Menyalakan Mimpi, Menerangi Masa Depan, Ikhtiar Pertamina di Tanah Perbatasan

Penerima Beasiswa Sobat Bumi Natuna berpose di depan Universitas Pertamina. Program kolaborasi Pertamina Foundation dan Universitas Pertamina ini membuka kesempatan bagi putra-putri Natuna untuk melanjutkan pendidikan tinggi dengan dukungan biaya pendidikan dan biaya hidup. (Foto: dok. Niko Panggabean)

Natuna, mandalapos.co.id – Di antara deretan rumah sederhana di Desa Sebadai Ulu yang jauh dari keramaian pusat kota Kabupaten Natuna, seorang remaja bernama Anggi Ilwansyah menghabiskan waktu siang dan malamnya hanya untuk belajar.

Ketika sebagian teman seusianya mulai sibuk membayangkan kehidupan kampus, Anggi justru bergulat dengan satu pertanyaan, bagaimana cara kuliah jika orang tua tak sanggup membiayainya?

“Ayah ga mampu membiayai kamu kuliah. Kalau kamu mau kuliah, kamu harus bisa mendapat beasiswa.”

Kalimat itu masih terpatri jelas dalam ingatan Anggi. Meski begitu, Anggi tidak pernah kecewa kepada sang ayah. Ia memahami bahwa ada batas kemampuan yang harus mereka hadapi bersama.

Ayahnya, Sarinul, sehari-hari hanya bekerja sebagai penjaga sekolah di SD Negeri 007 Desa Sebadai Ulu, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna.

Penghasilan Sarinul hanya Rp1,7 juta per bulan. Bagi lelaki yang telah memasuki usia lanjut itu, membiayai anak hingga perguruan tinggi merupakan beban yang berat.

Anggi tak ingin keadaan tersebut menjadi akhir dari cita-citanya. Ia memilih berusaha dengan kemampuan yang dimiliki, sembari memegang nasihat ayahnya tentang ikhtiar dan doa.

“Manusia hanya bisa berusaha, yang manusia tidak bisa, serahkan kepada Allah.”

Nasihat ayahnya itu terus dipegang Anggi. Selain belajar dengan tekun, ia juga menjaga ibadah dan memanjatkan doa. Ia tahu, ada harapan orang tua yang ikut diperjuangkan.

Menjelang kelulusan dari SMA Negeri 1 Bunguran Timur Laut, sebuah kesempatan datang melalui Program Sobat Bumi Natuna 2026. Program hasil kolaborasi Pertamina Foundation dan Universitas Pertamina itu, membuka jalan bagi pelajar asli Natuna untuk melanjutkan pendidikan tinggi dengan dukungan beasiswa.

Sebanyak 10 kuota disediakan bagi pelajar Natuna. Namun, kesempatan itu tidak datang begitu saja. Anggi harus melewati seleksi ketat dan bersaing dengan 60 pelajar berprestasi dari berbagai sekolah di daerahnya.

Bagi Anggi, persaingan tersebut bukan alasan untuk mundur. Selama bersekolah, ia selalu meraih peringkat pertama di kelas. Prestasi itu menjadi modal, tetapi ia juga sadar ada banyak hal yang harus dipersiapkan untuk memenangkan beasiswa.

Ia memperbanyak waktu belajar, berusaha memahami materi, dan menjaga keyakinannya.

“Demi dapat beasiswa ini saya intensif belajar. Ini bukan hanya mimpi saya, tapi juga harapan orang tua saya,” cerita Anggi saat dihubungi mandalapos.co.id, 18 Oktober 2026.

Anggi Ilwansyah (kemeja hitam) berfoto bersama kedua orang tua dan saudaranya sebelum berangkat ke Jakarta untuk memulai perkuliahan di Universitas Pertamina. Melalui Beasiswa Sobat Bumi Natuna 2026, Anggi memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. (Foto: dok. Anggi Ilwansyah)

Kesungguhannya bukan hanya terlihat dari hasil belajar. Fajar, abang kandung Anggi, menyaksikan sendiri bagaimana adiknya menghabiskan waktu untuk mempersiapkan diri. Siang dan malam, Anggi berusaha memaksimalkan kesempatan yang ada.

“Bukan cuma belajar, dia selalu berdoa. Salat tidak pernah tinggal. Ayah juga begitu, selalu mendoakan dia,” kata Fajar pada 17 Oktober 2026, di kediamannya Desa Sebadai Ulu.

Keterbatasan keluarga bahkan terasa ketika Anggi harus menyiapkan berkas administrasi untuk mengikuti seleksi. Ia perlu meminjam laptop dari rekan abangnya yang berada di Desa Tanjung. Jika harus pergi ke tempat jasa pengetikan dan percetakan di Kota Ranai, keluarga itu perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk menempuh perjalanan sejauh 23 kilometer.

Bagi Anggi, setiap pengeluaran perlu diperhitungkan. Untuk mengejar kesempatan kuliah, ia harus mengandalkan apa yang tersedia di sekelilingnya, termasuk bantuan orang lain.

Perjuangan itu akhirnya berbuah manis. Nama Anggi tercantum dalam pengumuman penerima Beasiswa Sobat Bumi Natuna 2026.

Kabar tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri bagi keluarganya. Harapan yang selama ini mereka perjuangkan melalui kerja keras dan doa, kini menemukan jalan.

“Kami sekeluarga sangat bersyukur sekali, kami bangga sama Anggi,” ujarnya.

Fajar mengakui, membiayai pendidikan Anggi secara mandiri hampir tidak mungkin dilakukan, terlebih untuk kuliah di Universitas Pertamina.

“Setahu saya untuk uang pangkal saja bisa puluhan juta, belum biaya per semester. Dengan gaji ayah seperti sekarang tidak akan mampu,” tuturnya.

Kini, Anggi memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang dahulu terasa begitu jauh dari jangkauan keluarganya.

Doa Seorang Ibu dan Pertolongan Tuhan

Di Natuna, Anggi bukan satu-satunya anak yang menyimpan harapan serupa. Di keluarga lain, ada Niko Panggabean, yang juga berjuang agar keinginannya menempuh pendidikan tinggi tidak kandas oleh keadaan ekonomi.

Di kawasan Pering, Kelurahan Bandarsyah, Natuna, Demaris Panjaitan menyimpan harapan besar bagi masa depan putranya, Niko Panggabean.

“Walau hidup kami tidak mudah, kami selalu mendoakan dia,” kata Demaris Panjaitan, ibu Niko, saat ditemui di kediamannya pada 9 Oktober 2026.

Doa tulus sang ibu langsung dijawab Tuhan melalui Program Beasiswa Sobat Bumi Natuna dari Pertamina. Bagi keluarga ini, beasiswa tersebut bagian dari pertolongan Tuhan yang datang pada waktu yang tepat.

Sebelum mendapatkan beasiswa dari Pertamina, Niko sebenarnya telah dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa di Telkom University. Namun, ia tidak berhasil memperoleh program beasiswa unggulan yang memberikan pembiayaan pendidikan gratis 100 persen hingga tamat.

“Di Telkom dia cuma dapat potongan 50 persen biaya pendidikan,” kata ayah Niko, Parlindungan Panggabean.

Bagi Parlindungan, yang akrab disapa Gabe, potongan biaya tersebut masih menyisakan beban besar. Ia mengandalkan penghasilan dari jasa pemasangan instalasi listrik untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dalam pekerjaannya, sang istri pun ikut membantu, berbagi tenaga agar penghasilan keluarga tetap mencukupi.

Dengan keadaan itu, Gabe mengaku tak sanggup membiayai pendidikan Niko di Telkom University jika harus menanggung sisa biaya kuliah secara mandiri.

“Saya bilang ke dia, Bapak tak mampu Niko,” ujarnya.

Kalimat itu menjadi kenyataan pahit yang harus mereka hadapi. Niko memiliki kesempatan untuk kuliah, tetapi kemampuan ekonomi keluarga belum memungkinkan untuk membiayainya.

Meski demikian, keadaan tersebut tidak memadamkan keinginan Niko untuk melanjutkan pendidikan. Sejak duduk di bangku SMA Negeri 1 Bunguran Timur, ia menjaga prestasi akademiknya dan selalu berada di tiga besar kelas.

Ia memiliki alasan yang lebih besar daripada sekedar meraih gelar sarjana. Niko ingin mengubah keadaan keluarganya, agar kelak orang tuanya dapat menikmati kehidupan yang lebih baik setelah bertahun-tahun bekerja keras.

“Saya ingin mengangkat derajat keluarga saya, Om,” tegas Niko saat dihubungi pada 18 Oktober 2026.

Kesempatan itu datang melalui Beasiswa Sobat Bumi Natuna 2026. Niko mendapatkan jalan untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Pertamina tanpa harus menghadapi beban biaya kuliah.

Niko Panggabean berfoto bersama kedua orang tuanya saat mengikuti kegiatan pengukuhan Paskibraka Kabupaten Natuna. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, Niko terus berjuang meraih pendidikan tinggi dan memperoleh Beasiswa Sobat Bumi Natuna 2026. (dok. Niko Panggabean)

Bagi Demaris dan Gabe, keberhasilan Niko bukan hanya tentang diterimanya sang anak di perguruan tinggi. Ada kelegaan, karena harapan yang mereka titipkan dalam doa kini disertai kesempatan nyata untuk diwujudkan.

Meski telah memperoleh beasiswa, perjalanan Niko tidak serta-merta menjadi mudah. Ia kini harus menjalani kehidupan perkuliahan di Universitas Pertamina.

Sebagai anak yang tumbuh dan bersekolah di Natuna, Niko merasakan perbedaan suasana belajar ketika bertemu mahasiswa dari berbagai daerah. Persaingan akademik di kampus membuatnya harus menyesuaikan diri dan meningkatkan kemampuan.

“Kalau di Natuna itu kan suasana belajarnya santai Om. Kalau di sini itu saya melihat mahasiswa lain sangat ambisius, mereka semua ngejar prestasi. Jadi saya termotivasi juga untuk berambisi seperti mereka,” ujarnya.

Di tengah proses adaptasi itu, Niko menyimpan harapan untuk menyelesaikan pendidikan dengan prestasi yang baik dan mendapatkan pekerjaan setelah lulus.

“Saya ingin mengangkat ekonomi keluarga saya,” harapnya.

Harapan itu pula yang membuat beasiswa memiliki arti lebih dalam bagi Niko. Pendidikan tinggi membuka jalan untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi orang tuanya.

Ketika Beasiswa Membuka Pintu dari Perbatasan

Kisah Anggi dan Niko memperlihatkan persoalan yang dihadapi sebagian anak di wilayah terdepan dan terluar seperti Natuna. Keinginan untuk melanjutkan pendidikan tinggi tidak selalu berjalan seiring dengan kemampuan ekonomi keluarga.

Di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, persoalan itu tidak bisa dilepaskan dari kondisi geografis wilayah kepulauan yang berada di beranda utara Indonesia.

Bagi pelajar yang ingin menempuh pendidikan tinggi di luar daerah, keputusan untuk kuliah bukan hanya soal kesiapan akademik. Biaya pendidikan dan kebutuhan hidup selama tinggal jauh dari keluarga turut menjadi pertimbangan.

Kehadiran program beasiswa menjadi salah satu jalan untuk memperkecil hambatan itu. Di Natuna, salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Sobat Bumi Natuna, program yang telah berjalan sejak 2023 dengan dukungan Pertamina Foundation dan Universitas Pertamina.

Kepala Bagian Kerja Sama Sekretariat Daerah Kabupaten Natuna, Tukino, mengatakan pemerintah daerah telah berupaya menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi dan kementerian yang memiliki institusi pendidikan sejak 2022.

Menurut dia, upaya tersebut dilakukan agar semakin banyak putra-putri daerah mendapatkan akses pendidikan tinggi, terutama mereka yang memiliki prestasi tetapi berasal dari keluarga kurang mampu.

Salah satu hasil kerja sama itu adalah program Sobat Bumi Natuna. Sejak pertama kali dilaksanakan pada 2023 hingga 2026, sebanyak 53 anak Natuna telah meraih beasiswa pendidikan di Universitas Pertamina.

“Program ini jadi penyemangat anak Natuna. Mereka sungguh luar biasa terbantu. Di antara anak-anak yang lulus ini, banyak dari keluarga tidak mampu,” kata Tukino.

Ia menjelaskan, penerima beasiswa Sobat Bumi Natuna memperoleh dukungan biaya pendidikan secara penuh, asrama gratis, termasuk biaya hidup atau living cost sekitar Rp1,5 juta perbulan.

Pemerintah Kabupaten Natuna berharap kerja sama dengan Pertamina Foundation dan Universitas Pertamina dapat terus berlanjut. Dengan begitu, semakin banyak pelajar daerah yang memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi, tanpa harus terhenti karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Bagi Anggi dan Niko, manfaat program tersebut tidak berhenti pada pembiayaan kuliah. Beasiswa menjadi kesempatan untuk melanjutkan perjalanan yang sebelumnya terasa sulit dijangkau.

Sejumlah pelajar Natuna mengikuti tes seleksi Beasiswa Sobat Bumi Natuna 2026 di Natuna. Mereka bersaing memperebutkan kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Pertamina melalui program kolaborasi Pertamina Foundation dan Universitas Pertamina. (Foto: Alfiana/mandalapos)

Energizing Innovation, Menyalakan Energi Perubahan Melalui Pendidikan

Beasiswa Sobat Bumi Natuna merupakan bagian dari pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina melalui kolaborasi Pertamina Foundation dan Universitas Pertamina. Program di bidang pendidikan tersebut menjadi salah satu upaya untuk mendukung lahirnya generasi emas Indonesia 2045.

Dalam semangat Energizing Innovation, perubahan tidak hanya berkaitan dengan pengembangan teknologi atau inovasi di bidang energi. Upaya membangun sumber daya manusia juga menjadi bagian penting dari keberlanjutan, terutama ketika kesempatan pendidikan dibuka bagi mereka yang sebelumnya menghadapi hambatan ekonomi.

Mengutip laman pertaminafoundation.org, President Director Pertamina Foundation, Agus Mashud S. Asngari, menegaskan bahwa Pertamina Foundation memiliki peran strategis sebagai mitra Pertamina dalam pelaksanaan program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Peran tersebut sekaligus mendukung penguatan ekosistem yang berkontribusi terhadap pertumbuhan bisnis Pertamina Group.

Pertamina Foundation juga menjalankan peran sebagai jembatan yang menghubungkan ekosistem Pertamina dengan masyarakat, terutama kelompok marginal dan masyarakat yang membutuhkan akses terhadap pendidikan tinggi.

Agus Mashud S. Asngari mengatakan Sobat Bumi bukan sekadar program beasiswa biasa. Program tersebut mengajak generasi muda meraih cita-cita bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Kami tidak mencari penerima beasiswa yang sempurna melainkan mencari yang sungguh-sungguh, sepenuh hati, menyalurkan energi baik untuk Ibu Pertiwi,” ucap Agus.

Penerima beasiswa Sobat Bumi memperoleh bantuan biaya pendidikan berupa SPP atau UKT dan biaya hidup, serta dukungan biaya magang khusus bagi mahasiswa vokasi.

Mereka juga dilibatkan dalam aksi sosial, program pengembangan kapasitas dan karakter, inisiatif ramah lingkungan, serta jejaring alumni yang tergabung dalam komunitas Sobat Bumi.

Melalui berbagai aksi sosial, program pengembangan kapasitas, inisiatif ramah lingkungan, serta komunitas Sobat Bumi, para penerima beasiswa didorong untuk membangun karakter, meningkatkan kepedulian sosial, dan memahami pentingnya keberlanjutan lingkungan. (Foto: dok. Pertamina)

Melalui pendekatan tersebut, dukungan pendidikan tidak hanya diarahkan untuk membantu mahasiswa menyelesaikan studi. Program ini juga memberikan ruang bagi penerima beasiswa untuk mengembangkan karakter, kepedulian sosial, dan pemahaman terhadap keberlanjutan lingkungan.

Komitmen Pertamina Foundation terhadap pemberdayaan masyarakat juga terlihat di sektor ekonomi kreatif. Lembaga ini tercatat telah mengembangkan 262 Desa Energi Berdikari, melatih 6.325 wirausaha perempuan, serta menyalurkan bantuan modal usaha UMKM melalui program PFpreneur. Melalui program inovasi sosial muda atau PFmuda, Pertamina Foundation juga mendampingi 367 proyek sosial dan membina 86 unit bisnis sociopreneur.

Di bidang keberlanjutan lingkungan dan konservasi, Pertamina Foundation mendukung pengelolaan 2.939 hektare lahan untuk reforestasi, yang mencakup 2.663 hektare area terestrial dan 276 hektare area pesisir.

Dalam bidang pendidikan dan inovasi, melalui program PFprestasi dan PFsains, Pertamina Foundation mencatat telah mendukung 6.619 penerima beasiswa yang tersebar di 44–47 mitra perguruan tinggi dari Sumatra hingga Papua.

Sementara itu, di sektor inovasi energi bersih, sebanyak 36 proyek inovasi teknologi berhasil dikembangkan hingga mampu menekan emisi karbon mencapai 34.719 kilogram CO₂ per tahun. Berbagai capaian tersebut turut mengantarkan Pertamina Foundation meraih pengakuan dalam ajang APQ Award, penghargaan inovasi tertinggi di Pertamina Group.

Sejalan dengan kinerja Pertamina Foundation, Universitas Pertamina juga mencatat sejumlah capaian akademik. Universitas tersebut telah menyandang Akreditasi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) berdasarkan SK Nomor 27/SK/BAN-PT/Ak/PT/II/2026.

Pada ajang Times Higher Education (THE) Impact Rankings 2025, Universitas Pertamina menempati posisi empat besar kampus terbaik nasional untuk SDG 7, sekaligus peringkat ke-25 kampus terbaik PTN-PTS di Indonesia. Capaian tersebut melengkapi raihan Silver Medal pada Anugerah Riset SINTA Award DIKTISAINTEK 2025.

Berbagai program tersebut menggambarkan cakupan upaya Pertamina Foundation, mulai dari pemberdayaan ekonomi dan pelestarian lingkungan, hingga pendidikan dan inovasi teknologi.

Dalam bidang pendidikan, beasiswa menjadi salah satu cara untuk memperluas kesempatan bagi generasi muda yang memiliki potensi, tetapi membutuhkan dukungan agar dapat melanjutkan studi.

Di Natuna, kesempatan itu memiliki wajah dan cerita sendiri. Ada Anggi yang berusaha memenuhi harapan ayahnya, dan ada Niko yang ingin mengangkat derajat keluarganya.

Dari sebuah desa di Natuna hingga ruang kuliah di Universitas Pertamina, energi perubahan itu tumbuh melalui kesempatan pendidikan.

Bagi dua anak muda tersebut, beasiswa bukan sekedar bantuan untuk membayar kuliah, melainkan pintu menuju masa depan yang selama ini mereka perjuangkan bersama keluarga.

Dan bagi orang tua mereka, kesempatan itu membawa satu harapan sederhana, kelak, anak-anak yang mereka doakan dan perjuangkan dapat menjalani kehidupan yang lebih baik.*

*PENULIS: ALFIANA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini