
Natuna, mandalapos.co.id — Keringat mulai mengucur dari kening Nurlela (62) yang tertutup hijab. Terik matahari siang, Kamis (20/8/2026), membuat langkah perempuan lanjut usia itu semakin berat.
Beberapa kali ia berhenti untuk mengatur napas. Tongkat di tangan menjadi penopang setiap langkahnya.
Sekitar pukul 14.00 WIB, Nurlela akhirnya tiba di halaman SD Negeri 003 Kelarik Utara, Kecamatan Bunguran Utara, Kabupaten Natuna.
Di sana, sejumlah tenda telah berdiri. Meja-meja pemeriksaan tersusun di bawahnya. Puluhan warga datang untuk mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Nurlela tidak langsung menuju meja pemeriksaan. Ia memilih duduk sejenak di kursi yang disediakan. Tangannya mengusap keringat yang masih membasahi wajah.
“Ibu silakan ke meja pemeriksaan,” ujar Kepala Puskesmas Kelarik, dr. Ameri Yahya, yang melihat kedatangannya.
Nurlela kemudian dibantu petugas menuju meja skrining. Ia mengisi formulir riwayat kesehatan, mulai dari nama dan alamat hingga kondisi kesehatan yang selama ini dirasakan.
Tekanan darah, berat badan dan lingkar perut diperiksa. Setelah itu, ia bertemu dengan dokter mata residen dari RSUD Natuna.
“Mata saya seperti berkabut, Dok,” kata Nurlela.
Keluhan itu ternyata bukan diakibatkan usia. Dari pemeriksaan awal, dokter menemukan tanda katarak pada mata Nurlela. Ia kemudian diminta melanjutkan pemeriksaan ke RSUD Natuna untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Bagi Nurlela, temuan itu memberi jawaban atas gangguan penglihatan yang selama ini ia rasakan.

Di meja pemeriksaan lain, Umar (42) justru datang dengan cerita berbeda. Ia merasa tubuhnya baik-baik saja. Namun, alat pengukur tekanan darah menunjukkan angka 132/80 mmHg.
“Pak, ini sudah masuk prehipertensi,” kata petugas kesehatan.
Wajah Umar berubah tegang. Ia tak menyangka pemeriksaan sederhana itu menemukan tanda awal persoalan kesehatan, meski dampaknya belum ia rasakan.
Nurlela datang karena merasakan gangguan penglihatan. Umar justru datang ketika tidak merasa memiliki keluhan. Keduanya sama-sama menemukan persoalan kesehatan melalui pemeriksaan.
Di titik inilah CKG menjadi penting. Program tersebut membuka ruang bagi masyarakat untuk mengetahui kondisi tubuh sebelum penyakit berkembang lebih jauh.

Ketika Dokter Datang Lebih Dekat
Kepala Puskesmas Kelarik dr. Ameri Yahya mencatat sedikitnya 80 warga mengikuti pemeriksaan dalam kegiatan CKG di Bunguran Utara tersebut.
Jumlah itu jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata kunjungan harian ke Puskesmas Kelarik yang belum mencapai 10 orang.
Gambaran itu sekaligus menunjukkan kebiasaan sebagian masyarakat yang baru datang ke fasilitas kesehatan ketika sudah merasakan keluhan.
Padahal, sejumlah penyakit justru berkembang tanpa memberikan tanda yang jelas pada tahap awal.
Persoalan menjadi semakin kompleks di Natuna. Kabupaten yang berada di ujung utara Indonesia itu memiliki karakter geografis kepulauan. Sekitar 99,25 persen wilayahnya berupa laut dan hanya 0,75 persen daratan.
Kondisi tersebut membuat akses terhadap pelayanan kesehatan, terutama layanan spesialistik, tidak selalu mudah bagi seluruh masyarakat.
RSUD Natuna sebagai rumah sakit rujukan berada di Kota Ranai. Sementara masyarakat di kecamatan-kecamatan yang berada jauh dari pusat pemerintahan kabupaten harus menempuh perjalanan lebih panjang ketika membutuhkan pemeriksaan atau layanan dokter spesialis.
Bunguran Utara menjadi salah satu gambaran nyata.
Dari Kelarik menuju Ranai, jaraknya sekitar 82 kilometer melalui jalur darat. Bagi lansia, penderita penyakit kronis atau warga dengan kondisi kesehatan tertentu, perjalanan puluhan kilometer bukan perkara mudah.
Nurlela merasakan sendiri bagaimana beratnya bergerak dalam kondisi tubuh yang sudah tidak sekuat dulu.
Slogan “Cek kesehatan gratis: cegah dini, tuntas obati”, memang dirasa sangat relevan untuk mengambarkan bagaimana program ini menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya di wilayah kepulauan seperti Natuna.
Sebab, ketika layanan kesehatan datang mendekati masyarakat, yang dipangkas bukan hanya jarak. Ada pula beban perjalanan, waktu dan biaya yang harus dikeluarkan warga.
Dalam kegiatan CKG di Bunguran Utara, lima dokter dari RSUD Natuna dikerahkan. Mereka terdiri atas dokter spesialis jantung, residen kandungan, residen bedah, residen anak dan residen mata.
Kehadiran mereka memberi kesempatan kepada warga untuk mendapatkan pemeriksaan yang selama ini lebih mudah ditemui di rumah sakit kabupaten.
Bagi masyarakat di kecamatan yang jauh dari Ranai, layanan semacam ini menjadi pintu awal untuk mengetahui kondisi kesehatan sekaligus menentukan apakah pemeriksaan lanjutan diperlukan.

Tak Berhenti di Meja Pemeriksaan
Bupati Natuna Cen Sui Lan mengatakan pemerintah daerah berencana melaksanakan pemeriksaan kesehatan gratis secara terjadwal di setiap kecamatan.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar masyarakat tidak harus selalu datang jauh-jauh ke RSUD Natuna untuk mendapatkan pemeriksaan.
Pemerintah daerah, kata Cen, akan membawa langsung dokter spesialis untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Program tersebut juga menjadi bagian dari pelaksanaan CKG yang merupakan salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) atau Quick Win Presiden Prabowo Subianto.
Namun, pemeriksaan hanyalah pintu masuk.
Data Kementerian Kesehatan mencatat hingga 31 Juli 2026 sebanyak 73,8 juta penduduk telah mengikuti CKG. Sebanyak 62,7 juta orang menjalani skrining melalui puskesmas dan kegiatan komunitas, sedangkan 11,1 juta lainnya merupakan anak sekolah.
Pemerintah menargetkan cakupan CKG mencapai 130 juta penduduk sepanjang 2026.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan CKG tidak berhenti pada pemeriksaan awal. Hasil skrining harus dilanjutkan dengan edukasi, pengobatan, pemantauan hingga rujukan sesuai kondisi peserta.
Pada 2026, tindak lanjut CKG difokuskan antara lain pada tiga faktor risiko penyakit tidak menular, yakni tekanan darah tinggi, gula darah tinggi dan kolesterol tinggi. Ketiganya menjadi faktor risiko berbagai penyakit serius, termasuk penyakit jantung, stroke dan gagal ginjal.
“Tujuan CKG bukan hanya mengecek, tetapi membuat masyarakat sehat. Setelah akses diperluas, fokus kita adalah memastikan masalah yang ditemukan langsung ditangani,” ujar Budi dalam Media Briefing Evaluasi CKG di Jakarta, 4 Agustus 2026, seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan RI.
Kehadiran CKG hingga ke kecamatan, menjadi salah satu cara pemerintah memastikan keterbatasan geografis tidak membuat warga terlambat mengetahui dan menangani penyakit.
Karena itu, keberhasilan CKG di daerah seperti Natuna menjadi penting, karena keberhasilan tidak hanya diukur dari berapa banyak warga yang diperiksa, tetapi juga dari berapa banyak temuan kesehatan yang benar-benar ditindaklanjuti hingga tuntas.*
*PENULIS: ALFIANA




















