Anambas, Mandalapos.co.id – Siang itu, panas terasa menyengat di Desa Teluk Sunting. Di tengah cuaca yang tak biasa, harapan warga akhirnya datang, meski sedikit terlambat.
Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang dinanti-nanti sejak sebelum Ramadan, baru benar-benar dibagikan pada Jumat, 27 Maret 2026.Bagi sebagian warga, waktu memang meleset. Tapi bagi mereka yang membutuhkan, bantuan tetap berarti.
Di desa yang berada di Kecamatan Siantan Tengah ini, jumlah penerima bantuan kini tak lagi sebanyak sebelumnya. Dari semula 23 Keluarga Penerima Manfaat (KPM), kini tersisa hanya 13 KPM. “Memang ada pengurangan,” ujar Kepala Desa Sahroni saat di konfirmasi di sela pembagian bantuan.
Meski jumlah penerima berkurang, nilai bantuan tetap sama Rp300 ribu per bulan, yang dibayarkan sekaligus untuk tiga bulan Januari, Februari, dan Maret.
Seharusnya, BLT ini bisa membantu warga menyambut Ramadan. Namun kenyataannya, bantuan baru turun setelah Lebaran usai. Menurut Sahroni, keterlambatan bukan berasal dari desa. “Ini karena menunggu perintah dari pusat,” jelasnya singkat.
Situasi ini mencerminkan persoalan klasik penyaluran bantuan desa sebagai ujung tombak seringkali harus menunggu kebijakan dari atas, sementara kebutuhan masyarakat berjalan tanpa jeda.
Meski datang terlambat, BLT tetap menjadi napas tambahan bagi warga. Terlebih, kebutuhan pasca Lebaran masih terasa berat. Sahroni berharap, ke depan distribusi bantuan bisa lebih tepat waktu. “Harapannya, bulan berikutnya tidak ada keterlambatan lagi,” ujarnya.
Ia juga mengimbau warga agar menggunakan bantuan dengan bijak, terutama untuk kebutuhan pokok.
Di luar persoalan bantuan, warga Desa Teluk Sunting kini menghadapi tantangan lain cuaca panas. Terik matahari yang berkepanjangan mulai memicu kekhawatiran akan musim kemarau dan potensi kekeringan. “Air mulai terasa susah,” kata Sahroni.
Kondisi ini membuat pemerintah desa mulai mengingatkan warga untuk lebih hemat dalam penggunaan air. Selain itu, risiko kebakaran juga menjadi perhatian serius di tengah kondisi kering.
Imbauan sederhana pun disampaikan: gunakan air seperlunya, dan tetap waspada.
Kisah di Desa Teluk Sunting bukan hanya tentang bantuan yang terlambat. Ini tentang bagaimana masyarakat bertahan di tengah dua tekanan sekaligus: ekonomi dan alam. BLT mungkin datang belakangan, tapi bagi warga, setiap rupiah tetap berarti.*
*YAHYA



















