BMKG Peringatkan Natuna, Curah Hujan Rendah dan Risiko Karhutla Meningkat

Kepala Stasiun Meteorologi Maritim (BMKG) Natuna, Rafael Alesandro Marbun, S.Tr, saat memaparkan potensi cuaca dalam rakor pencegahan karhutla di Natuna

Natuna, mandalapos.co.id — Pemerintah Kabupaten Natuna meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul kondisi cuaca yang dipengaruhi fenomena El Nino kuat.

Kewaspadaan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi (rakor) kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan dan karhutla yang dipimpin Bupati Natuna di ruang rapat Kantor Bupati Natuna, Senin (24/8/2026).

Rakor dihadiri sejumlah stakeholder terkait dan menjadi langkah pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampak kondisi atmosfer yang berpotensi menurunkan curah hujan di wilayah Natuna.

Kepala Stasiun Meteorologi Maritim (BMKG) Natuna, Rafael Alesandro Marbun, S.Tr., menjelaskan kondisi El Nino saat ini menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena berpengaruh terhadap penurunan curah hujan.

Berdasarkan pemantauan BMKG, indeks ENSO diprakirakan masih berada pada fase El Nino sangat kuat hingga Agustus dan berpotensi bertahan sampai awal 2027.

“Karhutla harus menjadi perhatian bersama,” ujar Rafael dalam rakor tersebut.

Curah Hujan Natuna Menurun

Rafael menjelaskan, meskipun Natuna merupakan wilayah yang tidak masuk zonasi musim sehingga hujan dapat terjadi sepanjang tahun, kondisi El Nino yang kuat tetap dapat memengaruhi intensitas curah hujan.

Selain ENSO, dinamika atmosfer lainnya seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) turut menjadi faktor yang diperhatikan dalam memantau kondisi cuaca.

Menurutnya, kombinasi kondisi atmosfer tersebut menyebabkan pasokan uap air untuk pembentukan hujan berkurang. Kondisi udara yang relatif kering juga memperkuat indikasi potensi kekeringan di Natuna.

“Dengan kondisi MJO dan El Nino berdampak besar terhadap curah hujan. Ibarat gasnya habis untuk hujan,” ujarnya.

Berdasarkan analisis Stasiun Meteorologi Maritim Natuna, curah hujan pada Agustus 2026 secara umum sedikit menurun dibandingkan Juli dan berada dalam kategori rendah.

Kondisi tersebut diprakirakan masih berlangsung hingga akhir September 2026. Curah hujan kemudian mulai menunjukkan peningkatan pada awal Oktober dan diperkirakan semakin meningkat pada November, dengan kategori menengah hingga tinggi.

Meski demikian, BMKG mengingatkan curah hujan tersebut diperkirakan masih sedikit berada di bawah kondisi normal sehingga perkembangan El Nino tetap perlu dipantau.

Sejumlah Wilayah Alami Hari Tanpa Hujan

Kondisi kering juga terlihat dari jumlah Hari Tanpa Hujan (HTH) di sejumlah wilayah Natuna.

Sebagian besar wilayah Pulau Bunguran tercatat mengalami HTH kategori menengah, yakni sekitar 15 hingga 18 hari.

Sementara sebagian wilayah Bunguran Utara, Bunguran Barat dan Bunguran Timur masih berada dalam kategori sangat pendek, yakni kurang dari lima hari.

Kondisi lebih kering terjadi di Pulau Laut dan Bunguran Selatan, khususnya Cemaga. Kedua wilayah tersebut tercatat memiliki HTH masing-masing 21 dan 22 hari serta belum mengalami hujan selama Agustus 2026 berdasarkan pemantauan BMKG.

Situasi tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan pemerintah dan masyarakat, terutama dalam mencegah munculnya titik api akibat aktivitas pembakaran maupun faktor lainnya.

Risiko Karhutla Tinggi dalam Sepekan

BMKG memperkirakan risiko karhutla di Natuna tergolong tinggi dalam satu minggu ke depan akibat kondisi yang relatif kering.

Dalam tujuh hari ke depan, cuaca Natuna secara umum diprakirakan cerah berawan hingga berawan. Potensi hujan ringan masih ada, terutama pada 24–26 Agustus 2026, namun peluangnya relatif kecil.

Karena itu, BMKG merekomendasikan peningkatan pemantauan dan langkah pencegahan karhutla, terutama di wilayah yang memiliki riwayat kejadian kebakaran.

Pemerintah daerah bersama stakeholder terkait diharapkan memperkuat pemantauan lapangan dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Asap dari Kalimantan Ikut Diwaspadai

Selain ancaman karhutla lokal, Natuna juga perlu mewaspadai potensi asap dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.

Arah angin berpotensi membawa asap menuju wilayah Natuna. Jika kondisi tersebut terjadi, dampaknya dapat dirasakan pada kualitas udara, kesehatan masyarakat hingga jarak pandang.

Karena itu, perkembangan sebaran asap dari Kalimantan juga menjadi bagian yang perlu dipantau pemerintah dan instansi terkait.

Kondisi tersebut membuat kesiapsiagaan menjadi penting. Pemerintah tidak hanya dituntut melakukan penanganan ketika kebakaran terjadi, tetapi juga memperkuat pencegahan sejak kondisi cuaca mulai menunjukkan indikasi kering.

Dengan prakiraan curah hujan yang masih rendah hingga September, masyarakat Natuna diimbau turut menjaga lingkungan dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, terutama pembakaran lahan secara terbuka.*

Laporan: ALFIAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini