Anambas, mandalapos.co.id — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tarempa memastikan seluruh bahan baku Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digunakan telah melalui proses seleksi sesuai standar yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Selain itu, SPPG juga menggandeng sedikitnya 15 pelaku UMKM lokal sebagai pemasok bahan pangan.
Kepala SPPG Desa Tarempa Barat kecamatan Siantan kabupaten kepulauan Anambas saat di konfirmasi Selasa ( 28/7/2026 ). Mesy Arista menjelaskan, pasokan beras diperoleh melalui agen lokal, yakni Toko Mulia milik Hohong di Tarempa. Sementara telur dipasok dari pelaku usaha lokal bernama Ilham.
Untuk kebutuhan ayam, SPPG bekerja sama dengan pihak ketiga yang telah memenuhi persyaratan administrasi dan standar penyimpanan sesuai ketentuan BGN.
“Yang menjadi pertimbangan bukan hanya harga, tetapi juga kualitas, sistem pemotongan, penyimpanan, distribusi, serta kelengkapan administrasi. Semua harus sesuai standar dari BGN,” ujarnya.
Ia mengatakan, setelah adanya kasus dugaan keracunan makanan di salah satu daerah, pihak BGN turut melakukan pengecekan terhadap asal-usul bahan pangan yang digunakan SPPG, termasuk pasokan ayam.
Menurutnya, mitra pemasok yang digunakan telah memiliki fasilitas penyimpanan yang memadai serta dokumen yang lengkap sehingga dinilai memenuhi standar.
Selain menggandeng pemasok lokal, SPPG juga melibatkan sekitar 15 UMKM di Kabupaten Kepulauan Anambas untuk memenuhi kebutuhan sayur-mayur, cabai, tempe, dan berbagai bahan pangan lainnya.
“BGN memang mengarahkan agar SPPG merangkul UMKM, BUMDes, petani, dan nelayan. Tujuannya supaya tidak terjadi monopoli perdagangan oleh satu pemasok saja,” jelasnya.
Sementara untuk kebutuhan buah, SPPG masih mendatangkan dari luar daerah karena mempertimbangkan ketersediaan pasokan dan harga yang sesuai.
Dalam upaya menjaga keamanan pangan, SPPG menerapkan prosedur pengawasan yang ketat. Sebelum dapur mulai beroperasi, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan instansi terkait untuk melakukan pemeriksaan dapur.
Selain itu, setiap makanan yang diproduksi selalu disisihkan sebagai sampel.
“Setiap hari kami menyimpan sampel makanan. Kalau suatu saat terjadi kejadian luar biasa, sampel tersebut akan diperiksa untuk mengetahui penyebabnya, apakah berasal dari makanan atau faktor lain,” katanya.
Ia menambahkan, apabila terbukti terjadi masalah yang berasal dari dapur, maka operasional SPPG dapat dihentikan sementara untuk dilakukan evaluasi sesuai prosedur.
Saat ini SPPG Tarempa melayani 3.118 penerima manfaat yang berasal dari 12 sekolah dan tiga pos pelayanan.
Ke depan, pihak SPPG berharap akan ada penambahan dapur MBG di Kabupaten Kepulauan Anambas sehingga semakin banyak UMKM lokal yang dapat dilibatkan dalam rantai pasok program tersebut.
“Kami tidak menutup diri terhadap kritik dan masukan. Harapan kami, program ini terus berjalan dengan baik, tidak ada kendala, dan yang paling penting tidak terjadi kasus keracunan sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” tutupnya.*
*YAHYA




















