Menjaga Warisan Bumi, Merawat Ingatan Budaya Sejak Dini

Siswa SDN 007 Ranai Darat mengenakan beragam kostum profesi dan pakaian adat dalam Pawai Budaya untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 sekaligus mengenalkan keberagaman kepada generasi muda, Sabtu (31/10/2026).

Natuna, mandalapos.co.id – Pagi, 31 Oktober 2026, halaman SD Negeri 007 Ranai Darat, Kabupaten Natuna, tampak lebih berwarna dari biasanya. Ratusan siswa berbaris rapi. Di antara barisan itu, para guru sibuk memastikan setiap anak berada pada posisi masing-masing sebelum pawai dimulai.

Ada yang berbeda dari penampilan mereka. Seragam sekolah berganti dengan pakaian adat Melayu Natuna dan busana khas berbagai suku. Sebagian siswa tampil dengan seragam profesi, mulai dari dokter, TNI, Polri, koki, pilot, perawat hingga pimpinan proyek.

Kreativitas anak-anak itu juga terlihat dari sebuah sepeda mungil yang dihias menyerupai tank militer. Sementara seorang siswa tampil menyerupai sosok Pahlawan Pattimura yang terpampang pada uang kertas pecahan Rp1.000, lengkap dengan cetakan gambar uang yang dipasang di belakang tubuhnya.

Iringan musik drum band MTsN 2 Natuna menambah semarak suasana. Dengan langkah dan irama yang mengiringi, satu per satu barisan siswa bersiap meninggalkan halaman sekolah.

Pagi itu, Sabtu (31/10/2026), SDN 007 Ranai Darat menggelar Pawai Budaya untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98. Sebanyak 320 siswa dari 15 kelas dilibatkan dalam kegiatan tersebut.

Siswa SDN 007 Ranai Darat mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah saat mengikuti Pawai Budaya yang digelar untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Ranai Darat, Natuna, Sabtu (31/10/2026).

Di balik beragam kostum dan kreativitas anak-anak, terselip pesan yang lebih besar dari sekadar perayaan hari bersejarah. Sekolah ingin mengenalkan keberagaman sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya, sebagai bagian dari upaya mendukung Natuna menuju UNESCO Global Geopark.

Bagi Natuna, Geopark bukan hanya tentang batuan dan bentang alam yang menyimpan jejak sejarah bumi. Ada kekayaan keanekaragaman hayati serta budaya masyarakat yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari warisan daerah ini.

Karena itu, perjalanan menuju pengakuan UNESCO Global Geopark tidak cukup hanya dengan menjaga dan memperkenalkan kekayaan alam. Pengetahuan dan kesadaran masyarakat, termasuk generasi muda, juga perlu dibangun sejak dini.

Dari lingkungan sekolah, langkah itu mulai diperkenalkan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Natuna, Ilham Kauli, yang melepas langsung peserta pawai, mengatakan pemerintah daerah tengah menyusun kurikulum muatan lokal Geopark untuk diterapkan di sekolah-sekolah.

Menurutnya, pendidikan tentang Geopark perlu diberikan sejak usia dini dengan materi yang disesuaikan berdasarkan jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas.

“Berbicara tentang Geopark bukan hanya berbicara tentang batu, tetapi juga mencakup geologi, biodiversitas, dan budaya masyarakat. Melalui kegiatan seperti pawai budaya ini, kita mengenalkan kepada anak-anak keberagaman suku, bahasa, adat istiadat, dan budaya,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Natuna, Ilham Kauli, memberikan keterangan kepada awak media usai melepas Pawai Budaya SDN 007 Ranai Darat yang diikuti 320 siswa dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98, Sabtu (31/10/2026).

Ilham menjelaskan, kurikulum tersebut nantinya tidak hanya berbicara tentang kekayaan alam, tetapi juga mencakup bahasa daerah, kesenian, tradisi, serta nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Ia berharap anak-anak Natuna tumbuh dengan pemahaman bahwa manusia bukanlah perusak alam, melainkan bagian dari lingkungan yang harus mampu beradaptasi, menjaga, dan melestarikannya.

Di sisi lain, pengenalan budaya lokal juga dinilai penting untuk mencegah bahasa dan tradisi daerah semakin tergerus zaman. Kekayaan budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat dapat menjadi identitas sekaligus daya tarik bagi wisatawan.

Ilham mencontohkan Bali yang memiliki daya tarik pariwisata melalui kekuatan adat istiadat, seni, dan budayanya. Menurutnya, Natuna juga memiliki potensi serupa melalui keberagaman budaya yang diwariskan masyarakatnya.

Pelestarian tersebut, kata dia, tidak hanya berkaitan dengan identitas daerah, tetapi juga berpeluang mendorong perkembangan pariwisata dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Saat ini, penyusunan kurikulum muatan lokal Geopark masih dalam tahap pembahasan. Disdikbud Natuna menargetkan penyusunannya selesai tahun ini sebelum dilanjutkan dengan sosialisasi.

Dari halaman SDN 007 Ranai Darat, gagasan besar itu menemukan salah satu bentuk sederhananya. Anak-anak diperkenalkan pada pakaian adat, keberagaman suku, profesi, dan nilai kebudayaan melalui sebuah pawai.

Mungkin bagi sebagian siswa, pagi itu hanya tentang mengenakan kostum berbeda dan berjalan bersama teman-temannya diiringi musik drum band. Namun, di balik kegiatan tersebut, ada upaya menanamkan pemahaman bahwa kekayaan alam dan budaya Natuna merupakan warisan yang perlu dikenal, dijaga, dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Sebab, ketika Natuna menatap UNESCO Global Geopark, masa depan kawasan itu juga berada di tangan anak-anak yang hari ini sedang belajar mengenal tanah kelahirannya.*

*ALFIAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini