Merentang Jala Digital di Tepi Negeri: Laut Menghidupi, Internet Membuka Peluang

Seorang nelayan menggunakan telepon genggam saat berada di atas perahu di perairan Natuna. Informasi digital, termasuk prakiraan cuaca dan kondisi perairan, membantu nelayan memperoleh referensi tambahan sebelum menentukan waktu dan lokasi penangkapan ikan. (Foto: Alfiana/mandalapos)

Natuna, mandalapos.co.id – Junaidi mengambil kuda-kuda. Kedua kakinya menapak kuat untuk menjaga keseimbangan. Satu tangannya mencengkeram tuas mesin, sementara tangan lainnya bertumpu pada bagian atas mesin. Ia memutar tuas itu sekuat tenaga, namun mesin belum juga mau menyala.

Ia mengulanginya, hingga urat-urat di dahinya menonjol dan keringat merembes dari sela rambutnya. Percobaan kedua berhasil, asap hitam mengepul dari knalpot. Junaidi segera mencondongkan tubuh menjauh.

Suara mesin diesel perahu kayunya kini menggeram, memecah keheningan sore di Pelabuhan Perikanan Penagi, Kelurahan Batu Hitam, Kabupaten Natuna, Jumat, 9 Oktober 2026.

Mesin perahu kayunya sempat bermasalah. Selang minyak bocor dan harus diganti sebelum ia kembali melaut. Setelah mengisi bahan bakar solar, Junaidi duduk di pelantar pelabuhan untuk mengatur napas yang masih tersengal.

Di sela istirahat, ia mengambil telepon genggam. Jarinya membuka aplikasi Fishing Points, sebuah aplikasi yang membantunya memperoleh informasi pasang surut air laut, fase bulan, perkiraan aktivitas ikan, serta menyimpan titik-titik lokasi penangkapan.

“Besok berangkat jam 2 subuh, karena jam 8 pagi ga ada arus, ikan kurang mau makan,” katanya.

Ia juga memantau prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui grup WhatsApp Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) Stasiun BMKG Natuna. Dengan satu sentuhan, Informasi cuaca dan kondisi gelombang bisa ia akses langsung dari telepon genggamnya.

Dahulu, kata Junaidi, nelayan lebih banyak membaca tanda-tanda alam untuk memperkirakan keadaan laut. Gunung Ranai yang tertutup awan tebal dan gelap, misalnya, dianggap sebagai pertanda kemungkinan datangnya badai. Sebaliknya, langit jernih tanpa banyak awan juga bisa menjadi petunjuk bahwa kondisi laut teduh.

Pengetahuan turun-temurun itu tetap berguna. Namun, kini nelayan memiliki tambahan informasi untuk membantu mempertimbangkan kapan berangkat dan ke mana mencari ikan.

Aplikasi digital yang menunjukan kondisi pasang surut air laut memudahkan nelayan Natuna dalam memperkirakan waktu berangkat melaut. (Foto: Alfiana/mandalapos)

Di Natuna, sebuah kabupaten kepulauan di beranda utara Indonesia, akses internet perlahan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir. Telepon genggam tidak hanya dipakai untuk berkomunikasi dengan keluarga, tetapi juga untuk mencari informasi, memantau keadaan perairan, dan mempertemukan penjual dengan pembeli.

Pendapatan Junaidi setiap kali melaut memang tidak menentu. Jika fiber box berkapasitas 200 liter miliknya penuh, hasil penjualan kotor bisa mencapai Rp1,5 juta hingga Rp2 juta. Nilainya bergantung pada jenis dan jumlah ikan yang berhasil ia tangkap.

Untuk mendapatkan hasil itu, Ia menyimpan sejumlah titik penangkapan andalannya dalam aplikasi Fishing Points. Lokasi-lokasi tersebut ditandai pada peta digital yang dilengkapi koordinat, sehingga bisa ia buka kembali ketika hendak melaut.

Junaidi sengaja menyimpan lebih dari satu titik. Pengalamannya di laut mengajarkan bahwa ikan tidak selalu berkumpul di tempat yang sama. Pergerakan arus, perubahan kondisi perairan, dan suhu air dapat memengaruhi keberadaan ikan.

Dengan menyimpan sejumlah lokasi, Ia tidak harus mengandalkan ingatan semata untuk menemukan tempat yang pernah menghasilkan tangkapan. Aplikasi tersebut memang tidak menjamin ikan akan selalu didapat, tetapi memberikan bekal informasi tambahan dalam menentukan tempat mencari tangkapan.

Pengusaha perikanan menjemput hasil tangkapan nelayan di Pelabuhan Perikanan Pering, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Proses pengambilan ikan ini menjadi bagian penting dalam rantai ekonomi perikanan, menghubungkan nelayan sebagai produsen dengan pelaku usaha yang memasarkan hasil laut kepada konsumen. (Foto: Alfiana/mandalapos)

Ikan Belum Sampai, Pembeli Sudah Menunggu

Setelah urusan di laut selesai, persoalan berikutnya adalah menjual hasil tangkapan. Ikan harus segera dipasarkan agar bisa menghasilkan uang untuk menutup biaya operasional dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Junaidi sudah memiliki pembeli tetap. Dalam perjalanan pulang, nelayan seperti dirinya dapat mengabarkan perkiraan waktu tiba dan hasil tangkapan kepada pedagang yang biasa mengambil ikan di pelabuhan.

“Kalau saya langsung ada yang ambil, pedagang di pasar,” ujarnya.

Bagi Junaidi, hubungan dengan pembeli tetap membuat proses pemasaran lebih sederhana. Ia tidak perlu menawarkan seluruh hasil tangkapannya kepada orang-orang yang belum dikenal setelah perahu bersandar.

Di luar pola tersebut, media sosial membuka kemungkinan lain bagi nelayan dan pedagang. Foto ikan yang diunggah melalui status WhatsApp atau grup jual beli Facebook dapat memperlihatkan jenis dan ketersediaan hasil laut kepada calon pembeli. Penawaran bahkan bisa dimulai sebelum penjual dan pembeli bertemu secara langsung.

Cara ini mempertemukan dua kepentingan sekaligus. Nelayan memiliki kesempatan menawarkan hasil tangkapannya kepada calon pembeli, sementara konsumen bisa mencari ikan sesuai kebutuhan. Transaksi yang sebelumnya banyak bergantung pada pertemuan langsung kini dapat dimulai melalui layar telepon.

Perubahan itu terasa pula di rumah Ika Triana, 32 tahun, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Air Batu Kelurahan Bandarsyah. Untuk mendapatkan ikan, ia tidak selalu harus pergi ke pasar. Grup jual beli di Facebook dan WhatsApp menjadi tempatnya mencari hasil laut yang ditawarkan para penjual.

Jika menemukan ikan yang sesuai, Ika bisa menghubungi penjual dan menyepakati pembelian. Barang kemudian diantar menggunakan sistem cash on delivery (COD), yakni pembayaran dilakukan ketika pesanan diterima.

Seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Natuna memanfaatkan forum jual beli di media sosial, seperti Facebook dan WhatsApp, untuk mencari ikan sesuai kebutuhan keluarga. Beragam pilihan ikan yang ditawarkan penjual memudahkannya mendapatkan hasil laut tanpa harus selalu pergi ke pasar. (Foto: Alfiana/mandalapos)

Di balik transaksi sederhana tersebut, terdapat mata rantai ekonomi yang saling terhubung. Nelayan menangkap ikan, pedagang mengumpulkan dan menjualnya, sedangkan rumah tangga menjadi konsumen akhir. Internet membantu mempertemukan mereka.

Manfaat internet bagi ekonomi perikanan Natuna tidak hanya berhenti pada penjualan ikan untuk konsumsi. Hasil laut juga menghidupi usaha-usaha kecil dengan pasar yang lebih khusus.

Manfaat serupa dirasakan Herman Sardiyanto, 41 tahun, penjual udang laut hidup yang tinggal di Jalan Adam Malik, Kelurahan Bandarsyah, Natuna.

Herman Sardiyanto, 41 tahun, warga Jalan Adam Malik, Kelurahan Bandarsyah, menjual udang laut hidup. Ia memanfaatkan grup jual beli di media sosial untuk menawarkan dagangannya dengan harga Rp500 – Rp 1000 per ekor.

Sebagian besar pelanggannya adalah penghobi memancing yang membutuhkan umpan hidup.

“Biasa pembelinya itu pemancing, karena kalau pakai umpan hidup ikan menjadi lebih ganas,” kata Herman.

Dibandingkan penyedia umpan hidup lainnya di Kota Ranai, Herman memiliki keunggulan dalam memanfaatkan jejaring sosial untuk mempromosikan usahanya.

Melalui media sosial, calon pembeli dapat mengetahui ketersediaan udang sekaligus menghubunginya sebelum datang. Tak jarang, tamu dari luar Natuna bahkan sudah mengonfirmasi pembelian sebelum tiba di daerah itu.

Dari aktivitas yang tampak sederhana itu, hasil laut tidak hanya menjadi bahan konsumsi, tetapi juga menopang kegiatan wisata dan hobi yang mendatangkan pengunjung.

Salah satu pelanggan Herman adalah Hasonangan Lubis, kreator YouTube yang dikenal melalui kanal Panji Fishing. Sejak sekitar 2019, ia membuat konten mengenai kegiatan memancing di perairan Natuna. Ia juga merekam kegiatan nyuloh, istilah lokal untuk mencari ikan di perairan dangkal sekitar pesisir pada malam hari.

Ketika mulai membuat konten, jangkauan internet di sejumlah pulau Natuna belum merata. Belum banyak pula kreator yang secara khusus memperkenalkan kekayaan perikanan daerah tersebut kepada penonton di luar wilayah Kepulauan Riau.

Salah satu cerita yang ia angkat berasal dari Dusun Sebala, Desa Batu Gajah. Di sana, nelayan menangkap kepiting rajungan, komoditas yang dagingnya telah dipasarkan hingga ke luar negeri.

Melalui video, aktivitas yang sebelumnya hanya disaksikan masyarakat setempat bisa menjangkau penonton dari berbagai daerah.

“Alhamdulillah konten saya direspon positif, banyak netizen yang mau datang langsung ke Natuna. Mudah-mudahan bisa meningkatkan wisatawan,” ungkap Hasonangan, Senin, 12 Oktober 2026.

Bagi Hasonangan, internet membuka jalan agar kontennya itu bisa ditemukan orang yang tinggal jauh dari Natuna. Laut yang sebelumnya hanya hadir dalam cerita lokal, kini dapat dilihat melalui layar telepon genggam.

Media sosial juga memberinya ruang untuk memperkenalkan kegiatan yang berkaitan dengan perikanan, dari memancing hingga kehidupan sehari-hari masyarakat yang menggantungkan hidup pada laut.

Hasonangan Lubis mengenalkan tradisi masyarakat pesisir Natuna yang menggantungkan penghidupan pada kekayaan laut melalui konten digital. (Foto: dok. chanel Panji Fishing/Hasonangan)

Kini, Instagram, Facebook, TikTok, dan YouTube menjadi saluran yang bisa dimanfaatkan untuk memperkenalkan hasil laut, aktivitas memancing, dan kehidupan masyarakat kepulauan kepada khalayak yang lebih luas.

Bagi kreator lokal, ruang digital memungkinkan cerita dari daerah perbatasan ikut hadir di tengah arus informasi nasional.

Promosi melalui media sosial tentu tidak otomatis menghasilkan transaksi atau mendatangkan wisatawan. Namun, bagi pelaku usaha dan masyarakat lokal, tersedianya ruang publikasi digital membuka peluang yang sebelumnya lebih terbatas.

Ketika Infrastruktur Digital Menjangkau Perbatasan

Perubahan yang dialami Junaidi, Ika, Herman, dan Hasonangan tidak dapat dilepaskan dari perkembangan infrastruktur telekomunikasi di Natuna.

Natuna sebagai salah satu wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) turut menjadi sasaran pemerataan akses telekomunikasi pemerintah. Dalam pembangunan infrastruktur digital nasional, salah satu proyek penting yang menjangkau kawasan ini adalah Palapa Ring Barat, yang dibangun melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika, kini Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Sebelum akses internet berkembang, masyarakat Natuna lebih terbatas dalam memanfaatkan layanan digital. Menurut catatan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Natuna, masyarakat baru menikmati jaringan internet 3G pada 2014. Sebelumnya, telepon seluler lebih banyak digunakan untuk panggilan suara dan pesan singkat.

Palapa Ring Barat kemudian memperkuat konektivitas melalui jaringan serat optik, termasuk jalur bawah laut yang menghubungkan Batam, Tarempa (Anambas), Natuna, hingga Singkawang, Kalimantan Barat. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari tulang punggung telekomunikasi yang mendukung pengembangan jaringan di daerah kepulauan.

Kepala Bidang Penyelenggaraan E-Government Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Natuna, Muhammad Nawari, mengatakan pembangunan infrastruktur tersebut turut mendorong bertambahnya menara telekomunikasi yang dibangun oleh operator swasta maupun pemerintah melalui program BAKTI Kominfo.

Menurut Nawari, hingga 2026 terdapat 143 menara telekomunikasi yang tersebar di 77 desa dan kelurahan di Natuna. Ia juga menyebut pembangunan 15 menara oleh Smartfren yang menggunakan dukungan jaringan serat optik untuk transportasi data.

“Sebelum Program Palapa Ring Barat (PRB) hadir dan mulai beroperasi di Natuna ketersediaan layanan akses internet, baik secara seluler maupun dedicated masih sangat terbatas dan belum optimal dirasakan oleh masyarakat,” katanya saat ditemui mandalapos di Pantai Piwang, Ranai, 3 Oktober 2026.

Infrastruktur jaringan seluler menjadi bagian penting dalam memperluas akses komunikasi dan internet bagi masyarakat kepulauan, termasuk untuk mendukung aktivitas ekonomi dan penyebaran informasi di wilayah perbatasan. (Foto: Alfiana/mandalapos)

Pembangunan jaringan di wilayah seperti Natuna merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas akses digital di luar pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), termasuk melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI), berperan dalam penyediaan infrastruktur telekomunikasi di wilayah yang belum sepenuhnya terlayani jaringan komersial.

Secara nasional, pemerintah juga terus mendorong perluasan konektivitas. Dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR RI di Jakarta Pusat pada 26 Januari 2026 lalu, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyampaikan bahwa layanan 4G telah menjangkau 98,95 persen populasi penduduk hingga akhir 2025.

Perluasan itu ditopang oleh pengoperasian 6.747 Base Transceiver Station (BTS) di wilayah 3T. Jaringan serat optik nasional juga disebut telah menjangkau 5.253 kecamatan.

Pada akhirnya, bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan seperti Natuna, konektivitas bukan hanya urusan kenyamanan berkomunikasi. Ia berkaitan dengan akses terhadap informasi, peluang ekonomi, serta kemampuan masyarakat mengikuti perkembangan di luar daerahnya.

Menjaga Laut, Menyiapkan Pangan Masa Depan

Natuna memiliki alasan kuat untuk membicarakan masa depan pangan yang bersumber dari perairan. Kehidupan masyarakatnya berhubungan erat dengan laut, mulai dari nelayan yang menangkap ikan, pedagang yang memasarkannya, hingga keluarga yang mengonsumsinya setiap hari.

Kekayaan perikanan daerah ini merupakan bagian dari potensi pangan biru atau blue food Indonesia, yakni pangan yang berasal dari perairan, baik laut maupun air tawar. Ikan, kerang-kerangan, rumput laut, dan berbagai organisme akuatik lainnya termasuk dalam kelompok pangan tersebut.

Bagi Indonesia yang memiliki wilayah laut luas dan garis pantai panjang, potensi tersebut membuka ruang bagi penguatan ketahanan pangan sekaligus pengembangan ekonomi berbasis kelautan.

Kementerian Kelautan dan Perikanan pernah mengemukakan proyeksi nilai pasar pangan biru global yang dapat mencapai 419 miliar dolar AS pada 2030. Angka itu menggambarkan besarnya peluang ekonomi yang diperkirakan berkembang di sektor tersebut.

Di sinilah konektivitas digital dapat mengambil peran sebagai salah satu penopang, ia mampu membuka jalan agar hasil laut, pengetahuan, dan kerja orang-orang yang bergantung padanya dapat menjangkau lebih banyak orang.

Sedangkan di Natuna sebagai wilayah yang jauh dari pusat-pusat ekonomi Indonesia, teknologi bisa membantu masyarakatnya terhubung, menemukan peluang, dan mengambil bagian dalam masa depan pangan yang bertumpu pada kekayaan perairan.*

*PENULIS: ALFIANA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini