
Natuna, mandalapos.co.id — Musim panen durian lokal di Kabupaten Natuna tengah mencapai puncaknya. Pohon-pohon durian milik masyarakat di sejumlah desa seperti Desa Ceruk dan Sebadai Ulu, Kecamatan Bunguran Timur Laut, berbuah lebat secara bersamaan. Kondisi ini memicu banjir durian lokal di pasaran.
Panen durian serentak ini disyukuri oleh para pemilik kebun maupun pedagang. Di tengah kondisi ekonomi Natuna yang sedang lesu, durian menjadi salah satu sumber penghasilan tambahan yang cukup berarti bagi masyarakat, baik pemilik pohon maupun penjual buah musiman.
Yanto, salah satu pemilik kebun durian di Desa Sebadai Ulu, mengaku bersyukur karena pohon durian di kebunnya berbuah cukup lebat tahun ini.
“Alhamdulillah, tahun ini durian banyak. Bisa membantu kebutuhan rumah tangga, apalagi kondisi ekonomi sekarang memang agak sulit,” ujarnya saat ditemui mandalapos, Selasa (13/1/2026).
Namun, melimpahnya pasokan durian dari tiga desa yang panen bersamaan berdampak pada harga jual di pasaran. Harga durian lokal terbilang murah dan terjangkau oleh masyarakat. Untuk satu ikat durian, pedagang menjual dengan harga mulai dari Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, tergantung besar kecil buah.
Meski harga turun, kondisi ini justru membawa berkah bagi pedagang olahan durian. Produk seperti selai durian dan dodol durian ikut laris manis karena bahan baku mudah didapat dengan harga murah.
Ita, salah satu pedagang olahan durian, mengaku panen durian kali ini memberikan keuntungan tersendiri bagi usahanya.
“Durian murah, jadi biaya produksi lebih ringan. Untungnya lumayan, apalagi permintaan selai dan dodol juga meningkat,” ungkapnya.
Banjir durian lokal ini menjadi gambaran bagaimana hasil alam Natuna masih menjadi penopang ekonomi masyarakat. Meski harga jual rendah, keberlimpahan panen tetap membawa harapan dan rezeki bagi banyak warga di Bunguran Timur Laut.*
*Zubadri



















