Dari Desa Luyubakti, Perburuan TB Dimulai Ciptadi Turun Tangan Jemput Kasus Tersembunyi

Tasikmalaya Mandalapos.co.id — Pagi di Desa Luyubakti terasa berbeda. Warga berdatangan, bukan untuk pasar atau acara hajatan, melainkan untuk satu hal yang lebih sunyi, memeriksa penyakit yang sering datang tanpa tanda.

Baru sepekan menjabat sebagai Kepala Puskesmas Puspahiang, Ciptadi langsung membuat langkah cepat. Ia tidak menunggu pasien datang. Ia yang mendatangi mereka.

Senin (30/3/2026), program Active Case Finding (ACF) TB Paru resmi digelar di Desa Luyubakti, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya. Sebuah pendekatan “jemput bola” untuk menemukan kasus Tuberkulosis sejak dini—sebelum terlambat.

Di tengah lapangan desa, alat rontgen berdiri. Warga antre. Pemeriksaan dilakukan di tempat. Gratis, tanpa memandang status BPJS.

“Biasanya kita menunggu pasien datang ke puskesmas. Sekarang kita turun langsung ke masyarakat,” ujar Ciptadi.

Langkah ini bukan tanpa alasan. TB, menurutnya, seperti gunung es. Yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecil. Sementara di bawahnya, masih banyak kasus yang belum terdeteksi—dan berpotensi menular.

Sasaran program ini pun spesifik. Mereka yang tinggal serumah dengan penderita TB, balita dengan gizi buruk atau stunting yang tak kunjung membaik, hingga kelompok berisiko seperti perokok berat.

Semua diperiksa. Semua berpeluang diketahui kondisinya sejak awal.

“Kalau tidak ditemukan lebih dini, penularannya bisa semakin luas. Karena TB ini menular lewat udara,” katanya.

Desa Luyubakti menjadi titik awal. Program ini direncanakan menjangkau delapan desa di wilayah kerja Puskesmas Puspahiang. Satu per satu akan disisir, mencari kasus yang selama ini tersembunyi.

Namun upaya ini tidak berhenti pada pemeriksaan. Bagi warga yang terdeteksi, pengobatan akan diberikan secara gratis. Tim juga akan melakukan penyuluhan langsung ke masyarakat, sekaligus memetakan wilayah dengan potensi penularan tinggi.

Menariknya, program ini juga membuka fakta lain. Sejumlah kasus stunting yang tidak kunjung membaik, diduga berkaitan dengan TB yang tidak terdiagnosis.

“Kadang sudah diberi makanan tambahan, tapi tidak naik. Bisa jadi karena TB. Jadi harus diobati dulu,” jelas Ciptadi.

Di akhir kegiatan, pesan sederhana disampaikan kepada masyarakat. Bahwa pencegahan tidak selalu rumit. Dimulai dari lingkungan yang bersih, pola makan yang baik, dan kebiasaan hidup sehat.

“Intinya meningkatkan PHBS, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat,” tutupnya.

Dari Desa Luyubakti, langkah kecil itu dimulai. Sebuah upaya membongkar penyakit yang selama ini tersembunyi—agar tidak lagi diam-diam mengancam.

Di tempat yang sama kepala Desa Luyubakti Muksin menyampaikan Apresiasi atas program tersebut, warga sangat antusias mengikuti pemeriksaan, dan program ini membantu deteksi awal penyakit sehingga pemerintah Desa mendukung program ini.

Selain itu warga bisa merasakan progam pengobatan gratis yang dilaksanakan oleh Puskesmas Puspahiang, harapan kedepan program tidak berhenti, dan berlanjut setiap bulannya, sehingga Desa Luyubakti bebas dari penyakit menular.

*YAHYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini