Ditolak Saat Darurat, Bayi Nyaris Terlambat Diselamatkan Kisah Darsono dari Puspahiang

Tasikmalaya Mandalapos.co.id – Sore itu, kegelisahan tak bisa lagi disembunyikan dari wajah Darsono. Di balik dinding UPT Puskesmas Puspahiang, harapan seorang kakek nyaris pupus—bukan karena tak ada usaha, tapi karena waktu yang terus berjalan tanpa kepastian.

Darsono, warga Mandala Sari, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, mengingat betul tanggal itu 23 Maret 2026. Hari ketika anaknya berjuang antara hidup dan risiko, menunggu pertolongan yang tak kunjung datang.

Awalnya, sang anak sudah dua kali dibawa berobat. Hasil pemeriksaan USG di sebuah klinik di Singaparna menunjukkan kondisi yang tak bisa dianggap sepele bayi dalam kandungan berbobot hampir tiga kilogram, posisi sungsang, dan panggul ibu sempit. Sebuah kombinasi yang jelas membutuhkan penanganan medis serius.

Dengan harapan mendapat penanganan cepat, Darsono membawa anaknya ke UPT Puskesmas Puspahiang. Ia berharap fasilitas kesehatan tingkat pertama itu bisa menjadi pintu awal keselamatan.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Anaknya dirawat sejak Minggu hingga Selasa pagi. Kondisinya terus melemah. Ketuban mulai menipis, tenaga semakin habis. Dalam situasi yang menurutnya darurat, Darsono meminta surat rujukan agar anaknya bisa segera dibawa ke rumah sakit.

Jawaban yang ia terima membuatnya terpukul.

Petugas piket, menurut Darsono, menyampaikan bahwa rujukan tidak bisa diberikan saat itu karena alasan libur bersama, dan ia diminta menunggu hingga hari Rabu.

“Kalau darurat, masa harus nunggu hari?” ujar Darsono, mengingat momen tersebut dengan nada kecewa.

Waktu tak berpihak. Tanpa rujukan, tanpa kepastian, Darsono akhirnya mengambil keputusan sendiri. Ia membawa anaknya keluar dari puskesmas menuju sebuah klinik di Singaparna.

Di sana, respons datang cepat. Tak sampai lama, anaknya langsung ditangani, diinfus, dan segera dirujuk ke rumah sakit. Perjalanan berlanjut ke RS Respati. Mereka tiba sekitar pukul 16.00 WIB.

Di rumah sakit, penanganan berlangsung sigap. Hanya berselang beberapa jam, tepat pukul 20.00 WIB, operasi dilakukan.

Malam itu, kecemasan panjang akhirnya terbayar. Ibu dan bayi berhasil selamat.

“Alhamdulillah,” ucap Darsono singkat, namun penuh makna.

Meski berakhir dengan keselamatan, pengalaman itu meninggalkan luka dan pertanyaan besar. Baginya, fasilitas kesehatan seharusnya menjadi tempat pertama yang sigap, terutama dalam kondisi darurat.

Ia tidak menuntut lebih. Hanya satu hal sederhana: pelayanan yang siap.

“Kalau memang tidak sanggup menangani, ya beri rujukan. Jangan ditahan,” katanya.

Darsono berharap kejadian yang dialaminya tidak terulang, terutama bagi masyarakat lain di Kecamatan Puspahiang yang menggantungkan harapan pada layanan kesehatan terdekat.

Sebab dalam situasi seperti itu, yang dipertaruhkan bukan sekadar prosedur—melainkan nyawa.

Hingga berita ini diterbitkan, awak media mandalapos masih berupaya mengkonfirmasi pihak UPT Puskesmas Puspahiang kecamatan Puspahiang Kabupaten Tasikmalaya.

*YAHYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini