Mengalirkan Air, Menguatkan Harapan, Kiprah Polri di Tengah Kemarau Natuna

Seorang anak memperhatikan personel Polri mengisi galon air di depan rumahnya di Desa Pengadah, Natuna. Bantuan air bersih dari Polres Natuna menjadi harapan yang mengalir bagi masyarakat pesisir. (Foto: dok. Humas Polres Natuna)

Natuna, mandalapos.co.id — Gelak tawa Adit (5) dan teman-teman sebayanya mendadak terhenti ketika sebuah truk tangki bercat hitam berhenti di depan rumah mereka di Desa Pengadah, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna, Kamis siang, 16 April 2026.

Dari balik kendaraan itu turun beberapa anggota polisi berseragam lengkap. Bagi anak-anak di kampung pesisir tersebut, pemandangan itu cukup membuat mereka panik.

“Mak… ada Pak Polisi!” teriak mereka sambil berlarian pulang memanggil orang tua masing-masing.

Teriakan polos itu justru disambut senyum oleh Kanit KBO Satsamapta Polres Natuna Aipda Rudy dan Bhabinkamtibmas Desa Pengadah Bripka Remon Kurniawan, yang siang itu datang mengawal pendistribusian air bersih.

Tak lama kemudian, para ibu rumah tangga keluar membawa galon, ember, dan berbagai wadah penampung air. Kehadiran truk tangki Polres Natuna menjadi kabar yang telah lama mereka tunggu di tengah kemarau panjang yang membuat aliran air bersih berhenti mengalir ke rumah-rumah warga.

Sejak Februari 2026 curah hujan di Kabupaten Natuna memang sangat rendah. Akibatnya, sejumlah sumber air alami mengalami penurunan debit. Sebagian warga pun terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sementara sebagian lainnya meminta air dari tetangganya yang memiliki sumur bor.

Kondisi itu akhirnya sampai ke telinga Bripka Remon Kurniawan. Sebagai Bhabinkamtibmas yang sehari-hari berinteraksi dengan masyarakat, ia mendengar langsung keluhan warga saat menjalankan tugas sambang dan komunikasi sosial.

Dari laporan itulah bantuan kemudian bergerak. Di Polres Natuna, informasi dari para Bhabinkamtibmas menjadi mata dan telinga pimpinan untuk mengetahui persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.

Persoalan kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Bunguran memang menjadi perhatian serius Kapolres Natuna AKBP Novyan Aries Efendie.

Sejak Januari hingga Mei 2026, Polres Natuna telah menyalurkan lebih dari 160 ribu liter air bersih kepada masyarakat. Bantuan itu didistribusikan dari desa ke desa, dari rumah ke rumah, termasuk ke sekolah-sekolah yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.

Di setiap pendistribusian, polisi tidak hanya mengantarkan air. Para Bhabinkamtibmas juga menyampaikan pesan-pesan kamtibmas, mengajak masyarakat menjaga lingkungan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan yang kerap meningkat saat musim kemarau.

Sejak awal 2026, Polres Natuna telah menyalurkan lebih dari 160 ribu liter air bersih sebagai bentuk kepedulian dan pengabdian kepada masyarakat yang terdampak kekeringan (Foto: dok. Humas Polres Natuna).

Kapolres Natuna AKBP Novyan Aries Efendie mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengabdian Polri kepada masyarakat sekaligus bentuk kehadiran negara melalui institusi kepolisian di tengah warga yang membutuhkan bantuan.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat membantu meringankan kebutuhan masyarakat, terutama warga nelayan dan masyarakat pesisir yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih,” ujarnya, Sabtu, 13 Mei 2026.

Manfaat bantuan itu dirasakan langsung oleh Imam, warga Lingkungan Puak, Kecamatan Bunguran Timur.

Sudah satu minggu air tidak lagi mengalir ke rumahnya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia terpaksa membeli air galon isi ulang seharga Rp5.000 per galon. Dalam sehari, sedikitnya dibutuhkan sekitar sepuluh galon untuk kebutuhan rumah tangga.

Pengeluaran tambahan itu tentu menjadi beban tersendiri.

“Untungnya ada bantuan air bersih dari Polres. Setidaknya ada persediaan sampai air mengalir lagi,” kata Imam.

Apa yang dilakukan Polres Natuna sejatinya merupakan bagian dari langkah antisipatif Polri menghadapi ancaman musim kemarau tahun 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada akhir Maret 2026 mencatat adanya kecenderungan transisi menuju fase El Nino, dengan intensitas lemah hingga moderat pada semester kedua tahun 2026. Peluang kemunculannya diperkirakan berada pada kisaran 50 hingga 80 persen.

Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan musim kemarau datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

Situasi itu menjadi perhatian Kepolisian Republik Indonesia. Dalam rapat kesiapsiagaan menghadapi fenomena El Nino pada 14 April 2026, Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo menekankan pentingnya langkah antisipasi terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, berkurangnya sumber air bersih, serta terganggunya distribusi pangan.

Menurutnya, sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci menghadapi ancaman tersebut.

Di tingkat daerah, semangat yang sama juga digaungkan Kapolda Kepulauan Riau Irjen Pol Asep Safrudin.

Pada awal tahun 2026, ia menekankan pentingnya optimalisasi kehadiran polisi di tengah masyarakat. Polisi, menurutnya, harus hadir tidak hanya ketika terjadi pelanggaran hukum, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan solusi atas persoalan sehari-hari.

“Masyarakat ingin polisi yang mengedepankan pencegahan dan edukasi, Polri yang humanis, persuasif, proaktif, sopan, ramah, dan komunikatif,” tegasnya.

Pendekatan yang mengedepankan pencegahan, edukasi, partisipasi, dan pemecahan masalah menjadi wajah Polri yang terus dibangun di wilayah Kepulauan Riau.

Di Natuna, Polri berupaya memastikan kehadirannya benar-benar dirasakan masyarakat. Melalui para Bhabinkamtibmas yang aktif menyerap aspirasi masyarakat, layanan Kepolisian 110 yang siap menerima laporan selama 24 jam, serta aksi nyata membantu masyarakat.*

*Penulis: ALFIANA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini