Terlilit Utang Tanpa Perjanjian, Warga Puspahiang Mengaku Pinjaman Rp8 Juta Membengkak Jadi Rp11 Juta

Tasikmalaya Mandalapos.co.id – Di sebuah rumah sederhana di Kampung Cakudu, Desa Luyubakti, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, Rismawati hanya bisa menatap pasrah angka utang yang terus membesar dari bulan ke bulan.

Pinjaman yang awalnya sekitar Rp8 juta lebih , menurut pengakuannya, kini telah membengkak menjadi lebih dari Rp11 juta. Bukan karena tambahan pinjaman baru, melainkan karena bunga dan tunggakan yang terus bertambah setiap kali ia tak mampu membayar cicilan tepat waktu.

Awalnya, uang itu dipinjam pada 28 Februari 2025 untuk kebutuhan setor di Galang. Saat itu, Rismawati berharap persoalan ekonominya bisa sedikit teratasi. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Setiap bulan, ia harus membayar angsuran sebesar Rp500 ribu . Jika terlambat, jumlah yang sama kembali ditambahkan sebagai bunga.

“Kalau saya telat, ditambah lagi Rp500 ribu. Jadi terus nambah,” ujarnya saat diwawancarai.

Hari demi hari, beban itu berubah menjadi bayang-bayang yang menyesakkan. Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang bergantung pada pekerjaan suaminya sebagai pekerja tukang bangunan yang tidak menentu, cicilan tersebut menjadi semakin sulit dipenuhi.

Menurut keterangannya, pinjaman itu diberikan langsung oleh seorang warga berinisial N.

Yang menjadi sorotan, pinjaman tersebut disebut tanpa surat perjanjian tertulis, tanpa materai, dan tanpa jaminan.

“Tidak ada surat, tidak ada perjanjian apa-apa,” kata Rismawati.

Ia juga menyebut, hingga saat ini pihak desa belum mengetahui atau belum menangani persoalan tersebut, karena sebelumnya persoalan itu dianggap masih dalam lingkup keluarga dan kerabat.

Di Kampung Cakudu, Rismawati mengaku bukan satu-satunya warga yang memiliki pinjaman serupa. Setidaknya ada tiga orang, yang sebagian masih memiliki hubungan keluarga, juga disebut memiliki utang kepada pihak yang sama.

Ketika ditanya mengenai konsekuensi jika tidak mampu membayar, Rismawati mengatakan tidak ada ancaman penyitaan barang. Namun bunga disebut terus bertambah dan pihak pemberi pinjaman kerap menunjukkan kemarahan.

“Kalau nggak bayar, marah. Tapi tetap ditulis, terus bunganya nambah,” ungkapnya.

Di balik angka-angka yang terus melonjak, tersimpan kegelisahan seorang ibu rumah tangga yang hanya ingin keluar dari jerat utang.

“Saya pengen beres, pengen bisa bayar utang, nggak terus membesar,” tuturnya lirih.

Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih berupaya melakukan konfirmasi terhadap N.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini