Pemerintah Siapkan Nelayan Natuna Operasikan Kapal Besar, Solar Ice Maker Akan Direplikasi

Wamenlu RI, Arif Havas Oegroseno didampingi Bupati Natuna, Cen Sui Lan, saat memberikan keterangan pers usai melaksanakan rapat koordinasi di Kantor Bupati Natuna (26/8). (Foto: Alfian/mandalapos)

Natuna, mandalapos.co.id — Pemerintah pusat menyiapkan penguatan kapasitas nelayan Natuna menyusul rencana pengadaan dan penyerahan kapal perikanan berukuran besar ke daerah perbatasan tersebut.

Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arif Havas Oegroseno, mengatakan, program pembangunan kapal perikanan dengan berbagai ukuran telah menjadi bagian dari kebijakan pemerintah untuk memperkuat sektor kelautan dan perikanan nasional.

Program tersebut mencakup pembangunan kapal mulai dari ukuran 5 Gross Ton (GT), 10 GT, 30 GT hingga kapal dengan kapasitas di atas 30 GT.

“Dalam konteks persiapan itu nanti akan ada kapal-kapal yang diserahkan ke Natuna,” ujarnya saat berkunjung ke Natuna, Rabu (26/8).

Menurutnya, masuknya kapal berukuran besar harus diikuti dengan peningkatan kemampuan dan keterampilan nelayan lokal.

Pasalnya, sebagian besar nelayan Natuna saat ini masih menggunakan kapal berukuran kecil.

“Ini perlu penguatan kapasitas nelayan Natuna agar bisa mengoperasikan kapal-kapal besar seperti itu. Karena rata-rata nelayan Natuna menggunakan kapal di bawah 5 GT,” katanya.

Kondisi tersebut, menurut dia, tidak hanya terjadi di Natuna. Secara nasional, sebagian besar nelayan Indonesia juga masih berada pada kelompok usaha perikanan skala kecil.

Ia menyebut jumlah nelayan Indonesia mencapai sekitar 3,2 juta orang dan lebih dari 90 persen di antaranya menggunakan kapal dengan ukuran di bawah 5 GT.

Karena itu, peningkatan kapasitas nelayan dinilai penting agar masyarakat pesisir tidak hanya menjadi penerima bantuan kapal, tetapi juga benar-benar mampu mengoperasikan dan memanfaatkan kapal tersebut untuk meningkatkan hasil tangkapan.

Selain penguatan armada, pemerintah juga membuka peluang mereplikasi program solar ice maker di Natuna.

Teknologi tersebut merupakan sistem pembuatan es menggunakan energi matahari yang sebelumnya telah diterapkan di wilayah Maluku melalui kerja sama dengan UNDP.

Program tersebut dirancang untuk membantu nelayan menjaga kualitas hasil tangkapan, terutama di wilayah kepulauan yang memiliki jarak tempuh cukup jauh menuju pusat pemasaran.

“Dulu nelayan hanya bisa melaut sehari karena persoalan penyimpanan ikan. Sebelum ada sistem ini, banyak ikan yang tidak diterima karena sudah mengalami penurunan kualitas,” ujarnya.

Melalui teknologi solar ice maker, nelayan memperoleh pasokan es balok untuk menjaga ikan tetap segar selama berada di laut maupun dalam proses distribusi.

Menurutnya, program percontohan di Maluku menunjukkan hasil yang signifikan.

Sebelum program tersebut berjalan, tingkat penolakan hasil tangkapan akibat masalah kualitas mencapai sekitar 60 persen. Setelah tersedia fasilitas penyimpanan dan es balok, tingkat penerimaan ikan meningkat hingga sekitar 99 persen.

Produksi dan pemasaran hasil perikanan di daerah tersebut juga mengalami peningkatan.

“Produksinya bisa meningkat sampai 120 ton per bulan. Karena itu kita melihat kemungkinan untuk mereplikasi program ini di Natuna,” katanya.

Ia menilai kondisi geografis Natuna memiliki sejumlah kesamaan dengan wilayah kepulauan di Maluku, terutama terkait jarak antarpulau dan kebutuhan menjaga kualitas hasil tangkapan selama proses distribusi.

Dalam skema yang telah diterapkan di Maluku, pemerintah daerah menyediakan lokasi, sementara pendanaan awal program didukung oleh lembaga internasional.

Setelah program berjalan, perusahaan swasta membeli dan mengoperasikan peralatan tersebut. Nelayan kemudian mendapatkan akses terhadap es untuk menunjang aktivitas melaut sekaligus membangun kerja sama pemasaran hasil tangkapan.

Wamenlu menilai peluang pasar perikanan Natuna sebenarnya cukup besar karena lokasinya relatif dekat dengan sejumlah negara tujuan ekspor.

“Pasar Natuna menurut saya cukup dekat, seperti Malaysia, Singapura, Korea, Jepang, Tiongkok dan pasar internasional lainnya,” ujarnya.

Dengan jarak pasar yang relatif lebih dekat dibandingkan sejumlah daerah penghasil ikan lainnya, penguatan rantai dingin dan kualitas hasil tangkapan dinilai dapat menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan nilai ekonomi sektor perikanan Natuna.*

*Zubadri

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini