Anambas, mandalapos.co.id — Pagi itu, langkah-langkah pelan warga mulai memenuhi halaman Kantor Desa Tarempa Barat. Tak ada kemewahan, hanya harapan sederhana: membawa pulang sedikit bantuan untuk menjaga dapur tetap menyala.
Rabu, 6 Mei 2026, menjadi hari yang dinanti. Pemerintah Desa Tarempa Barat, Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, menyalurkan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) tahap pertama untuk periode April hingga Mei kepada 10 Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Di ruang sederhana itu, satu per satu warga maju. Di tangan mereka, bantuan sebesar Rp200.000 per bulan mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang. Namun bagi mereka, angka itu adalah napas tambahan di tengah tekanan kebutuhan hidup terlebih menjelang hari raya.
“Memang tidak banyak, tapi setidaknya bisa membantu dapur tetap menyala.”
Kalimat itu terucap lirih, namun cukup menggambarkan isi hati banyak warga hari itu.
Kepala Desa Tarempa Barat, Asmarandi, menyerahkan bantuan secara langsung. Wajahnya tenang, namun penuh pemahaman terhadap kondisi warganya. Ia tahu betul, bantuan ini bukan solusi besar tapi bisa menjadi penyangga di saat yang tepat.
Di luar urusan ekonomi, desa ini baru saja melewati ujian lain. Kemarau sempat membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih. Sumur-sumur mengering, aktivitas sehari-hari pun terganggu.
Namun perlahan, langit mulai berubah. Hujan yang turun dalam beberapa waktu terakhir membawa kelegaan. Air kembali mengalir, kehidupan pun mulai menemukan ritmenya lagi.
“Alhamdulillah, air sudah mulai lancar kembali. Sebelumnya sempat kering, sekarang sudah jauh lebih baik,” ujar Asmarandi.
Meski begitu, tantangan belum benar-benar usai. Cuaca yang tak menentu panas menyengat lalu tiba-tiba hujan membuat pemerintah desa terus mengingatkan warga untuk menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan.
Di tengah situasi itu, semangat kebersamaan justru semakin terasa. Menjelang Hari Raya Iduladha, warga kembali diingatkan pada tradisi yang telah lama hidup di desa ini: berkurban dari hasil gotong royong.
Tak selalu banyak, tak selalu besar. Namun setiap hewan kurban yang hadir selalu membawa cerita kebersamaan.
“Yang penting kebersamaan. Sedikit atau banyak, yang penting niat berbagi itu tetap ada,” tutur Asmarandi.
Di Desa Tarempa Barat, bantuan mungkin datang dalam jumlah terbatas. Namun di balik itu, ada sesuatu yang jauh lebih besar yang terus dijaga: kepedulian, solidaritas, dan harapan.
Dan selama itu masih ada, kehidupan akan terus berjalan meski perlahan, namun pasti.



















