakat dalam memperoleh layanan kesehatan. Kami mengapresiasi Lanud Raden Sadjad yang terus berkontribusi melalui berbagai kegiatan sosial untuk masyarakat Natuna,” katanya.
Di wilayah perbatasan, kehadiran negara tidak selalu diwujudkan melalui kekuatan persenjataan. Terkadang, ia hadir melalui tangan-tangan yang bersedia mendonorkan darahnya untuk orang yang bahkan tidak pernah mereka kenal.
Karena bagi pasien seperti Ika Triana, satu kantong darah bukan sekedar cairan medis. Ia adalah kesempatan untuk menjalani operasi dengan lebih tenang, sekaligus pengingat bahwa di ujung utara Indonesia, kepedulian masih terus mengalir, setetes demi setetes. *
*PENULIS: ALFIANA


















