
Natuna, mandalapos.co.id –
“Aaa… ini dia kapal perang China. Nomor lambung 172.”
Suara nelayan itu terdengar tegang dalam video yang direkam dari atas kapal di perairan Natuna pada 2021.
Kamera telepon genggamnya mengarah ke sebuah kapal abu-abu berukuran besar yang melintas tak jauh dari lokasi mereka melaut.
“China Coast Guard,” sahut nelayan lain.
“Bukan Coast Guard. Ini kapal perang,” jawab perekam video.
Rekaman berdurasi singkat itu kemudian menyebar luas di media sosial. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, video tersebut menjadi pengingat bahwa Natuna berada di salah satu kawasan paling sensitif di Asia Tenggara. Namun bagi nelayan setempat, berpapasan dengan kapal asing bukanlah peristiwa yang mengejutkan.
Hampir setiap hari mereka melaut di perairan yang berbatasan langsung dengan Laut Natuna Utara. Kapal penjaga pantai asing, kapal ikan asing pelaku illegal fishing, hingga kapal perang negara lain sesekali melintas di kejauhan.
Di balik hamparan laut yang tenang itu, Natuna menyimpan dua nilai strategis sekaligus: kekayaan sumber daya alam dan posisi geopolitik.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2022, potensi lestari sumber daya ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 711 mencapai sekitar 1,3 juta ton per tahun. Hampir separuh potensi tersebut berada di Laut Natuna, menjadikan kawasan ini sebagai salah satu lumbung perikanan terbesar Indonesia.
Tak heran jika Natuna menjadi magnet bagi aktivitas penangkapan ikan, termasuk praktik illegal fishing. Di sisi lain, letaknya yang berada di jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I dan berbatasan dengan sejumlah negara membuat kawasan ini memiliki arti penting bagi pertahanan nasional.
Di wilayah seperti inilah, kehadiran TNI Angkatan Udara menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga kedaulatan negara.
Negara merespons dinamika tersebut dengan memperkuat Pangkalan TNI Angkatan Udara Raden Sadjad di Ranai. Status pangkalan ini ditingkatkan menjadi Lanud Tipe A, seiring meningkatnya kebutuhan operasi dan perkembangan lingkungan strategis, baik di tingkat regional maupun global.
Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI M. Tonny Harjono, mengatakan posisi Natuna yang berada di gerbang utara Indonesia menjadikan Lanud Raden Sadjad memiliki peran strategis dalam sistem pertahanan udara nasional.
“Kami Angkatan Udara menjaga negeri, menjaga udara. Mungkin tidak terlihat. Tapi yakinlah, 1 x 24 jam, 365 hari dalam setahun kami melaksanakan tugas menjaga negeri ini,” ujar Tonny Harjono di sela acara KASAU Awards di Mabes TNI AU, 27 Mei 2025.
Kalimat itu menggambarkan wajah pengabdian TNI AU yang jarang terlihat masyarakat. Tidak seperti kapal perang yang dapat disaksikan melintas di laut atau prajurit yang berjaga di pos perbatasan, sebagian besar tugas TNI AU berlangsung di balik layar.
Radar terus memantau setiap objek yang memasuki wilayah udara Indonesia. Pesawat tempur disiagakan ketika diperlukan. Pesawat tanpa awak melakukan pengamatan dari udara. Seluruhnya bekerja dalam satu sistem untuk memastikan setiap potensi ancaman dapat dideteksi sejak dini.
Di Natuna, peran tersebut dijalankan melalui Lanud Raden Sadjad yang juga menjadi markas Skadron Udara 52 pengoperasi pesawat udara nirawak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV).
Komandan Lanud Raden Sadjad, Marsekal Pertama TNI Onesmus Gede Rai Aryadi, menjelaskan pangkalan yang dipimpinnya berfungsi sebagai Forward Operating Base (FOB) atau pangkalan aju bagi operasi udara di Laut Natuna Utara.
“Ibarat titik pijak. Ketika ada operasi pengamatan, pengintaian, patroli udara, maupun mobilitas pesawat angkut dan pesawat tempur, Lanud Raden Sadjad menjadi pangkalan pendukung,” ujarnya, Selasa, 4 Agustus 2026.
Konsep tersebut membuat Natuna kerap dianalogikan sebagai “kapal induk yang tidak pernah berlayar”. Letaknya yang berada di wilayah terluar memungkinkan pesawat militer memperpendek waktu respons ketika terjadi situasi darurat di kawasan utara Indonesia.
Namun menjaga Natuna bukan hanya soal pesawat tempur atau teknologi.
Menurut Onesmus, pertahanan negara tidak pernah berdiri di atas satu matra saja. Seluruh unsur, mulai dari TNI Angkatan Laut, pemerintah daerah, hingga masyarakat memiliki peran masing-masing.
Nelayan, misalnya, merupakan mata dan telinga pertama di laut. Ketika menemukan kapal asing yang mencurigakan, laporan mereka menjadi informasi awal yang sangat berharga bagi aparat.
Begitu pula masyarakat yang tinggal di pulau-pulau terdepan. Aktivitas udara yang tidak biasa, pendaratan pesawat atau helikopter di lokasi tertentu, hingga berbagai dinamika di wilayah perbatasan dapat menjadi bagian dari sistem deteksi dini apabila segera dilaporkan kepada aparat.
“Pertahanan itu tidak bisa dilakukan oleh TNI AU sendiri. Semua lini, semua lembaga, termasuk masyarakat, memiliki peran dalam menjaga kedaulatan negara,” kata Onesmus.
Karena itu, selain memperkuat kemampuan operasi udara, Lanud Raden Sadjad juga aktif membangun kedekatan dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan pembinaan teritorial, bakti kesehatan, donor darah, hingga pelayanan sosial di wilayah binaannya.
Bagi TNI AU, kegiatan-kegiatan tersebut bukan sekedar bentuk kepedulian, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat sebagai bagian dari sistem pertahanan negara.
Di beranda utara Indonesia, kedaulatan dijaga melalui kerja yang nyaris tak terlihat, radar yang tak pernah berhenti berputar, pesawat yang selalu siap diterbangkan, prajurit yang terus berlatih, dan masyarakat yang memilih melapor ketika melihat sesuatu yang mencurigakan.
Di situlah makna pengabdian TNI Angkatan Udara menemukan bentuknya. Bukan sekedar memastikan tidak ada satu jengkal pun wilayah udara Indonesia dilanggar, tetapi menghadirkan rasa aman bagi masyarakat yang hidup di garis terdepan negeri.*
*PENULIS: ALFIANA


















