Natuna, Mandalapos.co.id – Grup Facebook Berita Natuna mendadak ramai dipenuhi komentar warganet terkait lauk pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk balita dan ibu hamil di Posyandu yang diduga dalam kondisi berlendir dan basi.
Perbincangan itu mencuat setelah beredarnya tangkapan layar percakapan di media sosial yang memperlihatkan keluhan penerima manfaat terkait lauk berupa bakso campur sayur kol. Dalam unggahan tersebut, makanan yang diterima disebut sudah berlendir dan berbau.
Hasil penelusuran Mandalapos, makanan MBG tersebut didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bandarsyah Bunguran Timur Natuna, pada Selasa (12/5/2026).
Tak hanya menjadi perbincangan di media sosial, dugaan makanan bermasalah itu juga disebut sempat menjadi perhatian di lingkungan sekolah.
Salah satu siswa SDN 006 Bandarsyah, sebut saja Bunga, mengaku guru kelasnya melarang siswa mengonsumsi lauk bakso yang diduga sudah berlendir tersebut.
“Guru bilang jangan dimakan,” ujar siswa itu saat ditemui.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala SPPG Bandarsyah, Asih, mengklaim pihaknya telah melakukan pengecekan terhadap sampel makanan yang disimpan dan hasilnya masih aman dikonsumsi.
“Ketika laporan masuk mengenai makanan yang berlendir, kami mencoba kembali sample lauk yang kami simpan dan rasanya masih aman,” sebutnya, Rabu, 13 Mei 2026.
Meski demikian, Asih mengakui pihaknya tetap mengambil langkah antisipasi setelah menerima laporan dari lapangan.
Untuk sementara, ia meminta para PIC atau penanggung jawab agar tidak memberikan lauk yang diduga bermasalah tersebut kepada penerima manfaat.
“Dugaan lauk yang berlendir ini masih kami dalami, karena dari sampel yang kami simpan itu baik,” ujarnya.
Asih menjelaskan proses memasak menu MBG dilakukan dalam beberapa tahap atau trip distribusi, menyesuaikan jadwal pengantaran pagi dan siang. Khusus menu yang dipersoalkan pada distribusi Posyandu, ia menyebut makanan dimasak sekitar pukul 11.00 WIB.
Namun, penjelasan itu justru memunculkan pertanyaan baru terkait standar penanganan makanan setelah dimasak. Publik mulai mempertanyakan kapan proses memasak selesai dilakukan, berapa lama makanan didinginkan sebelum dikemas, hingga bagaimana mekanisme penyimpanan dan distribusi dilakukan sebelum makanan tiba di sekolah maupun Posyandu.
Sebab, dalam program makanan bergizi yang menyasar balita dan ibu hamil, kualitas serta keamanan pangan menjadi aspek yang sangat krusial. Kesalahan dalam proses penanganan makanan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan bagi kelompok rentan penerima manfaat.
Upaya konfirmasi juga dilakukan mandalapos terhadap Koordinator BGN Wilayah Kabupaten Natuna, Lutshia Widi Febiana. Sayang hingga berita ini diterbitkan, ujung tombak BGN di daerah itu justru bungkam. *
*Alfian





















