Satu Tahun Aneng–Raja Bayu: Dari Ancaman Harga Pangan ke Gerakan Pasar Murah Berbasis Desa

ANAMBAS, mandalapos.co.id – Fluktuasi harga bahan pokok masih menjadi tantangan klasik daerah kepulauan. Biaya distribusi tinggi dan ketergantungan pasokan dari luar membuat masyarakat rentan terhadap lonjakan harga.

Memasuki satu tahun kepemimpinan, Bupati Kepulauan Anambas, Aneng, bersama Wakil Bupati Raja Bayu, merespons tantangan itu melalui pembukaan Gerakan Pasar Pangan Murah di Desa Kuala Maras, Kecamatan Jemaja Timur.

Sebagai wilayah kepulauan, Anambas menghadapi persoalan distribusi logistik yang terbatas, ketergantungan pasokan dari luar daerah, serta potensi lonjakan harga saat cuaca ekstrem. Situasi ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan.

Gerakan Pasar Pangan Murah tidak sekadar agenda seremonial. Program ini dirancang sebagai instrumen pengendali harga berbasis desa dengan melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai mitra distribusi. Pemerintah daerah memanfaatkan jejaring lokal agar rantai pasok lebih pendek dan biaya dapat ditekan.

Dalam sambutannya, Bupati Aneng menyampaikan apresiasi kepada dinas teknis serta Bumdes Kuala Sejahtera yang dinilai berperan menjaga stabilitas stok dan harga. Ia menegaskan bahwa peningkatan ekonomi masyarakat tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan melalui kolaborasi lintas sektor dan dukungan desa.

Pendekatan yang ditempuh mencakup intervensi harga terukur melalui pasar murah, penguatan stok lokal lewat peran BUMDes, distribusi yang lebih dekat ke masyarakat untuk menekan biaya, serta monitoring lintas OPD guna memastikan pasokan tetap aman.

Kehadiran pasar pangan murah diharapkan memberi dampak langsung berupa penekanan inflasi lokal, terjaganya daya beli warga, serta tumbuhnya kemandirian ekonomi desa. Usai pembukaan, rombongan turut meninjau Bumdes Kuala Sejahtera sebagai simpul distribusi utama, serta melanjutkan kunjungan ke Kantor Desa Bukit Padi dan Kantor TP-PKK Desa Bukit Padi sebagai bagian dari penguatan sinergi program pembangunan.

Model intervensi berbasis desa ini menunjukkan pergeseran pendekatan, dari operasi pasar jangka pendek menuju sistem distribusi yang lebih berkelanjutan. Jika konsisten dijalankan, skema tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan jangka panjang terhadap pasokan luar serta membangun ekosistem ekonomi desa yang lebih resilien.

Satu tahun kepemimpinan Aneng–Raja Bayu ditandai dengan pesan yang tegas: kebijakan harus hadir di tengah masyarakat, memastikan setiap program benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga Kepulauan Anambas. *(ADVERTORIAL)

*YAHYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini