Tasikmalaya, mandalapos.co.id — Memasuki musim penghujan pada November 2026, PT PLN (Persero) Unit Layanan Pelanggan (ULP) Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, meningkatkan kesiapsiagaan guna mengantisipasi potensi gangguan jaringan listrik akibat cuaca ekstrem.
Berbagai langkah mitigasi dilakukan, mulai dari pemangkasan pohon di sekitar jaringan listrik, inspeksi rutin peralatan, pemasangan pengaman jaringan, hingga penyiapan material cadangan untuk mempercepat pemulihan apabila terjadi gangguan.
Kepala PLN ULP Singaparna, Very, mengatakan peningkatan kesiapsiagaan tersebut dilakukan sesuai arahan PLN UP3 Tasikmalaya dalam menghadapi masa pancaroba dan musim penghujan.
Saat dikonfirmasi awak media Mandalapos.co.id, Selasa (3/11/2026), very menjelaskan bahwa pihaknya terus meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi gangguan yang dapat memengaruhi keandalan pasokan listrik kepada masyarakat.
“Memasuki pancaroba atau musim penghujan di November 2026 ini, dari sisi internal PLN, kami senantiasa melakukan dan meningkatkan level mitigasi terhadap potensi-potensi gangguan yang mungkin terjadi,” ujarnya.
Pemangkasan Pohon Jadi Prioritas
Salah satu langkah utama yang dilakukan PLN ULP Singaparna adalah pemangkasan atau penebangan pohon yang berpotensi mengganggu jaringan listrik.
Kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin di sejumlah wilayah kerja, meliputi Posko Singaparna, Salawu, Tanjung Jaya, dan Sodong Hilir.
PLN menetapkan jarak aman pohon terhadap jaringan listrik sekitar 2,5 hingga 3 meter guna meminimalkan risiko gangguan akibat ranting maupun pohon tumbang.
Selain melakukan pemangkasan, PLN juga menjalankan program Sapa Sore yang merupakan program unggulan PLN Tasikmalaya.
Melalui program tersebut, petugas melakukan pemeriksaan dan patroli lapangan untuk memastikan kegiatan pemangkasan pohon benar-benar dilaksanakan sesuai ketentuan.
“Biasanya kami meningkatkan jarak aman dari 2,5 meter sampai dengan 3 meter untuk lebih memitigasi risiko yang terjadi di lapangan,” jelas very.
Namun, upaya tersebut tidak selalu berjalan mudah. PLN mengakui masih menghadapi kendala berupa pohon-pohon yang sulit mendapatkan izin dari pemilik lahan untuk dilakukan penebangan.
Menurut Peri, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keandalan jaringan listrik, terutama ketika memasuki musim penghujan yang berpotensi meningkatkan risiko pohon tumbang.
“Jadi banyak pohon kami di lapangan yang sulit sekali diizinkan untuk dilakukan penebangan. Sehingga kami melakukan penebangan untuk pohon-pohon yang memang diizinkan oleh masyarakat,” ungkapnya.
Layang-Layang Berkawat dan Medan Berat Jadi Ancaman
Selain persoalan pohon, PLN ULP Singaparna juga menghadapi sejumlah tantangan lain dalam menjaga keandalan pasokan listrik.
Very menyebutkan, wilayah Tanjung Jaya dan Sodong Hilir yang memiliki kondisi geografis berbukit dan berada di kawasan pegunungan menjadi tantangan tersendiri bagi petugas, terutama ketika melakukan pemulihan jaringan setelah terjadi gangguan.
“Secara geografis, kami mungkin kesulitan untuk melakukan recovery jika terjadi gangguan,” katanya.
Ancaman lainnya berasal dari aktivitas masyarakat, khususnya anak-anak yang bermain layang-layang menggunakan kawat.
Kawat layang-layang yang menyentuh jaringan listrik dapat menyebabkan gangguan pasokan listrik dan berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat.
PLN mengaku telah melakukan sosialisasi secara langsung kepada masyarakat, termasuk mendatangi anak-anak yang bermain layang-layang agar tidak menggunakan bahan berbahaya tersebut.
“Kami tidak segan untuk mendatangi anak-anak yang bermain layang-layang agar tidak menggunakan kawat,” tegas very.
Peralatan Pengaman Jaringan Terus Dipasang
Untuk mengantisipasi gangguan akibat hewan yang memanjat tiang maupun potensi sambaran petir, PLN juga melakukan inspeksi rutin terhadap peralatan jaringan.
Sejumlah langkah yang dilakukan di antaranya pemasangan pengaman pada tiang Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM), pemasangan pelindung untuk mencegah hewan memanjat tiang, serta pemasangan arrester atau perangkat pelindung dari tegangan lebih akibat petir.
Langkah tersebut dilakukan untuk meminimalkan gangguan yang dapat mengakibatkan terputusnya pasokan listrik kepada masyarakat.
PLN juga menyiapkan material cadangan di sejumlah posko guna mempercepat proses pemulihan apabila terjadi gangguan akibat cuaca maupun faktor alam lainnya.
Peri mengatakan, meskipun manusia tidak dapat mengendalikan kondisi alam, kesiapan personel, peralatan, dan material menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan gangguan.
Masyarakat Diminta Tidak Menebang Pohon Sembarangan
Di tengah berbagai upaya tersebut, PLN ULP Singaparna mengimbau masyarakat untuk ikut berperan aktif menjaga keselamatan dan keandalan jaringan listrik.
Masyarakat diminta tidak melakukan penebangan pohon secara mandiri apabila pohon tersebut berada dekat jaringan listrik.
Sebaliknya, warga diharapkan melaporkan kondisi tersebut kepada PLN agar proses pemangkasan dapat dilakukan secara aman dan terkoordinasi.
“Kami mengimbau masyarakat jika ada pohon yang berjarak tidak aman, yaitu 2,5 sampai 3 meter, sebaiknya tidak ditebang sendiri. Tetapi disampaikan dan dikoordinasikan dengan PLN untuk selanjutnya dilakukan penebangan dan pengamanan bersama,” jelasnya.
PLN juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembangunan maupun renovasi rumah di bawah jaringan listrik tegangan menengah 20 KV.
Pemasangan antena yang terlalu tinggi juga perlu dihindari karena berpotensi bersentuhan dengan jaringan listrik.
“Selain menjaga keandalan, kami juga sangat fokus terhadap keselamatan ketenagalistrikan untuk masyarakat,” katanya.
Masyarakat yang menemukan kondisi jaringan listrik berbahaya, seperti tiang miring, jaringan yang berpotensi tertimpa pohon, atau kondisi lain yang dapat memicu gangguan, diminta segera melaporkannya kepada PLN.
Laporan dapat disampaikan melalui layanan Contact Center PLN 123 maupun aplikasi PLN Mobile.
PLN: Listrik Andal Bukan Berarti Tanpa Gangguan
Very menegaskan, PLN ULP Singaparna terus berupaya meningkatkan keandalan pasokan listrik melalui kesiapsiagaan personel selama 24 jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu.
Menurutnya, keandalan listrik tidak semata-mata diukur dari tidak adanya gangguan, tetapi juga dari kemampuan petugas dalam melakukan pemulihan secara cepat ketika gangguan terjadi.
“Listrik yang andal itu bukan berarti tidak pernah terjadi gangguan, tetapi bagaimana ketika terjadi gangguan, recovery-nya bisa secepat mungkin,” ujarnya.
Meski demikian, PLN tetap membutuhkan dukungan masyarakat dalam mengidentifikasi berbagai potensi gangguan yang terjadi di lingkungan masing-masing.
Pihaknya juga berencana memperluas koordinasi dan sosialisasi melalui grup WhatsApp yang selama ini melibatkan camat dan kepala desa, hingga nantinya dapat menjangkau tingkat RT dan RW.
Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat penyampaian informasi sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap keselamatan ketenagalistrikan.
“Kami sangat membutuhkan peran aktif masyarakat untuk menjaga keandalan dan menginformasikan apabila ada hal-hal yang berpotensi menyebabkan gangguan ketenagalistrikan,” tutup very.
Dengan meningkatnya kesiapsiagaan menjelang musim penghujan, PLN ULP Singaparna berharap potensi gangguan dapat diminimalkan dan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama.*
*YAHYA





















