Tasikmalaya, Mandalapos.co.id – Pagi itu, Senin (13/4/2026), suasana di lapangan SD Negeri Cipatangga, Desa Puspasari, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya terasa berbeda. Upacara bendera tetap berlangsung, namun barisan guru tampak tak seperti biasanya.
Di tengah deretan siswa yang berdiri rapi, hanya sekitar dua guru yang hadir tepat waktu. Sementara itu, beberapa guru lainnya belum terlihat saat upacara dimulai. Sosok Kepala Sekolah, Pak Ade. R., juga belum tampak di lokasi saat upacara berlangsung.
Waktu berjalan, upacara tetap dilaksanakan di tengah keterbatasan kehadiran tenaga pengajar. Tak lama setelah itu, guru-guru mulai berdatangan satu per satu. Kepala sekolah pun akhirnya tiba, namun tidak menuju lapangan, melainkan langsung masuk ke ruang kelas.
Setibanya di sekolah, Pak Ade. R. memilih langsung mengajar, mengisi kekosongan guru yang ada saat itu. Ia mengakui datang terlambat. Dalam keterangannya, ia menyebut sebelumnya sempat mengalami sakit selama kurang lebih satu minggu.
Selain itu, pada pagi hari yang sama, ia juga harus melakukan koordinasi kegiatan siswa ke luar sekolah, yang menyebabkan dirinya tidak dapat mengikuti upacara sejak awal.
Kondisi keterlambatan juga terjadi pada sejumlah guru lainnya. Beberapa di antaranya datang tidak tepat waktu dengan alasan keperluan pribadi maupun urusan keluarga.
Menurut Pak Ade. R., hal tersebut masih bisa dimaklumi selama ada alasan mendesak. Namun, ia menegaskan bahwa keterlambatan bukanlah kondisi yang seharusnya terjadi secara terus-menerus, terutama pada momen penting seperti upacara hari Senin.
Upacara bukan sekadar rutinitas mingguan, tetapi juga menjadi bagian dari pembentukan disiplin dan keteladanan di lingkungan sekolah. Kehadiran guru secara lengkap dinilai penting sebagai contoh bagi siswa.
Pagi itu, upacara tetap berjalan dan bendera tetap dikibarkan. Namun, kondisi yang terjadi menjadi catatan tersendiri terkait pentingnya kedisiplinan dan kehadiran di lingkungan pendidikan.*
*YAHYA




















