
Bengkalis, mandalapos.co.id – Sebanyak 56.379 pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) tercatat di Kabupaten Bengkalis hingga 2026. Pemerintah daerah kini mendorong para pelaku usaha tersebut tidak hanya bertambah secara jumlah, tetapi mampu berkembang, naik kelas dan memperluas pasar hingga ke negara tetangga.
Wakil Bupati Bengkalis Dr. H. Bagus Santoso mengatakan, posisi Bengkalis yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka memberikan peluang besar bagi UMKM untuk masuk ke pasar regional, khususnya Malaysia, Singapura dan negara-negara di kawasan sekitarnya.
Hal itu disampaikannya saat membuka Dialog Interaktif Luar Studio RRI bertema “UMKM sebagai Penggerak Ekonomi Masyarakat di Daerah Perbatasan” di Pendopo Wisma Daerah Bengkalis, Senin (21/9/2026).
Menurut Bagus, pengembangan UMKM tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah pelaku usaha. Pemerintah perlu membangun ekosistem yang memungkinkan pelaku usaha bertahan, meningkatkan kualitas produk, menciptakan lapangan kerja dan memperluas akses pasar.
“Kita mendorong UMKM bukan sekadar bertambah jumlahnya, tetapi bagaimana mereka bisa tumbuh, berkembang, naik kelas, dan mampu bersaing,” tegas Bagus.
Pemerintah Kabupaten Bengkalis, kata dia, memperkuat ekosistem tersebut melalui pendataan pelaku usaha, peningkatan kapasitas, fasilitasi legalitas dan sertifikasi, akses pembiayaan, digitalisasi, inovasi, penguatan koperasi hingga perluasan pasar.
Potensi Bengkalis juga dinilai cukup besar untuk mendorong UMKM menghasilkan produk bernilai tambah. Sektor perikanan, pertanian, perkebunan, kuliner, kerajinan, pariwisata hingga ekonomi kreatif dapat dikembangkan untuk memenuhi pasar yang lebih luas.
Namun, peluang tersebut harus diikuti dengan peningkatan kualitas produk, standardisasi, legalitas, kemasan, kemampuan digital serta konektivitas dan akses pemasaran.
“Kita tidak hanya membangun produk, tetapi juga membangun jalannya produk agar sampai ke tangan pembeli,” ujar Bagus.
Dari sisi pendampingan, Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Bengkalis mencatat hingga September 2026 sebanyak 1.846 pelaku usaha mikro telah mendapatkan pendampingan.
Selain itu, sebanyak 202 pelaku usaha memperoleh rekomendasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI), 253 pelaku usaha difasilitasi sertifikasi halal, 122 pelaku usaha mendapatkan rekomendasi XSTAR, serta 1.267 orang mengikuti berbagai kegiatan pelatihan, sosialisasi, bazar dan pengembangan kapasitas.
Pengalaman pelaku usaha lokal juga menunjukkan peluang tersebut bukan sekadar potensi. Kepala Desa Bantan Timur sekaligus pelaku usaha arang kayu, Sani, membagikan pengalamannya menembus pasar ekspor ke Tiongkok, dengan bahan baku dari Malaysia dan pembeli dari Singapura.
Ia mengajak generasi muda Bengkalis untuk tidak ragu mengembangkan usaha dan karya yang dimiliki.
“Yakinlah pada apa yang kita buat, lalu fokus. Fokuslah pada karya kita,” ujarnya.
Sementara itu, pelaku UMKM Rumah Jahit Lestari, Suci, mendorong terbentuknya komunitas usaha di tingkat desa dengan melibatkan pemerintah desa, PKK dan masyarakat. Menurutnya, komunitas dapat menjadi ruang untuk mengembangkan keterampilan sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru.
Dalam dialog tersebut, mahasiswa juga menyoroti sejumlah persoalan yang masih dihadapi pelaku UMKM, mulai dari akses permodalan, dukungan inovasi hingga peluang pemasaran produk lokal ke Malaysia, Singapura dan negara tetangga lainnya.
Menanggapi hal tersebut, Bagus mengajak generasi muda untuk berani masuk ke dunia usaha dengan membangun kolaborasi bersama pemerintah, dunia usaha, industri, perguruan tinggi dan lembaga keuangan.
“Jangan takut gagal. Jangan takut mencoba, tapi takutlah jika kalian tidak pernah mencoba,” pesannya.
Ia juga mendorong lulusan perguruan tinggi untuk melihat kewirausahaan sebagai salah satu pilihan masa depan, bukan hanya mengejar pekerjaan sebagai aparatur pemerintah.
Menurutnya, generasi muda dapat belajar dari pelaku usaha yang telah berhasil melalui prinsip Amati, Tiru dan Modifikasi (ATM), kemudian mengembangkan model usaha sesuai potensi dan kebutuhan daerah.
Pemerintah Kabupaten Bengkalis membuka ruang pendampingan bagi masyarakat yang ingin memulai maupun mengembangkan usaha melalui Dinas Koperasi serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian.
“Yakinlah, UMKM akan menjadi pilar pertumbuhan ekonomi dan gerakan ekonomi riil bagi Kabupaten Bengkalis,” pungkasnya.
Dialog yang digelar bersama RRI tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku UMKM, mahasiswa, akademisi dan masyarakat. Forum itu sekaligus menjadi ruang untuk membahas bagaimana potensi Bengkalis sebagai daerah perbatasan dapat diterjemahkan menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat.
Dengan jumlah pelaku UMKM yang mencapai puluhan ribu, tantangan Bengkalis ke depan bukan hanya menciptakan semakin banyak pelaku usaha, tetapi memastikan produk lokal memiliki kualitas, daya saing dan akses pasar yang cukup untuk bergerak dari pasar lokal menuju pasar nasional hingga internasional.
*ALHAFISH



















