Natuna, mandalapos.co.id – Barang-barang kebutuhan pokok yang awalnya berharga normal di kota besar, kerap berubah menjadi jauh lebih mahal ketika tiba di wilayah perbatasan dan kepulauan seperti Kabupaten Natuna. Mulai dari beras, minyak goreng, telur, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya, semuanya harus melewati jalur distribusi panjang sebelum sampai ke tangan masyarakat.
Namun hingga kini, penyebab pasti tingginya harga barang di daerah perbatasan masih menjadi tanda tanya. Apakah dipengaruhi biaya logistik yang tinggi, distribusi yang belum efisien, atau ada persoalan lain dalam rantai tata niaga.
Persoalan itulah yang kini mulai mendapat perhatian serius dari Badan Riset dan Inovasi Nasional. Pada 18 Mei 2026 mendatang, tim peneliti BRIN dijadwalkan datang ke Natuna untuk melakukan riset terkait harga barang, khususnya bahan pokok yang didistribusikan melalui program Tol Laut.
Riset tersebut akan melibatkan sejumlah pihak, mulai dari Pemerintah Daerah melalui Disperindag, Sarana Bandar Nasional (SBN), hingga Sarana Bandar Logistik (SBL).
Kepala Syahbandar Ranai, Liber Hutahaean membenarkan rencana kedatangan tim peneliti tersebut.
“Iya benar, rombongan akan datang pada tanggal 18 Mei 2026 mendatang,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (12/5/2026).
Tim BRIN terdiri dari sejumlah peneliti dan ahli, di antaranya Dr. Ir. Johni Malisan sebagai Ahli Utama, Pihri, SE., M.I.D.E.C sebagai Ahli Muda, serta Grace Aloina Oh.D sebagai Ahli Muda.
Kedatangan mereka bertujuan memotret kondisi nyata terkait pembentukan harga barang di wilayah perbatasan dan kepulauan seperti Natuna.
Selama ini, masyarakat Natuna masih menghadapi tingginya harga berbagai kebutuhan pokok dibanding sejumlah daerah lain di Indonesia. Sebagian besar barang harus didatangkan dari luar daerah seperti Batam, Pontianak, Tanjungpinang, hingga Jakarta melalui jalur laut.
Kondisi geografis sebagai wilayah kepulauan membuat distribusi barang memiliki tantangan tersendiri, mulai dari jarak pengiriman, biaya logistik, bongkar muat, hingga faktor cuaca yang kerap menghambat pelayaran.
Program Tol Laut yang digagas pemerintah sebenarnya bertujuan menekan disparitas harga antarwilayah. Namun dalam praktiknya, masyarakat di daerah terluar masih mengeluhkan mahalnya harga barang.
Anggota Tim Peneliti BRIN, Grace Aloina, mengatakan, fenomena lonjakan harga barang di daerah memang menjadi perhatian BRIN.
“Biasanya harga barang dari kota jika sampai ke suatu daerah melambung jauh,” ujarnya.
Menurutnya, riset di Natuna akan mencoba melihat berbagai faktor yang memengaruhi tingginya harga barang, termasuk rantai distribusi dan efisiensi logistik.
Sebelum ke Natuna, tim BRIN diketahui telah melakukan kajian serupa di Kabupaten Pakpak Bharat untuk memetakan komoditas unggulan daerah serta struktur harga barang.
“Dan kita ke Natuna juga untuk melakukan hal yang sama. Kemarin pesawat kami terkendala sehingga jadwal diundur. Namun tanggal 18 nanti kami sudah berada di Natuna. Semoga semua berjalan lancar,” kata Grace.
Riset tersebut diperkirakan tidak hanya melihat harga barang di tingkat pasar, tetapi juga memetakan alur distribusi dari pelabuhan hingga sampai ke tangan konsumen.
Hasil kajian BRIN nantinya diharapkan dapat menjadi dasar rekomendasi kebijakan pemerintah dalam menekan biaya logistik dan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, khususnya di wilayah perbatasan dan kepulauan seperti Natuna.*
*ALfian





















