Natuna, Mandalapos.co.id – Jika mendengar nama TNI Angkatan Udara, yang terbayang di benak banyak orang biasanya adalah jet tempur yang membelah langit, radar yang mengawasi wilayah udara, atau pangkalan udara yang menjadi garda pertahanan negara.
Namun di Natuna, wajah TNI AU tak selalu hadir dalam deru pesawat dan operasi pertahanan udara.
Pada Minggu (7/6/2026) pagi, di Pelabuhan Penagi, Ranai, seorang prajurit TNI AU justru terlihat mendorong kursi roda seorang penumpang lanjut usia yang baru turun dari KMP Bahtera Nusantara. Di tengah lalu-lalang penumpang yang membawa barang bawaan dan keluarga yang saling menjemput, sosok itu hadir tanpa sekat, membaur dengan masyarakat.
Ia adalah Serka David Supriyanto, Bintara Pembinaan Teritorial Angkatan Udara (Babinterau) Lanud Raden Sadjad Natuna.
Momen sederhana itu seolah menjadi gambaran bagaimana tugas TNI AU kini tidak hanya menjaga langit Indonesia, tetapi juga menyentuh kehidupan masyarakat hingga ke dermaga-dermaga terluar negeri.
Di foto yang diabadikan saat kegiatan berlangsung, Serka David tampak mendampingi seorang penumpang perempuan yang menggunakan kursi roda. Di belakangnya, para penumpang lain turun dari kapal dengan membawa berbagai barang kebutuhan. Tidak ada suasana formal atau jarak antara aparat dan warga. Yang terlihat justru kepedulian dan pelayanan yang lahir dari kedekatan.
Bagi sebagian masyarakat, keberadaan Babinterau mungkin masih terdengar asing. Padahal, peran mereka menjadi salah satu ujung tombak TNI AU dalam membangun hubungan dengan masyarakat di wilayah binaan.
Jika Babinsa dikenal sebagai representasi TNI AD di tengah warga desa dan Babinpotmar menjadi wajah TNI AL di kawasan pesisir, maka Babinterau adalah tangan TNI AU yang menjangkau masyarakat secara langsung melalui pembinaan teritorial.
Di daerah perbatasan seperti Natuna, kehadiran Babinterau memiliki arti yang lebih luas. Mereka tidak hanya menjalankan fungsi pengamanan dan monitoring wilayah, tetapi juga menjadi penghubung antara institusi pertahanan negara dengan masyarakat yang hidup di garis depan kedaulatan Indonesia.
Kegiatan pengamanan kedatangan KMP Bahtera Nusantara di Pelabuhan Penagi sejatinya merupakan tugas rutin. Namun bagi warga yang baru tiba setelah perjalanan laut berjam-jam, kehadiran petugas yang membantu membawa barang, mengarahkan penumpang, hingga mendampingi kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas memberikan rasa aman tersendiri.
Di lapangan, Serka David tidak bekerja sendiri. Ia berkolaborasi dengan berbagai unsur, mulai dari UPT IV Kepulauan Riau, Syahbandar Wilayah Kerja Ranai, Kantor Kesehatan Pelabuhan Natuna, Polairud Polres Natuna, Karantina Natuna, Babinsa hingga Babinpotmar Posal Penagi.
Sinergi itu menunjukkan bahwa pelayanan kepada masyarakat bukan hanya tanggung jawab satu instansi, melainkan kerja bersama untuk memastikan aktivitas publik berjalan aman dan lancar.
Komandan Lanud Raden Sadjad, Marsekal Pertama TNI Onesmus Gede Rai Aryadi, menegaskan pentingnya kehadiran personel TNI AU di tengah masyarakat dengan mengedepankan profesionalisme, kepedulian, dan semangat pengabdian.
Pesan tersebut diterjemahkan secara nyata oleh para Babinterau yang bertugas di lapangan.
Di wilayah kepulauan seperti Natuna, tempat laut menjadi urat nadi kehidupan dan pelabuhan menjadi gerbang mobilitas masyarakat, kehadiran aparat yang humanis sering kali meninggalkan kesan lebih mendalam dibanding sekadar pengamanan formal.
Karena pada akhirnya, pertahanan negara tidak hanya dibangun melalui kekuatan alutsista dan pengawasan wilayah udara. Ia juga tumbuh dari kepercayaan masyarakat terhadap institusi yang hadir untuk melindungi dan melayani.
Dan di Pelabuhan Penagi pagi itu, kepercayaan tersebut tampak dalam bentuk yang sederhana: seorang prajurit TNI AU yang memilih mendorong kursi roda seorang warga.
Sebuah pemandangan kecil yang mengingatkan bahwa di balik tugas menjaga langit Indonesia, ada pula pengabdian yang berjalan di tengah masyarakat.
























