Senja Kala Kota Tua Penagi Natuna

121
Kota Tua Penagi Natuna (foto : fian/mandalapos)

Mandalapos.co.id, Natuna- Gadis-gadis remaja terlihat asyik berfoto ria. Berlatar belakang gapura Kota Tua Penagi, yang terletak di Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, pada Minggu (15/8).

Setelah puas mengambil beberapa foto, para gadis itu beranjak pergi, menaiki sepeda motornya, terlihat menuju ke Pelabuhan Tanjung Payung, persis berada di sebelah barat perkampungan ini.

Kota Tua Penagi, adalah sebuah kawasan permukiman yang terletak sekitar tujuh kilometer dari Ranai, Ibu Kota Kabupaten Natuna.

Jangan membayangkan Penagi seperti Kota Tua Jakarta ataupun Kota Lama Semarang dengan banyak gedung besar eksotis peninggalan kolonial Belanda.

Karena di kota tua ini hanya ada pemandangan rumah panggung berbahan kayu  diatas laut dan aktivitas warga seperti perkampungan kebanyakan.

Sekedar tempat untuk berfoto, itulah kondisi penagi kini. Tak banyak anak muda Natuna mengetahui keistimewaan perkampungan yang dihuni kurang lebih 150 keluarga itu.

Hanya para orang tua asli Natuna kelahiran tahun 90-an saja lah, yang mengetahui sejarah, betapa pentingnya perkampungan kecil di ujung landasan Bandara Raden Sadjad ini.

Mendalami seluk beluk kampung penagi, mandalapos pun menghimpun berbagai sumber baik dari tokoh di Penagi maupun referensi lainnya.

Konon, jauh sebelum kemerdekaan RI, Pelabuhan Penagi merupakan pintu masuk ke Pulau Bunguran. Kapal-kapal dagang yang melintas Laut China Selatan, akan singgah ke Penagi sebelum melanjutkan perjalanan ke kawasan lain.

Seiring waktu, perkampungan nelayan ini makin ramai tidak hanya dihuni orang Melayu sebagai suku asli Pulau Bunguran, tetapi juga warga China yang datang dengan kapal “toa ko” (kapal besar) dari China daratan.

“Itulah asal mula banyak warga tionghoa di Penagi,” tutur Ronny Kambey, masyarakat asli penagi ditemui mandalapos belum lama ini.

Kini menurut Ronny, kondisi Penagi jauh berubah. Hal ini terjadi seiring dengan terbentuknya Kabupaten Natuna tahun 1999 dengan ibukota Ranai. Perlahan tapi pasti, terjadi pergeseran pusat ekonomi dari Penagi ke Ranai sebagai ibukota Kabupaten Natuna.

Yang tersisa sekarang kata Ronny, hanya kenangan kejayaan penagi di masa lampau.

Meski demikian masih ada yang menarik lainnya di ‘Kota Tua Penagi’, yakni Kelenteng Pu Tek Chi dan Surau Al Mukoramah yang berdiri berdampingan hanya terbatas sebuah dinding. Kedua bangunan ibadah itu sekaligus menjadi simbol kerukunan masyarakat Penagi yang telah lama terjalin.

Kelenteng Pu Tek Chi dan Surau Al Mukoramah yang berdiri berdampingan hanya terbatas sebuah dinding (foto:ist)

Kendati bersebelahan, tidak pernah terdengar umat Kong Hu Chu yang terganggu dengan suara azan, ataupun muslim di sebelahnya yang terganggu dengan hiruk pikuk klenteng. Sebuah toleransi umat beragama yang patut diapresiasi setinggi-tingginya.

“Kalau ada isu perselisihan kita berembuk tokoh masyarakat dan aparat lingkungan. Bentrok terjadi karena kita tidak antisipasi. Makanya kalau ada isu sedikit kita langsung action, ” ujar Ronny, ‘membocorkan’ tips menjaga kerukunan di Kampung Penagi.

Alasan keamanan warga setempat, juga pernah membuat Kampung Penagi sempat diusulkan untuk di relokasi. Pasalnya, kampung ini persis berada di ujung landasan sebelah selatan Bandara Raden Sadjad, sehingga dikhawatirkan terjadi hal tak diinginkan.

Namun pria kelahiran tahun 1952 ini dengan lantang menolak. Bagi ia dan warga lainnya, Kampung Penagi merupakan harta tak ternilai dan bersejarah bagi kehidupan mereka.

Ditanya apa harapannya bagi Penagi, Ronny hanya meminta Pemerintah Daerah Natuna, bantu menjaga sejarah Penagi dan menghidupkan perekonomian kampung tua ini.

***Alfian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here