Anambas, mandalapos.co.id — Pemerintah pusat kembali mengalokasikan program revitalisasi pendidikan untuk Kabupaten Kepulauan Anambas. Tahun ini, sebanyak 32 satuan pendidikan di wilayah perbatasan tersebut mendapat bantuan, meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada 2025, program revitalisasi pendidikan hanya menyasar sembilan sekolah di Kabupaten Kepulauan Anambas. Tahun ini, jumlahnya bertambah menjadi 32 sekolah yang tersebar di sejumlah wilayah kepulauan, mulai dari Siantan, Jemaja, Palmatak hingga daerah lainnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Anambas, Tony Karnin, mengatakan peningkatan tersebut menjadi kabar baik bagi daerah, terutama di tengah keterbatasan kemampuan anggaran pemerintah daerah.
“Memang revitalisasi untuk Anambas tahun ini meningkat berkali-kali lipat. Tahun kemarin kita mendapatkan sembilan sekolah, mulai dari jenjang PAUD, SD hingga SMP. Tahun ini jumlahnya menjadi 32 sekolah,” ujar Tony saat dikonfirmasi, Senin (31/8/2026).
Tony menjelaskan, jumlah penerima program tersebut sebelumnya tercatat sebanyak 28 sekolah. Namun, pemerintah pusat kembali menambahkan empat sekolah sehingga total penerima revitalisasi tahun ini mencapai 32 satuan pendidikan.
Menurutnya, tambahan program tersebut menunjukkan semakin besarnya perhatian pemerintah pusat terhadap kebutuhan infrastruktur pendidikan di daerah perbatasan.
Terlebih, pembangunan dan perbaikan sarana pendidikan menjadi tantangan tersendiri bagi Anambas yang memiliki karakter wilayah kepulauan dengan kondisi geografis yang tersebar.
“Program ini sangat penting untuk Anambas, apalagi di tengah kondisi keuangan daerah saat ini. Nilai anggaran yang dikucurkan pemerintah pusat untuk revitalisasi pendidikan di Anambas mencapai belasan miliar rupiah,” ungkapnya.
Tony menilai bertambahnya sekolah penerima bantuan tidak terlepas dari komunikasi dan koordinasi yang terus dilakukan pemerintah daerah dengan pemerintah pusat.
Selain itu, pembenahan dan pemutakhiran data pendidikan juga menjadi faktor penting dalam memastikan kebutuhan sekolah di daerah dapat teridentifikasi dengan baik.
“Ini menunjukkan bahwa data pendidikan di Anambas semakin baik. Kemudian pemerintah daerah juga cukup agresif melakukan koordinasi ke pemerintah pusat untuk mendapatkan program-program tersebut,” katanya.
Dikerjakan Secara Swakelola
Berbeda dengan pekerjaan konstruksi yang sepenuhnya diserahkan kepada pihak ketiga, pelaksanaan program revitalisasi pendidikan ini menggunakan sistem swakelola.
Sekolah penerima bantuan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Masing-masing sekolah diwajibkan membentuk tim, mulai dari tim perencana, tim pelaksana hingga tim teknis.
“Program revitalisasi ini menggunakan sistem swakelola. Dana dan program langsung ke sekolah. Sekolah harus membentuk tim, mulai dari tim perencana hingga tim teknis. Pelaksanaannya juga melibatkan masyarakat setempat,” jelas Tony.
Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Anambas kemudian melakukan monitoring dan evaluasi untuk memastikan pelaksanaan kegiatan berjalan sesuai ketentuan.
Pendampingan juga dilakukan bersama pihak terkait di tingkat Provinsi Kepulauan Riau.
Tony mengatakan pelaksanaan program revitalisasi pada 2025 menjadi pengalaman penting bagi pemerintah daerah. Dari sembilan sekolah yang mendapatkan bantuan, seluruh kegiatan dapat diselesaikan tanpa persoalan berarti.
“Alhamdulillah, tahun 2025 semuanya dapat diselesaikan. Tidak ada masalah yang berarti. Tentunya keberhasilan pelaksanaan sebelumnya juga menjadi salah satu alasan sehingga tahun ini ada penambahan bantuan dari pemerintah pusat,” ujarnya.
Tantangan Distribusi Material
Meski mendapat dukungan anggaran dari pemerintah pusat, pelaksanaan revitalisasi pendidikan di Anambas tetap menghadapi tantangan geografis.
Sekolah-sekolah penerima bantuan berada di sejumlah pulau yang memiliki akses transportasi berbeda. Kondisi tersebut membuat distribusi material bangunan menjadi salah satu persoalan yang harus diperhitungkan sejak awal.
Tony mengatakan cuaca dan kondisi gelombang laut dapat memengaruhi proses pengiriman material menuju lokasi sekolah.
“Kendala utama memang distribusi material. Karena sekolah-sekolah kita tersebar di pulau-pulau, jadi sangat bergantung pada kondisi cuaca dan gelombang,” katanya.
Karena itu, pihaknya berharap seluruh pihak yang terlibat dapat mengantisipasi kondisi tersebut sehingga pelaksanaan revitalisasi 32 sekolah tahun ini dapat berjalan lancar dan selesai sesuai target.
Bagi Anambas, program revitalisasi tersebut bukan hanya menyangkut perbaikan bangunan sekolah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memastikan anak-anak di wilayah kepulauan memperoleh fasilitas pendidikan yang layak.
*YAHYA





















