Tasikmalaya, Mandalapos.co.id – Pagi itu belum genap pukul delapan. Suara sapu menggesek lantai terdengar di sebuah bangunan yang bahkan belum rampung berdiri kantor pemuda yang lama terabaikan.
Di sudut-sudut ruangan, beberapa orang terlihat sibuk. Bukan pekerja proyek, melainkan aparatur Dinas Pariwisata Kabupaten Tasikmalaya yang turun langsung, memungut sampah, merapikan halaman, dan menghidupkan kembali ruang yang sempat mati.
“Ya, kita bersih-bersih saja. Harus tetap asri, meskipun belum beres,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tasikmalaya, Aam, Jumat (17/4/2026).
Bagi Aam, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas. Ia menyebutnya sebagai bagian dari upaya membangun budaya bahwa kebersihan tidak perlu diperintah, tapi harus tumbuh dari kesadaran.
Setiap Jumat pagi, sebelum aktivitas kantor dimulai, jajaran dinas dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka menyebar, tidak hanya membersihkan kantor, tetapi juga menyasar berbagai titik wisata di Tasikmalaya.
Di tengah keterbatasan tenaga, mereka tetap bergerak. “Kita rutin. Bukan hanya di sini, tapi juga di objek wisata,” katanya.
Namun cerita ini tidak berhenti pada sapu dan sampah. Di balik kegiatan sederhana itu, ada rencana yang lebih besar penataan. Setelah bersih, tahap berikutnya adalah merapikan aset, memperbaiki fasilitas, dan memastikan setiap lokasi wisata tetap terawat. Sebab bagi Aam, wisata bukan hanya soal pemandangan, tapi pengalaman.
“Kalau tempat wisatanya bersih, orang juga senang datang,” ucapnya.
Tasikmalaya sendiri memiliki sejumlah destinasi unggulan seperti Gunung Galunggung dan Karang Tawulan. Potensi itu, menurutnya, belum sepenuhnya tergarap maksimal.
Karena itu, langkah kecil seperti Jumat Bersih menjadi fondasi. Dari kebiasaan sederhana, dibangun ekosistem yang lebih besar melibatkan desa wisata, komunitas, hingga para pelaku pariwisata.
Pemantauan pun tetap berjalan. Meski tidak selalu turun langsung, komunikasi dengan desa wisata dilakukan melalui grup dan pertemuan rutin.
“Kita bina, kita pantau. Memang ada keterbatasan, tapi tetap jalan,” katanya.
Di akhir perbincangan, Aam menyampaikan harapan yang terdengar sederhana, tapi menyimpan makna besar: suatu hari nanti, kegiatan bersih-bersih ini tak lagi perlu diingatkan. Ia ingin itu menjadi kebiasaan.*
*ARIS



















