Di Hari Lahir Pancasila, Warga Serasan Tandu Pasien Lewati Pelantar Maut

Natuna, mandalapos.co.id – Langkah mereka berjalan pelan dan hati-hati. Tangan mereka menggenggam erat sebuah tandu berisi warga yang sedang sakit. Di bawah kaki, air laut menganga menunggu kesalahan sekecil apa pun.

Pemandangan itu terjadi di Gang Nelayan, Kampung Air Raya, Kelurahan Serasan, Kabupaten Natuna, Senin (1/6/2026).

Bukan karena medan bencana atau kondisi darurat alam. Melainkan karena satu-satunya akses yang menghubungkan rumah warga dengan dunia luar hanya berupa pelantar kayu yang kondisinya nyaris ambruk.

Sepanjang sekitar 100 meter, pelantar itu hanya terdiri dari tiga batang kayu yang masih dapat dipijak. Jalurnya sempit, rapuh, dan berbahaya. Bahkan untuk berjalan seorang diri pun dibutuhkan keberanian. Apalagi untuk menandu orang sakit.

Ironisnya, peristiwa itu terjadi tepat saat bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila.

Momentum yang mengingatkan kembali cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu justru menghadirkan potret berbeda di wilayah perbatasan. Ketika sebagian masyarakat merayakan nilai persatuan dan pemerataan pembangunan, warga Gang Nelayan masih harus mempertaruhkan keselamatan mereka demi mendapatkan akses kesehatan yang layak.

Ketua RT 01 Kampung Air Raya, Urai Pirdaus atau yang akrab disapa Padil, mengaku hanya bisa mengelus dada saat menyaksikan langsung proses evakuasi warganya pada Senin pagi.

Dari video yang dikirimkannya ke redaksi Mandalapos, tampak beberapa warga berusaha membawa seorang pasien dari rumah yang berada di ujung pelantar. Namun karena jalur tersebut hanya terdiri dari tiga batang kayu, warga tidak bisa beramai-ramai membantu mengangkat tandu.

Hanya dua orang yang dapat berjalan menggotong tandu sambil menjaga keseimbangan. Sedikit saja terpeleset, mereka bisa jatuh ke laut bersama pasien yang sedang ditandu.

Potret itu menjadi gambaran nyata tentang sulitnya akses dasar yang masih dihadapi sebagian masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia.

“Pelantar rakyat kami ini sudah parah. Dibangun tahun 2007. Pemerintah setempat sudah tahu, tetapi mereka juga menunggu anggaran dari kabupaten yang tak kunjung datang. Setiap tahun kami memperbaikinya dengan dana pribadi, ada juga warga yang menyumbang sedikit. Tapi paling bertahan satu tahun saja,” kata Padil.

Menurutnya, pelantar yang digunakan warga sebenarnya memiliki panjang sekitar 300 meter. Sebagian sepanjang 200 meter telah dibangun pada masa kepemimpinan Bupati Natuna terdahulu, Wan Siswandi. Namun bagian ujung pelantar yang menjadi akses menuju rumah-rumah warga kini mengalami kerusakan paling parah.

“Hari ini ada warga kami yang sakit. Mau kami gotong, tapi jembatannya tidak bisa dilewati banyak orang,” ujarnya.

Padil mengaku persoalan itu bukan hal baru. Hampir setiap tahun warga mendesaknya untuk memperbaiki pelantar tersebut. Namun sebagai ketua RT, ia tidak memiliki anggaran yang bisa digunakan untuk pembangunan.

“Hampir setiap tahun saya didesak warga agar memperbaiki jembatan ini. Sedangkan RT tidak ada anggaran. Saya sering minta tolong kawan-kawan yang agak mampu untuk membantu,” katanya.

Ironisnya, usulan perbaikan pelantar tersebut bukan baru sekali diajukan. Menurut Padil, pembangunan akses itu telah menjadi prioritas dalam Musrenbang tingkat kelurahan dan terus diusulkan selama kurang lebih lima tahun terakhir.

“Sudah lima tahun diajukan terus, tapi sampai sekarang tidak ada kabarnya,” ungkapnya.

Di balik pelantar rapuh itu, terdapat kehidupan puluhan keluarga yang menggantungkan aktivitas sehari-hari pada akses tersebut. Sebanyak 27 kepala keluarga atau sekitar 96 jiwa tinggal di Gang Nelayan dan setiap hari harus melewati jalur yang sama untuk bekerja, bersekolah, berobat, hingga memenuhi kebutuhan hidup.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan yang seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah, sampai kapan warga perbatasan harus mempertaruhkan keselamatan mereka hanya untuk mendapatkan akses dasar yang layak?

Sebab bagi warga Gang Nelayan, persoalannya bukan sekedar jembatan kayu yang lapuk dimakan usia. Yang mereka tunggu adalah kepastian bahwa mereka tidak dilupakan di ujung negeri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini