Mandalapos.co.id, Natuna — Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dikeluhkan nelayan di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.
Hendri, Ketua Aliansi Nelayan Natuna (ANNA) mengatakan, biaya melaut akan semakin tinggi, sementara hasil tangkapan sudah jauh berkurang akibat semakin maraknya kapal ikan asing dan kapal cantrang di Laut Natuna.
“Di SPBN Solar dari Rp5.150 menjadi Rp6.800 per liter. Tapi imbas kenaikan ini juga akan berpengaruh kepada kebutuhan melaut lainnya. Seperti es, ransum makan, dan alat-alat penangkapan,” tutur Hendri, Kamis (8/9).
Menurut Hendri, biaya operasional nelayan untuk melaut bakal meningkat mencapai 20 hingga 30 persen.
Kondisi ini pun ibarat pil pahit yang terpaksa ditelan nelayan. Pasalnya, kenaikan BBM ternyata tak melulu mempengaruhi harga jual ikan ke pengusaha atau pengepul, akibatnya pendapatan nelayan menurun.
“Kalau harga jual ikan, terutama ikan jenis ekspor dan ikan lokal antar pulau, belum tentu naik karena tergantung harga pasarnya, ” ujar Hendri.
Ditemui terpisah, Nelayan Natuna bernama Zaki, mengeluhkan harga BBM yang kini tak bersahabat bagi nelayan. Apalagi katanya, tangkapan ikan harian kini mulai berkurang.
Zaki juga khawatir pendapatannya dari hasil melaut tak bisa menutupi biaya operasional yang dikeluarkan. Terlebih, kenaikan BBM juga akan menaikan harga bahan pokok kebutuhan rumah tangga.
“Kalau bisa untuk nelayan harga solar dikembalikan semula,” harapnya. ***Alfian
























