Tasikmalaya, mandalapos.co.id – Suara hujan yang jatuh di atap sekolah seharusnya menjadi latar biasa bagi kegiatan belajar. Namun di SDN Bunisari, Desa Luyubakti, Kecamatan Puspahiyang, Kabupaten Tasikmalaya, bunyi hujan justru membawa rasa cemas.
Di beberapa ruang kelas, air hujan masuk melalui celah genteng dan plafon yang sudah rusak. Tetesannya jatuh ke lantai kelas, bahkan mendekati bangku tempat siswa belajar.
Kepala SDN Bunisari, Suparjo, mengaku kondisi tersebut membuat dirinya khawatir, terutama ketika hujan turun deras.
“Sebagai kepala sekolah saya merasa was-was. Kasihan kepada anak-anak. Kalau hujan, air masuk ke kelas karena tembok, kusen, dan plafon sudah banyak yang bolong,” ujarnya saat ditemui di sekolah.
Bangunan sekolah yang sudah berdiri lebih dari dua dekade itu kini mengalami berbagai kerusakan. Beberapa bagian genteng dan asbes tampak rapuh, sementara plafon di dalam ruangan sudah berlubang.
Menurut Suparjo, kerusakan tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan belajar, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan siswa.

Ia menjelaskan, terdapat tiga ruang kelas dan satu ruang kepala sekolah yang kondisinya sudah tidak layak digunakan secara optimal.
“Kalau hujan deras, kami khawatir. Jangan sampai terjadi sesuatu yang membahayakan anak-anak,” katanya.
Suparjo menuturkan, bangunan sekolah itu diperkirakan telah berdiri lebih dari 20 tahun. Ia sendiri mulai menjadi kepala sekolah sejak tahun 2015, sementara saat menjadi guru sebelumnya, bangunan tersebut sudah digunakan cukup lama.
Selama bertahun-tahun, pihak sekolah telah beberapa kali menyampaikan kondisi tersebut kepada pihak terkait.
Sekitar empat tahun lalu, tim dari instansi yang berkaitan dengan pembangunan sempat datang melakukan pendataan kondisi bangunan sekolah.
“Waktu itu ada dari PUPR yang datang mendata kondisi sekolah. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ungkapnya.
Selain mengusulkan perbaikan bangunan, pihak sekolah juga berharap adanya dukungan fasilitas teknologi untuk menunjang pembelajaran.
Menurut Suparjo, sekolah yang dipimpinnya baru menerima satu unit laptop, sementara bantuan perangkat teknologi lain seperti Chromebook yang diterima beberapa sekolah lain belum pernah didapatkan.
“Kalau bisa selain bangunan, juga ada bantuan IT untuk menunjang pembelajaran,” katanya.
Melalui kesempatan tersebut, Suparjo berharap pemerintah daerah, khususnya dinas terkait, dapat meninjau langsung kondisi sekolah yang dipimpinnya.
Ia berharap SDN Bunisari dapat dipertimbangkan untuk mendapatkan bantuan rehabilitasi bangunan agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung lebih aman dan nyaman.
“Harapan kami, pemerintah bisa turun langsung melihat kondisi sekolah kami dan mempertimbangkan bantuan rehab ruang kelas serta ruang kepala sekolah,” ujarnya.*
*YAHYA





















