Sekolah Rakyat: Merawat Mimpi, Melahirkan Generasi Hebat di Tepi Negeri

Bupati Natuna, Cen Sui Lan, berfoto bersama siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 32 Natuna. Sekolah ini membuka harapan baru bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di daerah perbatasan. (Foto: mandalapos.co.id)

Natuna, mandalapos.co.id – “Saya harapan terakhir keluarga, karena anak-anak dari orang tua saya tidak ada yang jadi orang.”

Kalimat itu meluncur pelan dari bibir Syarifah Zarima Yura (14), seorang siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 32 Natuna.

Tak ada nada sedih dalam suaranya. Ia mengucapkannya seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan kenyataan hidup.

Pagi itu, Sabtu (6/6/2026), mandalapos menjumpai Syarifah di beranda sekolah SRT 32 Natuna. Wajahnya tampak cerah dan murah senyum. Sulit membayangkan bahwa gadis yang terlihat periang itu menyimpan beban tidak ringan.

Syarifah merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Ia lahir dan besar di Pulau Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna. Pulau yang dikenal sebagai “kota apung” itu, mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai nelayan dan pembudidaya ikan.

Ayah Syarifah seorang nelayan kecil, sedangkan ibunya tidak bekerja. Di keluarganya, tidak ada yang pernah menempuh pendidikan tinggi. Kendati demikian, Syarifah juga memiliki Impian dan cita-cita seperti anak-anak Indonesia lainnya.

Ia ingin menjadi dokter. Sebuah cita-cita yang bagi keluarga miskin di pulau terluar Indonesia, lebih terasa seperti kemewahan.

“Saya tahu orang tua saya tidak mungkin mampu membiayai kuliah kedokteran,” ujarnya.

Lantas kesadaran itu tidak membuatnya menyerah. Sebaliknya, Syarifah berusaha menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak harus menjadi batas bagi cita-cita.

“Makanya saya berusaha keras di sekolah ini supaya bisa sukses,” katanya.

Syarifah Zarima Yura, anak nelayan asal Pulau Sedanau, meraih medali perak Olimpiade Sains Pelajar Nasional 2026. Prestasi itu menjadi bukti bahwa kesempatan dapat mengantarkan mimpi lebih jauh. (Foto: dok. SRT 32 Natuna)

Upaya itu mulai menunjukkan hasil. Belum genap setahun belajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 32 Natuna, Syarifah berhasil meraih medali perak pada Olimpiade Sains Pelajar Nasional (OSPAN) 2026 cabang Ilmu Pengetahuan Alam tingkat SMP.

Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Syarifah hanyalah anak nelayan dari Pulau Sedanau yang tumbuh dalam keluarga sederhana. Namun berkat kesempatan belajar yang lebih baik dan lingkungan pendidikan yang mendukung, Syarifah sukses bersaing dengan pelajar berprestasi lainnya dari berbagai daerah di Indonesia.

Bagi SRT 32 Natuna capaian itu menjadi salah satu bukti, bahwa anak-anak dari keluarga miskin memiliki potensi yang sama untuk berkembang dan berprestasi ketika memperoleh kesempatan setara.

Di Sekolah Rakyat Terintegrasi 32 Natuna, kisah tentang harapan tidak hanya dimiliki Syarifah.

Ada pula Randika (17). Remaja itu kehilangan ayahnya tepat setelah menyelesaikan pendidikan Madrasah Tsanawiyah. Sejak saat itu, ibunya bekerja sebagai buruh di pabrik es di Kecamatan Pulau Tiga untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Ketika mendapat informasi tentang Sekolah Rakyat, ibunya meminta Randika untuk mendaftar.

“Ibu yang minta saya sekolah di sini. Katanya supaya pendidikan saya lebih terjamin dan bisa belajar disiplin,” ujarnya.

Di Sekolah Rakyat, Randika tidak hanya memperoleh akses pendidikan. Ia juga mulai menemukan ruang untuk mengembangkan kemampuan dirinya. Keikutsertaannya dalam seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka tingkat Kabupaten Natuna menjadi pengalaman yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Dari lingkungan sekolah berasrama, Randika belajar disiplin, kepemimpinan, dan kerja sama, nilai-nilai yang menurutnya penting untuk mewujudkan cita-citanya menjadi anggota Kepolisian Republik Indonesia.

Randika (17) ketika bertugas sebagai pengibar bendera di Sekolah Rakyat Terintegrasi 32 Natuna. Dari sekolah ini, ia menata mimpi menjadi anggota Polri.

Kisah Syarifah dan Randika hanyalah contoh kecil, dari masih banyaknya anak-anak di Natuna yang menghadapi keterbatasan ekonomi, sehingga berdampak pada akses pendidikan.

Sebagai daerah kepulauan, sebagian Warga Natuna masih menggantungkan hidup dari sektor perikanan skala kecil yang penghasilannya sangat bergantung pada musim dan cuaca. Ketika hasil tangkapan menurun, kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak ikut terdampak.

Hal ini selaras dengan data terbaru Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), terdapat 2.147 anak usia sekolah di Kabupaten Natuna yang berasal dari keluarga kategori Desil 1 dan Desil 2 atau kelompok masyarakat miskin ekstrem.

Jumlah tersebut menunjukkan bahwa masih banyak anak yang membutuhkan dukungan agar dapat memperoleh pendidikan secara berkelanjutan.

Kondisi itulah yang menjadi salah satu latar belakang lahirnya Program Sekolah Rakyat.

Presiden Prabowo Subianto menyebut kelompok masyarakat paling bawah sebagai the invisible people. Mereka hadir di berbagai sudut Indonesia, termasuk di wilayah perbatasan seperti Natuna, tetapi kerap belum memperoleh kesempatan yang sama dalam pendidikan dan pembangunan.

Dalam konteks pendidikan, kelompok ini mencakup anak-anak dari keluarga miskin yang berisiko putus sekolah atau tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Presiden Prabowo Subianto menyaksikan momen haru antara seorang ibu dan anak penerima manfaat Sekolah Rakyat. Bagi banyak keluarga, pendidikan menjadi harapan untuk mengubah masa depan. (Foto: dok. Kemensos RI)

Data Kementerian Sosial menunjukkan persoalan tersebut masih menjadi tantangan besar. Sebanyak 227 ribu anak usia sekolah dasar tercatat belum pernah sekolah atau putus sekolah. Angka itu meningkat menjadi sekitar 499 ribu anak pada jenjang SMP dan mencapai 3,4 juta anak pada jenjang SMA.

Di Natuna, Program Sekolah Rakyat hadir untuk menjangkau kelompok tersebut.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 32 Natuna, Bumi Selan, mengatakan, sejak beroperasi pada 22 September 2025, terdapat 93 siswa dari keluarga Desil 1 dan 2 yang menempuh pendidikan di SRT 32 Natuna.

Menurut dia, Sekolah Rakyat tak hanya menyediakan ruang belajar, tetapi juga memberikan lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh.

“Sekolah Rakyat ini memungkinkan yang tidak mungkin, menjangkau yang tidak terjangkau, dan memuliakan orang miskin,” kata Bumi kepada mandalapos, 5 Juni 2026.

Menurut Bumi, setiap siswa memiliki potensi yang sama untuk berkembang ketika diberikan kesempatan dan lingkungan yang mendukung.

Prestasi Syarifah di tingkat nasional dan keberhasilan Randika lolos seleksi Paskibra Kabupaten, menjadi gambaran awal perubahan yang terjadi di Sekolah Rakyat Terintegrasi 32 Natuna.

“Tujuan utama Sekolah Rakyat bukan hanya memastikan anak-anak dari keluarga miskin tetap bersekolah, tetapi juga menyiapkan mereka agar mampu bersaing di masa depan,” tuturnya.

Pandangan serupa juga pernah disampaikan Bupati Natuna, Cen Sui Lan, ketika meresmikan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada September 2025 lalu.

Menurutnya, tidak boleh ada anak Natuna yang kehilangan masa depan hanya karena lahir dari keluarga yang kurang mampu.

“Anak-anak Natuna memiliki kemampuan dan cita-cita yang sama dengan anak-anak di daerah lain. Melalui Sekolah Rakyat, mereka mendapatkan kesempatan untuk belajar, berkembang, dan mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu bersaing di masa depan,” ujar Cen Sui Lan.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya meninjau kediaman calon siswa Sekolah Rakyat. Program ini menjangkau anak-anak yang selama ini berada di lapisan paling rentan. (Foto: dok. Kemensos RI)

Hingga 2026, Sekolah Rakyat telah berkembang menjadi salah satu program pendidikan sosial terbesar yang dijalankan pemerintah.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan bahwa pendidikan menjadi instrumen penting untuk meningkatkan mobilitas sosial masyarakat miskin.

Menurut dia, Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan pendidikan formal, tetapi juga pengasuhan, pembinaan karakter, penguatan keterampilan, dan pendampingan yang memungkinkan siswa berkembang secara optimal.

Kementerian Sosial mencatat Sekolah Rakyat rintisan telah beroperasi di 166 titik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah kepulauan serta kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) seperti Natuna.

Bagi Natuna sendiri, Sekolah Rakyat hadir bukan sekedar membuka akses pendidikan bagi the invisible people. Lebih dari itu, sekolah ini sedang menumbuhkan generasi hebat dari tepian negeri untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. (*)

**Penulis: ALFIANA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini