
Mandalapos.co.id – Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga) Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menegaskan perilaku child grooming atau manipulasi psikologis yang dilakukan pelaku kekerasan seksual terhadap anak merupakan persoalan sosial yang harus ditangani secara kolektif.
“Isu ini bukan sekadar persoalan individual, melainkan persoalan sosial yang menyentuh langsung jantung ketahanan keluarga serta masa depan anak-anak dan remaja kita,” ujar Isyana saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Isyana menyebut perhatian publik terhadap praktik child grooming semakin meningkat setelah seorang aktris, Aurelie Moremans, menerbitkan buku berjudul “Broken Strings” yang berisi memoar pengalamannya menjadi korban child grooming dalam perjalanan kariernya.
Menurut Isyana, child grooming menjadi ancaman serius bagi keselamatan dan kesehatan mental anak serta remaja, terutama di tengah meluasnya ruang interaksi digital dan melemahnya fungsi perlindungan keluarga.
Ia menjelaskan, modus child grooming sering berlangsung secara tersembunyi melalui pendekatan emosional dan pembentukan relasi semu. Karena itu, praktik ini kerap sulit dikenali sejak dini, bahkan di lingkungan yang dianggap aman seperti rumah, sekolah, maupun komunitas sosial.
“Child grooming ini bentuk manipulasi yang menyasar kerentanan anak dan remaja. Kasus ini dapat dipahami sebagai sebuah proses manipulasi yang dilakukan pelaku terhadap anak dan remaja dengan tujuan mengeksploitasi korban,” katanya.
Kurangnya Komunikasi Keluarga Jadi Celah Child Grooming
Isyana menilai kerentanan terhadap child grooming semakin besar ketika komunikasi dan kelekatan emosional dalam keluarga tidak terbangun secara optimal.
Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS tahun 2022, jumlah pemuda di Indonesia diperkirakan mencapai 65,82 juta jiwa atau hampir seperempat dari total penduduk (24 persen).
Kelompok usia tersebut berada pada fase krusial pembentukan karakter, identitas diri, dan kesehatan mental, sehingga membutuhkan dukungan serta pendampingan konsisten dari lingkungan terdekat, khususnya keluarga.
Dalam konteks itu, minimnya dialog terbuka, dukungan emosional, dan keterlibatan orang tua dinilai dapat melemahkan fungsi keluarga sebagai ruang aman utama bagi remaja. Kondisi ini membuka peluang bagi pihak yang memanfaatkan kebutuhan anak akan perhatian, penerimaan, dan rasa aman.
Psikolog: Dampak Child Grooming Bisa Jangka Panjang
Sementara itu, psikolog Ferlita Sari menekankan dampak child grooming tidak hanya dirasakan saat kejadian berlangsung, tetapi bisa berlanjut dalam jangka panjang dan meninggalkan trauma mendalam.
“Dampak grooming ini bukan hanya pada saat itu terjadi, melainkan setelah kasus itu selesai, dampaknya masih ada karena sangat traumatik,” ujar Ferlita.
Ia menegaskan child grooming tidak semata-mata berkaitan dengan penggunaan gawai, melainkan bekerja pada ranah emosi dan kepercayaan anak. Pelaku biasanya membangun kedekatan emosional secara bertahap hingga korban sulit menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
*Editor: Raja Saida



















