Gotong Royong Nyalakan Pelita, Merawat Kemanusiaan di Tanah Natuna

Melalui program Light Up The Dream, PLN ULP Natuna membantu pemasangan sambungan listrik di rumah Nenek Zaleha, warga Kelurahan Ranai Darat. Di usianya yang hampir satu abad, ia kini dapat menikmati penerangan dari sambungan listrik milik sendiri. (Foto: dok. PLN ULP Natuna)

Natuna, mandalapos.co.id – Sebuah rumah panggung berdinding kayu berdiri sederhana di antara bangunan-bangunan beton di sekitarnya. Letaknya hanya sekitar dua kilometer dari Kota Ranai, pusat aktivitas ekonomi Kabupaten Natuna.

Rumah khas Melayu itu tampak mulai lapuk dimakan usia. Cat dindingnya kusam, atap sengnya dipenuhi karat, sementara halaman di sekelilingnya terlihat lengang.

Dari luar, rumah itu sekilas seperti tak berpenghuni. Namun, di dalamnya seorang perempuan berusia hampir satu abad menghabiskan hari-hari dalam kesunyian. Namanya Zaleha (92).

Warga Kelurahan Ranai Darat, Kecamatan Bunguran Timur, itu menjalani masa tuanya dalam keterbatasan. Suami dan anak-anaknya telah lama meninggal dunia. Kini, sang cucu menjadi orang yang merawat sekaligus memenuhi kebutuhan hidupnya.

Di rumah itulah Nenek Zaleha menghabiskan hari-harinya. Bahkan, untuk menikmati penerangan pada malam hari, ia masih harus bergantung pada kabel listrik yang ditarik dari rumah cucunya, tepat di seberang rumahnya.

Rumah Nenek Zaleha memang belum memiliki sambungan listrik sendiri. Sebuah kabel yang terbentang dari rumah cucunya menjadi satu-satunya cara agar rumah kayu itu tidak sepenuhnya gelap ketika malam tiba.

Kondisi tersebut mengundang perhatian Lurah Ranai Darat, Era Juein Marisa. Bukan hanya karena rumah Nenek Zaleha belum memiliki instalasi listrik sendiri, tetapi juga karena kondisi ekonomi keluarganya yang serba terbatas.

Sehari-hari, kebutuhan makan Nenek Zaleha bergantung pada sang cucu. Sementara itu, suami cucunya hanya bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu.

“Cucu Nenek Zaleha juga orang susah, suaminya hanya kerja serabutan,” kata Era kepada Mandalapos, 3 November 2026.

Bagi pemerintah kelurahan, keluarga tersebut termasuk warga yang selalu diprioritaskan ketika ada penyaluran bantuan sosial. Namun, kondisi rumah Nenek Zaleha yang belum memiliki sambungan listrik sendiri terus mengusik pikiran Era.

Ia kemudian berusaha mencari jalan agar perempuan lanjut usia itu bisa menikmati listrik sebagaimana keluarga lainnya.

Suatu ketika, Era memberanikan diri mendatangi kantor PLN ULP Natuna. Ia ingin mengetahui apakah perusahaan listrik negara itu memiliki program bantuan pemasangan sambungan listrik gratis bagi masyarakat kurang mampu.

“Saya beranikan diri datang ke kantor PLN. Saya tanya sama manajernya, Pak, ada tidak program untuk pemasangan listrik gratis?” cerita Era.

Era tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa foto dan video yang memperlihatkan kondisi rumah serta kehidupan Nenek Zaleha. Ia ingin pihak PLN melihat langsung keadaan warganya yang memang membutuhkan bantuan.

Respons yang diterimanya di luar dugaan. Setelah mendengar penjelasan dan melihat kondisi keluarga tersebut, manajemen PLN ULP Natuna langsung menurunkan tim teknis untuk membantu pemasangan instalasi listrik.

“Saya kaget ternyata langsung direspons. Saya lihat tidak harus bersurat resmi baru ditanggapi, dokumen nenek Zaleha cukup dikirim lewat WA saja. Kami sangat bersyukur atas respons cepat PLN,” tuturnya.

Pada 4 Maret 2026, rumah Nenek Zaleha akhirnya memperoleh sambungan listrik sendiri melalui program Light Up The Dream (LUTD) PLN ULP Natuna. Sejak saat itu, ia tak lagi harus bergantung pada aliran listrik dari rumah cucunya untuk mendapatkan penerangan.

Bagi Era, bantuan itu menjadi kebahagiaan tersendiri untuknya. Sebab, di tengah keterbatasan yang dialami warga kelurahan yang ia pimpin, ada kebutuhan sederhana yang akhirnya dapat terpenuhi.

Terang yang Membuka Kesempatan

Jika di Ranai Darat listrik menjadi kebutuhan dasar bagi seorang perempuan lanjut usia, di Desa Kelarik, Kecamatan Bunguran Utara, akses energi membuka kesempatan bagi seorang ibu rumah tangga untuk mengembangkan usaha kecilnya.

Namanya Peni, setiap hari ia berjualan es dan berbagai jajanan untuk anak-anak sekolah melalui kantin kecil di depan rumahnya. Dari usaha sederhana itu, ia berusaha memenuhi kebutuhan keluarga.

Penghasilannya tak seberapa. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, ia harus mengatur pendapatan dengan cermat. Kondisi ekonomi tersebut membuatnya belum mampu membiayai pemasangan sambungan listrik PLN secara mandiri.

Peni, pelaku UMKM di Desa Kelarik, menerima bantuan dari YBM An-Nur PLN ULP Natuna. Bantuan tersebut menjadi bentuk kepedulian untuk mendukung masyarakat kecil, termasuk pelaku usaha rumahan yang membutuhkan dukungan agar aktivitas ekonominya terus berjalan. (Foto: dok. PLN ULP Natuna)

Kisah Peni kemudian mendapat perhatian PLN ULP Natuna. Melalui Yayasan Baitul Maal (YBM) An-Nur PLN ULP Natuna, ia memperoleh bantuan penyambungan listrik gratis.

Bantuan itu menjadi berarti bagi Peni. Sebab, listrik bukan hanya memberikan penerangan bagi rumahnya, tetapi juga mendukung aktivitas usaha yang menjadi sumber penghidupan keluarga.

“Terima kasih PLN, alhamdulillah saya sangat terbantu sekali dengan bantuan ini,” ucapnya saat dihubungi pada 28 Oktober 2026.

Bantuan kepada Peni dan Nenek Zaleha memang berasal dari program yang berbeda. Nenek Zaleha memperoleh sambungan listrik melalui Light Up The Dream, sedangkan bantuan untuk Peni disalurkan melalui YBM An-Nur PLN ULP Natuna.

Light Up The Dream merupakan inisiatif sosial PLN untuk membantu keluarga kurang mampu mendapatkan sambungan listrik. Program ini berjalan melalui donasi sukarela pegawai PLN sebagai bentuk gotong royong untuk menghadirkan akses listrik bagi masyarakat yang membutuhkan.

Sementara itu, YBM An-Nur PLN mengelola dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) dari pegawai PLN yang beragama Islam. Dana tersebut dihimpun untuk disalurkan melalui berbagai program sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Manager PLN ULP Natuna, Tasnim, mengatakan kegiatan berbagi dan bantuan pemasangan listrik tersebut menjadi bagian dari kepedulian insan PLN terhadap masyarakat. Penyalurannya biasanya dilakukan pada momentum tertentu, seperti peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Listrik Nasional.

Menurutnya, kegiatan itu dapat berjalan karena adanya kesediaan pegawai untuk menyisihkan sebagian rezeki secara sukarela.

“Kita tidak pernah memaksa kawan-kawan di kantor. Mereka sendiri yang memang sukarela ingin membantu, makanya bisa berjalan sampai sekarang,” ujar Tasnim, saat ditemui mandalapos, 30 Oktober 2026.

Petugas PLN ULP Natuna memastikan meteran listrik terpasang di rumah warga penerima manfaat program Light Up The Dream. Bagi keluarga yang selama ini hidup dengan keterbatasan, sambungan listrik mandiri membawa kemudahan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. (Foto: dok. PLN ULP Natuna)

Kepedulian tersebut tidak hanya diwujudkan melalui bantuan pemasangan listrik. PLN ULP Natuna juga menjalankan sejumlah kegiatan sosial lain, seperti bantuan sembako, perlengkapan sekolah, hingga dukungan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Pada Ramadan 1447 Hijriah, misalnya, bantuan disalurkan kepada 22 penerima. Kemudian melalui program Sembako Napkah pada Mei 2026, sebanyak 20 orang menerima bantuan. Pada Juli 2026, program Back to School menyasar 25 anak, sedangkan dalam rangka Hari Listrik Nasional ke-81 pada Oktober 2026, bantuan sembako diberikan kepada 19 orang.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa upaya menghadirkan terang tidak hanya dimaknai sebagai pemasangan instalasi listrik. Di baliknya, terdapat kepedulian untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar sekaligus membuka kesempatan yang lebih baik bagi keluarga prasejahtera.

Gotong Royong Menghadirkan Cahaya

Di wilayah kepulauan seperti Natuna, pemerataan akses listrik bukan pekerjaan sederhana. Jarak antarpulau, kondisi geografis, serta keterbatasan akses transportasi menjadi tantangan tersendiri dalam menjangkau masyarakat hingga ke pelosok.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kabupaten Natuna dihuni sekitar 86,7 ribu jiwa pada 2025. Penduduk tersebut tersebar di 70 desa, 7 kelurahan, dan 27 pulau. Sebaran permukiman yang tidak seluruhnya berada dalam satu daratan, membuat upaya menghadirkan layanan kelistrikan membutuhkan perencanaan dan dukungan operasional yang tidak sedikit.

Bagi PLN, menjangkau desa-desa yang terpisah oleh laut berarti menghadapi tantangan biaya, logistik, dan kondisi alam. Dari sisi bisnis, pelayanan ke wilayah dengan jumlah pelanggan terbatas dan akses yang sulit tentu tidak menguntungkan.

Namun, sejalan dengan program pemerintah untuk memastikan seluruh masyarakat Indonesia memperoleh akses listrik, PLN terus berupaya memperluas layanan hingga ke wilayah terluar.

“Kami tidak lagi memikirkan untung dan rugi, tapi lebih ke sisi kemanusiaannya. Kami berupaya mengaliri listrik ke seluruh desa apa pun tantangannya,” ujar Tasnim.

Senyuman warga menyambut bantuan pemasangan listrik dari PLN ULP Natuna melalui program Light Up The Dream. Bagi keluarga prasejahtera, sambungan listrik mandiri bukan sekadar tambahan fasilitas, tetapi juga kesempatan untuk menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih leluasa. (Foto: dok. PLN ULP Natuna)

Menurut Tasnim, listrik yang tersedia selama 24 jam membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat. Listrik bukan hanya menjadi sumber penerangan, melainkan juga fondasi bagi pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, hingga pertumbuhan ekonomi.

Dengan pasokan listrik sepanjang hari, anak-anak memiliki kesempatan belajar lebih baik, fasilitas kesehatan dapat beroperasi lebih optimal, sementara pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki ruang lebih luas untuk meningkatkan produktivitas.

Di wilayah terluar Indonesia seperti Natuna, kehadiran listrik 24 jam menjadi bagian dari upaya memperkecil kesenjangan pembangunan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Selain memperluas layanan ke desa-desa, PLN juga mendukung program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) yang diinisiasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Program ini menyasar rumah tangga yang belum memiliki sambungan listrik sendiri.

Tasnim mengungkapkan, pada 2026 program BPBL di wilayah Pulau Bunguran, Natuna, mencatat 727 calon penerima manfaat. Setelah melalui proses verifikasi, sebanyak 707 warga dinyatakan memenuhi persyaratan.

Hingga 27 Oktober 2026, pemasangan sambungan listrik telah dilakukan pada 638 rumah, sementara sisanya menunggu tahapan penyelesaian instalasi dan pemasangan meter.

Bagi warga yang selama ini belum mampu membiayai pemasangan sambungan listrik, program tersebut menjadi jalan untuk memperoleh akses listrik secara mandiri. Bantuan itu sekaligus melengkapi berbagai upaya yang dilakukan PLN dan pemerintah dalam memperluas pemerataan elektrifikasi di wilayah kepulauan.

Terang bagi Mereka yang Membutuhkan

Di Ranai Darat, Lurah Era Juein Marisa menyebut masih ada warga lain yang membutuhkan bantuan serupa. Pada 2026, sebanyak lima warga telah diusulkan dan disetujui untuk memperoleh bantuan pemasangan listrik gratis. Pemasangan instalasi telah dilakukan, sementara sebagian masih menunggu pemasangan meter.

Pada 2027 mendatang, pemerintah kelurahan juga berencana kembali mengusulkan dua warga yang dinilai sangat membutuhkan bantuan pemasangan listrik gratis.

“Kondisi dua warga saya itu memprihatinkan dan hanya bekerja serabutan. Salah satunya bahkan sampai mendirikan gubuk kecil dengan atap terpal,” ungkap Era.

Bagi Era, bantuan pemasangan listrik tak hanya menghadirkan penerangan di rumah warga. Ada kebutuhan dasar yang perlu dipenuhi, terutama bagi masyarakat yang hidup dalam keterbatasan.

Apa yang dialami Nenek Zaleha menjadi gambaran bahwa pemerataan listrik tidak selalu dimulai dari proyek besar atau pembangunan jaringan berskala luas. Terkadang, upaya itu hadir melalui kepedulian sederhana.

Kepedulian sederhana itu mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi berarti besar bagi mereka yang selama ini hidup dalam keterbatasan.

Sebab, energi berkeadilan bukan semata-mata tentang seberapa jauh kabel listrik menjangkau sebuah pulau. Lebih dari itu, tentang memastikan setiap orang, termasuk mereka yang paling rentan dan kurang mampu, memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati terang.

Di beranda utara Indonesia, cahaya itu akhirnya sampai ke rumah mereka yang nyaris terlupakan. (*)

*Penulis: ALFIANA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini