
Natuna, mandalapos.co.id — Komunitas lingkungan dan penyelam di Natuna mengungkap dugaan penggunaan potasium dalam aktivitas penangkapan ikan menjadi salah satu penyebab kerusakan terumbu karang di perairan Pulau Senua, Kabupaten Natuna.
Koordinator Gerakan Bersih Pantai Pulau Senua, Cherman, mengatakan pihaknya menemukan indikasi pemutihan terumbu karang yang tidak sepenuhnya disebabkan oleh perubahan iklim, tetapi juga diduga akibat penggunaan bahan kimia berbahaya di laut.
“Pemutihan terumbu karang di Pulau Senua kami temukan tidak hanya terjadi karena perubahan iklim, tetapi akibat kegiatan menggunakan potasium juga sangat kami yakini terjadi,” kata Cherman, Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, indikasi tersebut ditemukan saat komunitas penyelam melakukan pemantauan bawah laut di kawasan Pulau Senua.
Dalam beberapa kesempatan penyelaman, mereka menemukan cairan menyerupai lendir keluar dari gugusan terumbu karang. Tidak lama kemudian, karang yang sebelumnya sehat mulai mengalami pemutihan dan kerusakan yang menyebar mengikuti arah arus laut.
“Saat kegiatan penyelaman kami menjumpai seperti lendir keluar dari gugusan terumbu karang. Tidak lama kemudian karangnya sudah memutih sebagian dan menjalar mengikuti pola arus,” ujarnya.

Cherman menjelaskan, potasium atau racun yang digunakan untuk menangkap ikan dapat menyebabkan kematian polip karang yang menjadi organisme utama pembentuk terumbu karang.
Ketika polip mati, karang akan kehilangan warna alaminya, mengalami pemutihan (coral bleaching), menjadi rapuh, lalu perlahan ambruk.
“Terumbu karang akan mati secara masif jika terkena potasium. Polip karang akan mati, karang menjadi putih, rapuh dan ambruk. Kalau rumah ikan sudah rusak, ikannya juga akan pergi,” katanya.
Ia menegaskan dampak penggunaan potasium tidak hanya merusak terumbu karang, tetapi juga mematikan berbagai biota laut lain yang berada dalam jalur penyebaran racun tersebut.
Mulai dari telur ikan, larva, udang, kepiting, plankton hingga organisme mikroskopis yang menjadi bagian penting dari rantai makanan laut dapat terdampak.
“Akibat potasium tidak hanya terumbu karang. Biota laut yang besar hingga yang paling kecil yang tidak terlihat oleh mata juga akan mati. Telur ikan, kepiting, udang, karang dan semua makhluk hidup yang dilewati racun itu akan musnah,” ujarnya.
Menurut Cherman, kerusakan ekosistem laut akibat potasium memiliki dampak jangka panjang terhadap keberlanjutan sumber daya perikanan di Natuna.
Ketika terumbu karang rusak, habitat ikan akan hilang sehingga populasi ikan perlahan menurun. Dampak tersebut pada akhirnya juga dirasakan langsung oleh nelayan yang menggantungkan hidup dari hasil laut.
“Dampaknya luar biasa merusak. Kalau ekosistem laut rusak, yang rugi bukan hanya lingkungan, tetapi juga masyarakat yang hidup dari laut,” katanya.
Ia berharap aparat penegak hukum dan instansi terkait dapat meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas penangkapan ikan yang menggunakan metode merusak, terutama di kawasan wisata dan geosite Pulau Senua.
Selain menjadi destinasi wisata unggulan Natuna, kawasan perairan Pulau Senua juga dikenal memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi dan menjadi habitat berbagai jenis ikan karang.*
*ALFIAN



















