
Natuna, mandalapos.co.id – Putri (16) duduk di antara teman-temannya di bangku plastik hijau di sudut ruang serbaguna SMAN 1 Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Jumat, 14 Agustus 2026.
Matanya terpaku pada layar telepon genggam. Jemarinya mengetik nomor induk kependudukan (NIK) yang tertera pada Kartu Identitas Anak (KIA) untuk mendaftar Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Pagi itu, petugas Puskesmas Ranai datang ke sekolah. Para siswa tidak perlu pergi ke fasilitas kesehatan. Pemeriksaan justru dibawa mendekat ke tempat mereka belajar.
Putri hanya membutuhkan waktu kurang dari dua menit untuk menyelesaikan pendaftaran melalui aplikasi SATUSEHAT Mobile. Setelah itu, ia beranjak menuju meja petugas.
Langkahnya terlihat biasa saja. Namun ketika sampai di meja pemeriksaan, wajahnya mulai berubah. Ada sedikit ketegangan yang sulit disembunyikan.
Setelah menunjukkan bukti pendaftaran, siswi kelas XI itu diarahkan ke meja skrining. Rini Dwi Lestari sudah menunggu di sana.
Rini meminta Putri berdiri sekitar enam meter dari meja. Di hadapannya terpampang bagan Snellen, deretan huruf dengan ukuran berbeda yang digunakan untuk mengukur ketajaman penglihatan.
“Coba sebutkan hurufnya ya,” pinta Rini.
Putri menyipitkan mata. Satu per satu huruf pada bagan dibacanya. Rini mencatat baris terakhir yang masih mampu dibaca Putri tanpa kesalahan. Hasilnya normal. Ketajaman penglihatannya tidak bermasalah.
Namun pemeriksaan belum selesai. Rini kemudian meminta Putri sedikit menyingkap hijab agar telinganya terlihat. Sebuah otoskop diambil dari meja. Alat kecil dengan lampu LED dan lensa pembesar itu perlahan diarahkan ke liang telinga Putri.
“Nah, ini ada sedikit serumen,” ujar Rini.
Putri menatap Rini. Wajahnya tampak bingung.
“Serumen itu kotoran telinga. Kalau sedikit memang tidak mengganggu. Tapi kalau menumpuk dan mulai mengganggu pendengaran datang ke Puskesmas ya, biar kita bersihkan,” jelas Rini, dijawab anggukan kepala Putri.
Temuan kecil itu ternyata bukan hal yang asing bagi Rini. Selama melakukan CKG di sekolah-sekolah wilayah kerja Puskesmas Ranai, serumen telinga justru menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling sering ditemukannya.
“Pertama serumen telinga, kedua karies gigi,” ungkap Rini.
Bagi Rini, dua temuan tersebut memperlihatkan persoalan sederhana yang kerap luput dari perhatian anak-anak usia sekolah. Kebersihan telinga dan gigi sering dianggap sepele selama belum menimbulkan rasa sakit atau mengganggu aktivitas.
Padahal, pada usia sekolah, fungsi penglihatan, pendengaran dan kesehatan gigi berhubungan langsung dengan aktivitas belajar.
“Apalagi bagi pelajar, telinga, mata dan gigi itu penting, baik saat mengikuti pelajaran maupun mungkin bagi mereka yang bercita-cita menjadi abdi negara,” ujar Rini.

Di situlah semangat “Cek Kesehatan Gratis: cegah dini, tuntas obati” menemukan maknanya. Pemeriksaan menjadi langkah awal untuk mengetahui masalah kesehatan sebelum berkembang lebih jauh, sekaligus memastikan temuan yang ada tidak berhenti di meja skrining.
Rini pun mendorong para siswa datang ke Puskesmas, apabila keluhan mulai mengganggu.
Persoalan waktu, menurut dia, juga bukan lagi alasan untuk menunda pemeriksaan. Puskesmas Ranai membuka layanan sore hingga pukul 20.00 WIB setiap Senin sampai Jumat. Sehingga pelajar dapat datang setelah pulang sekolah.
“Jadi nanti adik-adik pelajar bisa ke Puskesmas setelah mereka pulang sekolah. Syaratnya cukup bawa Kartu Identitas Anak saja,” katanya.
Pemeriksaan kesehatan gratis yang menyambangi sekolah-sekolah di Natuna merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) atau Quick Win yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto dan dilaksanakan Kementerian Kesehatan.
Program ini tidak hanya ditujukan untuk menemukan penyakit, tetapi juga memperluas akses masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan dan mendorong penanganan sedini mungkin.
Secara nasional, CKG Sekolah hingga 14 Juli 2026 telah menjangkau 8,82 juta siswa di 96.567 sekolah yang tersebar di 511 kabupaten/kota.
Pemerintah menargetkan pemeriksaan tersebut mencakup 50,25 juta peserta didik di lebih dari 303 ribu satuan pendidikan sepanjang 2026.
Dari pemeriksaan yang telah dilakukan, persoalan kesehatan yang ditemukan cukup beragam.
Hasil pemeriksaan menunjukkan sejumlah persoalan kesehatan masih banyak ditemukan pada peserta didik. Karies atau gigi berlubang menjadi temuan terbanyak, dialami 40,8 persen siswa. Berikutnya anemia pada 27,3 persen remaja putri dan tekanan darah tinggi atau hipertensi pada 21,7 persen siswa.
Pemeriksaan juga menemukan 6,9 persen siswa mengalami serumen impaksi atau penumpukan kotoran telinga dan 6,7 persen lainnya mengalami obesitas.
Angka-angka itu menunjukkan bahwa persoalan kesehatan anak sekolah tidak selalu datang dalam bentuk keluhan yang terasa. Sebagian justru ditemukan ketika anak merasa dirinya baik-baik saja. Itulah celah yang coba diisi CKG.
Pemerintah juga tidak ingin pemeriksaan berhenti pada selembar hasil skrining. Setelah masalah ditemukan, peserta diarahkan untuk mendapat edukasi, pengobatan, pemantauan, hingga rujukan apabila diperlukan.
Kementerian Kesehatan mencatat CKG telah menjangkau 73,8 juta penduduk hingga 31 Juli 2026. Capaian itu melampaui total peserta sepanjang 2025 yang mencapai 70 juta orang.
Dalam Media Briefing Evaluasi CKG di Gedung Adhyatma Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Selasa, 4 Agustus, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemeriksaan hanyalah langkah awal.
“Tujuan CKG bukan hanya mengecek, tetapi membuat masyarakat sehat. Setelah akses diperluas, fokus kita adalah memastikan masalah yang ditemukan langsung ditangani,” ujar Budi.

Di SMAN 1 Bunguran Timur, manfaat pemeriksaan itu dirasakan bukan hanya oleh siswa.
Kepala SMAN 1 Bunguran Timur, Ida Susanti, mengatakan pemeriksaan yang dilakukan langsung di lingkungan sekolah membuat lebih banyak siswa memiliki kesempatan untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka.
Bagi sekolah, kegiatan tersebut juga menjadi ruang edukasi. Sebab, tidak semua persoalan kesehatan mudah disampaikan dalam rutinitas belajar mengajar.
Bagi Natuna, mendekatkan pemeriksaan kepada anak-anak memiliki arti yang lebih besar.
Kabupaten kepulauan yang berada di beranda terdepan Indonesia itu berjarak cukup jauh dari sejumlah pusat layanan kesehatan rujukan di daerah lain. Dalam kondisi seperti itu, menemukan gangguan kesehatan lebih awal berarti memberi waktu lebih panjang bagi anak dan keluarganya untuk mengambil tindakan.
Cerita itu tidak berhenti di SMAN 1 Bunguran Timur. Di SD Negeri 01 Ranai, misalnya, seorang ibu baru mengetahui anak laki-lakinya mengalami karies gigi, setelah sang anak pulang sekolah dan bercerita tentang pemeriksaan kesehatan gratis.
Fatimah (40), ibu anak tersebut, mengaku sebelumnya tidak pernah membawa putranya memeriksakan gigi secara khusus. Bukan karena mengabaikannya, tetapi karena sang anak tidak pernah mengeluh sakit.
Karies itu baru diketahui setelah petugas Puskesmas Ranai melakukan pemeriksaan melalui CKG Sekolah.
“Anak saya bercita-cita jadi Polisi, jadi memang kita sebagai orang tua kan mendukung ya dengan menjaga seluruh bagian tubuh dia,” ujar Fatimah, 15 Agustus 2026.
Mengetahui kondisi itu, Fatimah segera membawa anaknya ke Puskesmas Ranai untuk menjalani pemeriksaan lanjutan dengan dokter gigi.
Kini Ia tidak perlu menunggu anaknya mengeluhkan sakit gigi.
“Alhamdulillah semuanya gratis, karena memang kami penerima bantuan iuran JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) dari pemerintah juga,” pungkasnya.
Pada akhirnya merawat kesehatan anak bukan hanya tentang membuat mereka tetap bisa bersekolah hari ini. Lebih jauh, ada cita-cita yang sedang mereka jaga untuk hari esok.
Di Natuna, CKG hadir untuk memastikan anak-anak tetap sehat mengejar cita-citanya dengan menemukan lebih dini dan menangani lebih cepat.*
*PENULIS: ALFIANA



















