
Mandalapos.co.id, Anambas – Pasokan pangan selalu menjadi perhatian pemerintah jelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Sebab, tingginya permintaan pasar saat momen tersebut dapat menyebabkan kenaikan harga.
Sayangnya, pasokan bahan pangan ke Kabupaten Kepulauan Anambas sebagai daerah perbatasan NKRI, justru terkendala dalam pengangkutannya.
Seperti yang dirasakan K (33) salah satu pedagang sayuran di Pasar Inpres Tarempa, yang mendapat kesulitan untuk mendatangkan barang dagangannya ke Kabupaten Kepulauan Anambas.
Untuk diketahui, bahan pokok serta barang komoditas pangan di Kepulauan Anambas selama ini masih mengandalkan pasokan dari luar daerah. Lancarnya akses transportasi pun menjadi faktor terpenting, untuk menjaga stok bahan pangan di beranda depan RI ini agar tetap terjaga.
Kapal laut, menjadi moda transportasi unggulan para pedagang untuk mengantarkan bahan pangan ke Kepulauan Anambas.
Ditemui awak media pada Sabtu (17/12). K menceritakan bahwa barang dagangannya berupa cabai dan sayuran lainnya harus tertahan di pelabuhan Kota Batam, lantaran tidak bisa diangkut oleh kapal penumpang MV Seven Star Island.
Menurut K, alasan kru kapal tak mengangkut barangnya karena kapal tak diizinkan menaikan barang lagi oleh Syahbandar setempat.
“Orang yang belanjakan kita di sana katanya tidak bisa memuat, karena barang penumpang banyak,” sebut K.
K tak sendirian, ia mengungkapkan banyak barang pedagang lainnya di anambas yang juga tidak dapat diangkut oleh kapal tersebut.
Dirinya pun mengeluh, lantaran kejadian serupa sudah sering terjadi, bahkan sudah empat kali ia rasakan.
“Sering seperti ini. Saya kalau bulan kemarin sudah banyak kerugian. Mobil dah dicarter, buruh angkut sudah bayar, akhirnya itu barang kita bawa lagi ke Pinang di gudang kawan kita numpang,” ujarnya.
K pun tidak mempermasalahkan jika kapal tersebut mengutamakan barang penumpang. Hanya saja, ia ingin manajemen kapal MV. Seven Star Island bisa berlaku adil untuk mengakut barang di luar barang penumpang.
“Naikanlah (angkut) barang pedagang ni, nanti barang dagangan di sini (Anambas) mahal yang disalahkan pedagang, padahal modal ke sini juga mahal. Sama-sama naikanlah, kan kami sama-sama bayar, bukan ga dibayar,” ucapnya kesal.
Dijumpai terpisah, Kru Kapal MV.Seven Star Island, mengatakan sebagai crew kapal dirinya hanya mengikuti arahan dari syahbandar sebagai otoritas pelabuhan setempat.
“Syahbandar tidak mengijinkan lagi kita menaikan barang, kita sudah ditegur. Jadi kita hanya membawa yang bisa saja pak,” tutur kru kapal yang enggan menyebutkan namanya di Pelabuhan Tarempa, Sabtu (17/12) malam.
Dirinya pun menepis dugaan pilih kasih terhadap barang yang akan diangkut kapalnya. Kru kapal tersebut juga menyarankan agar awak media menghubungi agen MV. Seven Star yang ada di Batam.
“Langsung ke agen saja pak yang di Batam. Kalau orang sana tak mengijinkan lagi, kami tak bisa lagi, karena patokannya syahbandar. Sistim kerja agen kami tidak tau, kita orang kapal aja,” katanya.
Pantauan mandalapos saat proses bongkar muat barang kapal penumpang MV. Seven Star Island, terlihat tumpukan barang di dalam karung dan kardus memenuhi area Pelabuhan Tarempa.
Diduga, barang tersebut adalah barang dari marketplace online yang dikirim melalui jasa logistik. Hal itu terlihat jelas di karung-karung yang bertuliskan nama jasa logistik.
Hingga berita ini diterbitkan, mandalapos masih berupaya mendapatkan kontak agen MV. Seven Star Island di Kota Batam.
***Laporan: YAHYA























