
Natuna, mandalapos.co.id –
“Ih… ada batu tuh di kuping adek. Biar diperiksa dokter dulu ya.”
Azinar berusaha mengalihkan perhatian putranya, Sobir Ahmad Sodiq (5), yang mulai menangis memecah keramaian Pengobatan Massal Gratis Lanud Raden Sadjad, di Kawasan Pantai Piwang, Ranai, Kabupaten Natuna, Minggu pagi, 26 Juli 2026.
Di hadapannya, Mayor Kes dr. Jarod Wahyu Kristiyanto sudah bersiap dengan senter kepala dan memegang endoskop THT, alat berbentuk selang tipis berkamera yang digunakan untuk melihat bagian dalam telinga.
“Sebentar ya… boleh dokter lihat dulu kupingnya? Sebentar aja,” bujuk dokter Jarod.
Tangisan Sobir justru semakin keras, kedua tangannya pun berusaha menepis ketika alat itu mulai menyentuh telinganya. Azinar kembali mencari cara menenangkan anaknya.
“Tuh… lihat. Kuping adek kelihatan di tivi,” katanya sambil menunjuk monitor yang menampilkan gambar dari dalam telinga.
Perhatian Sobir seketika beralih. Untuk pertama kalinya ia melihat bagian dalam telinganya sendiri melalui layar.
Kesempatan itu dimanfaatkan dokter Jarod. Endoskop perlahan dimasukkan ke liang telinga, disusul larutan saline steril untuk melunakkan kotoran yang telah mengeras. Tak sampai lima menit, pemeriksaan selesai.
“Ada kotoran yang sudah mengeras di telinga ya Bu, sekarang sudah dibersihkan,” kata dokter yang juga menjabat Sekretaris Rumah Sakit Angkatan Udara dr. Yuniati Wisma Karyani Lanud Raden Sadjad itu.
Tangisan Sobir pun berhenti. Azinar menggendong putranya keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah yang jauh lebih lega.
Selama ini ia selalu kesulitan membersihkan telinga anaknya. Sobir kerap menolak setiap kali telinganya hendak dibersihkan. Belakangan, Azinar mulai khawatir karena anaknya telah memasuki usia PAUD dan pendengarannya dikhawatirkan mulai terganggu.
Karena itu, setiap kali Lanud Raden Sadjad menggelar bakti kesehatan, ia hampir tidak pernah melewatkannya.
“Setiap tahun saya selalu datang,” ujarnya.
Bukan semata-mata karena pemeriksaannya tidak dipungut biaya. Di Natuna, kesempatan bertemu dokter spesialis tidak selalu mudah diperoleh.
Sobir bukan satu-satunya yang datang pagi itu. Sejak sebelum kegiatan dimulai, masyarakat telah memadati kawasan Pantai Piwang.
Bagi masyarakat di daerah kepulauan seperti Natuna, pelayanan dokter spesialis seperti dokter THT, umumnya tersedia di fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut. Sebelum dapat bertemu dokter spesialis, pasien terlebih dahulu harus menjalani pemeriksaan di fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk memperoleh surat rujukan menuju rumah sakit umum daerah.
Prosedur itu merupakan bagian dari sistem pelayanan kesehatan. Namun bagi sebagian warga, kesempatan bertemu dokter spesialis sering kali tidak datang ketika mereka membutuhkannya.
Karena itu, ketika Lanud Raden Sadjad menghadirkan dokter spesialis THT, dokter gigi, dokter umum, pemeriksaan laboratorium sederhana, serta obat-obatan dalam satu kegiatan, masyarakat memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk memeriksakan kesehatan yang selama ini tertunda.
Hingga pelayanan berakhir, 137 warga tercatat mengikuti pengobatan massal tersebut.
Di sela-sela antrean, sejumlah prajurit TNI Angkatan Udara berseragam loreng biru tampak sibuk membantu masyarakat. Ada yang memapah warga lanjut usia menuju ruang pemeriksaan, membantu mengisi formulir pendaftaran, hingga mengarahkan peserta menuju poli tujuan.
Yuli (35), salah seorang peserta, berharap kegiatan seperti itu tidak berhenti sebagai agenda tahunan.
“Yang diharapkan orang-orang sakit itu bisa mengakses layanan kesehatan dengan mudah,” katanya.
Harapan tersebut terasa sederhana, tetapi cukup menggambarkan kebutuhan masyarakat di wilayah kepulauan yang akses layanan kesehatannya masih menghadapi tantangan geografis.

Komandan Lanud Raden Sadjad, Marsekal Pertama TNI Onesmus Gede Rai Aryadi, mengatakan, pengobatan massal ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Bakti TNI Angkatan Udara ke-79, sekaligus bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Menurut Onesmus, kepercayaan masyarakat menjadi bagian penting dalam mendukung tugas TNI AU, terutama di wilayah perbatasan seperti Natuna.
“Pertahanan itu tidak bisa dilakukan oleh TNI AU sendiri, tetapi juga semua lini antar-lembaga dan masyarakat,” ujarnya.
Karena itulah Lanud Raden Sadjad terus membangun kolaborasi dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan yang menyentuh kebutuhan mereka.
Pada peringatan Hari Bakti TNI AU ke-79, pengabdian tersebut tidak hanya diwujudkan melalui pengobatan massal bagi 137 warga, tetapi juga khitanan massal yang diikuti 20 anak serta donor darah yang berhasil mengumpulkan 72 kantong darah.
Seluruh rangkaian kegiatan melibatkan Rumah Sakit Angkatan Udara dr. Yuniati Wisma Karyani, Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna, pemerintah daerah, PMI, serta berbagai unsur lainnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna, Hikmat Aliansyah, menilai kolaborasi seperti itu sangat membantu masyarakat memperoleh akses pelayanan kesehatan.
“Kegiatan seperti ini sangat membantu masyarakat dalam memperoleh layanan kesehatan. Kami mengapresiasi Lanud Raden Sadjad yang terus berkontribusi melalui berbagai kegiatan sosial untuk masyarakat Natuna,” katanya.
Di wilayah yang berbatasan langsung dengan negara lain, menjaga kedaulatan tidak selalu dimulai dari radar, pesawat tempur, atau pangkalan udara. Terkadang, ia bermula dari kepercayaan masyarakat. Dan kepercayaan itu dibangun melalui kepedulian yang terus dirawat, satu pemeriksaan, satu donor darah, satu khitanan massal, dan satu uluran tangan pada satu waktu.
Barangkali di situlah makna pengabdian menemukan bentuknya. Menjaga perbatasan bukan hanya tentang memastikan tidak ada sejengkal wilayah udara yang dilanggar, tetapi juga memastikan masyarakat di garis terdepan tetap merasa diperhatikan sebagai bagian dari Indonesia. (*)
*PENULIS: ALFIANA


















